1. Beranda
  2. Ekonomi

AEF 2022; Bank Indonesia Sebut Perekonomian Aceh Tumbuh Tinggi

Oleh ,

Lebih lanjut, Kepala Perwakilan BI Aceh menyampaikan bahwa saat ini masih terdapat defisit neraca perdagangan antar daerah di Provinsi Aceh. Secara tren, angka defisit neraca perdagangan antar daerah di Aceh selalu meningkat sampai dengan puncaknya pada tahun 2020 yang tercatat sekitar Rp44 triliun. Angka tersebut mengalami penurunan di tahun 2021 yang tercatat Rp35,7 triliun.

"Defisit neraca perdagangan sebagian besar disebabkan oleh pembelian barang-barang yang tidak dapat diproduksi di Aceh seperti kendaraan bermotor, spare part, bahan bakar. Selain itu, terdapat beberapa komoditas yang juga mengalami defisit meskipun dapat diproduksi di Aceh seperti komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras," terangnya.

Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan seluruh stakeholders untuk meningkatkan produksi komoditas yang masih defisit yang dapat diproduksi di Aceh agar dapat memperkecil defisit neraca perdagangan antar daerah.

Baca Juga: Lewat WUBI Bank Indonesia Optimis Kembangkan Ekonomi Syariah

Selain pemaparan tentang kondisi ekonomi terkini, dalam AEF juga disampaikan mengenai hasil penelitian Komoditas/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Provinsi Aceh pada tahun 2021. Penelitian tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh dengan Berka Semi Strategika yang dilaksanakan pada tahun 2021.

Dalam diseminasinya, M. Karebet Wijajakusuma, MA menyampaikan bahwa KPJU disusun di seluruh Kota/Kabupaten mulai dari tingkat Kecamatan hingga tingkat Provinsi dengan mendasarkan informasi dari narasumber ahli, dan dilakukan pembobotan per sektor lapangan usaha.

Berdasarkan hasil penelitian KPJU tahun 2021, berikut 5 peringkat teratas komoditas unggulan di Provinsi Aceh: (1) padi; (2) makanan/kue khas Aceh; (3) toko sembako; (4) toko kelontong; dan (5) kelapa sawit.

Baca Juga