1. Beranda
  2. Wisata

Alquran Wangi 700 Tahun di Aceh Barat, Warisan Religi yang Sarat Sejarah dan Misteri

Oleh ,

KOALISI.co - Di pedalaman Kabupaten Aceh Barat, tepatnya di Desa Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, tersimpan sebuah mushaf Alquran kuno yang usianya diperkirakan telah mencapai sekitar 700 tahun. Keunikan utama dari mushaf ini terletak pada aromanya yang tetap harum hingga kini, sehingga dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Alquran wangi”.

Keberadaan Alquran ini menjadi daya tarik tersendiri, bukan hanya bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagi peneliti dan wisatawan religi. Meski telah melewati perjalanan waktu selama berabad-abad, aroma khas yang keluar dari lembarannya masih terasa, bahkan hingga saat ini belum ada penjelasan ilmiah yang pasti mengenai penyebabnya.

Beberapa peneliti yang pernah melakukan kajian terhadap mushaf tersebut mengaku belum mampu memastikan bahan atau teknik yang membuat Alquran ini tetap mengeluarkan wangi alami. Hal ini semakin menambah nilai misteri sekaligus kekaguman terhadap peninggalan bersejarah tersebut.

Baca Juga: Motif Bungong Ue, Identitas Kain Khas Sabang yang Sarat Makna Budaya Pesisir

Tidak hanya dikenal karena aromanya, Alquran wangi ini juga menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Nusantara. Mushaf tersebut diyakini berasal dari Timur Tengah dan dibawa oleh seorang ulama besar, Syekh Maulana Malik Ibrahim, sekitar abad ke-13. Dalam perjalanan dakwahnya, Alquran ini kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga akhirnya berada di wilayah Aceh Barat.

Secara fisik, ukuran mushaf ini tergolong sedang, dengan panjang sekitar 25 sentimeter dan lebar 20 sentimeter. Meski tidak terlalu besar, isinya lengkap mencakup 30 juz Alquran. Setiap halaman ditulis dengan tangan, menunjukkan ketekunan dan dedikasi ulama masa lampau dalam menjaga serta menyebarkan ajaran Islam.

Selain nilai sejarah dan keunikannya, Alquran ini juga diselimuti berbagai kisah spiritual yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu cerita yang kerap terdengar adalah tentang orang-orang yang bersumpah menggunakan mushaf tersebut dan kemudian mendapatkan konsekuensi ketika melanggarnya. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, narasi ini semakin memperkuat aura sakral yang melekat pada Alquran wangi tersebut.

Prasasti sejarah Alquran wangi Panton Reu di Aceh Barat yang menjelaskan asal-usul, perjalanan, serta warisan mushaf kuno berusia ratusan tahun tersebut. dok. Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaningrum.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaningrum, menyampaikan bahwa keberadaan Alquran wangi ini merupakan aset budaya dan religi yang sangat berharga bagi daerah. Menurutnya, nilai yang terkandung dalam mushaf tersebut tidak hanya terletak pada usia dan keunikannya, tetapi juga pada pesan sejarah yang dibawanya.

“Alquran wangi ini bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga simbol perjalanan panjang penyebaran Islam di Aceh Barat. Ini menjadi warisan yang harus kita jaga dan kenalkan kepada generasi muda,” ujar Puja Rahma Kusumaningrum kepada KOALISI.co, Rabu (22/4/2026).

Ia juga menambahkan bahwa potensi wisata religi di Aceh Barat masih sangat besar untuk dikembangkan, termasuk melalui keberadaan Alquran wangi yang unik ini. Menurutnya, wisata berbasis sejarah dan religi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda.

Baca Juga: Pesona Agrowisata Kopi Gayo di Aceh Tengah, Surga Healing di Dataran Tinggi dengan Aroma Mendunia

“Banyak wisatawan yang tertarik dengan hal-hal yang memiliki nilai sejarah dan spiritual. Alquran wangi ini memiliki keduanya, sehingga bisa menjadi daya tarik unggulan jika dikelola dengan baik,” katanya.

Saat ini, mushaf Alquran wangi tersebut masih dijaga dan dirawat oleh masyarakat setempat. Keberadaannya juga mulai diperkenalkan kepada publik melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), yang menjadi momen penting untuk mengenalkan warisan ini kepada khalayak luas.

Meski belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Aceh, perlahan namun pasti Alquran wangi mulai dikenal oleh masyarakat luar daerah. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk melihat langsung, tetapi juga merasakan suasana spiritual yang kental di lokasi tersebut.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaningrum saat mengunjungi dan melihat langsung Alquran wangi di Panton Reu, Aceh Barat, sebagai bagian dari upaya mengenalkan wisata religi dan warisan sejarah daerah.

Lebih dari sekadar benda kuno, Alquran wangi ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga hidup di tengah masyarakat. Aroma yang tetap terjaga selama ratusan tahun seolah menjadi simbol bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran juga tidak pernah pudar oleh waktu.

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, keberadaan Alquran wangi di Panton Reu menjadi oase ketenangan. Ia hadir sebagai saksi bisu perjalanan sejarah, menyimpan cerita yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat Aceh Barat, mushaf ini bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas yang harus dijaga. Dengan perawatan yang baik serta promosi yang tepat, Alquran wangi berpotensi menjadi salah satu ikon wisata religi unggulan di daerah tersebut.

Baca Juga: Masjid Putih Lhoksukon Jadi Ikon Baru Wisata Religi Aceh Utara yang Megah dan Modern

Kehadirannya mengajarkan bahwa warisan budaya dan religi memiliki nilai yang tidak ternilai, bukan hanya dari segi sejarah, tetapi juga dari makna yang terkandung di dalamnya. Alquran wangi dari Desa Mugo Rayeuk menjadi bukti nyata bahwa keajaiban masa lalu masih dapat dirasakan hingga hari ini.

Baca Juga