1. Beranda
  2. Foliopini

Anies dan Retorikanya

Oleh ,

Terlepas dari berbagai disclaimer yang muncul kemudian, namun pada saat debat ini berlangsung, Anies dengan elegan mampu menangkis serangan lawan dengan baik; dan Capres No. Urut 2 malah menjadi blunder, karena terkesan impropmptu dan spontanitas saja.

Ketiga, Kemampuan Menciptakan Suatu Suasana. Keterampilan memengaruhi komunikan (pathos) ini terlihat pada saat 4 menit pertama Anies memaparkan visi dan misinya, “Kita menyaksikan hari-hari ini ketika penyelenggaraan pemerintah tidak sesuai dengan prinsip hukum yang dipegang, perubahan harus dikembalikan ini ke negara hukum bukan kekuasaan… Tapi banyak aturan ditekuk oleh pemegang kekuasaan, ini harus diubah harus dikembalikan”.

Dari kalimat tersebut dan kalimat-kalimat serupa lainnya, terlihat Anies banyak menggunakan semantik jenis antonim kata, seperti: Negara Hukum vs Negara Kekuasaan; Diteruskan vs Diubah; Hukum Tajam ke Bawah vs Hukum Tumpul ke Atas; Kelompok Prestige vs Kelompok Marjinal; Keadilan vs Ketidakadilan; serta Wakanda No More vs Indonesia Forever.

Lagi-lagi terlepas dari berbagai fact check yang kemudian beredar belakangan. Pada saat debat ini berlangsung, Anies mampu mempersuasif khalayak dengan isu dan contoh ketidakadilan yang memang ‘dekat’ dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pun, Anies diuntungkan dengan posisinya yang mengusung tagline ‘Perubahan’.

Lantas, dengan keterampilan Anies dalam mengontrol gestur, pemilihan kata yang tepat nan teratur, dan juga artikulasi dan penekanan nada bicara yang jelas, tenang sekaligus tegas, maka desakan untuk ‘Perubahan’ yang dibicarakannya itu seakan kian nyata untuk segera diwujudkan.

Program acara debat yang diusung KPU itu, dan yang membuat kita bersatu untuk menontonnya ini, pada akhirnya adalah ajang penyampaian gagasan. Tak peduli siapa yang mengatakan, sebab subtansi isi pesan dan teknik penyampaian yang paling tersusunlah yang akan menentukan.

Dapat dikatakan, semakin tinggi tingkat proksimitas dan urgensi topik dengan keseharian masyarakatlah, yang akan mampu menarik perhatian mereka, untuk kemudian memahami siapa yang benar-benar harus mereka pilih pada Rabu, 14 Februari 2024 mendatang.

Pada akhirnya, dari Anies dan retorikanya pun kita belajar, bahwa tidak perlu sampai berteriak untuk menunjukkan kita benar. Melainkan cukup dengan benar-benar menunjukkan kebenaran itu.

Pada akhirnya, jual-beli pukulan dan tukar-menukar pukulan, baik dengan perhitungan, asal-asalan ataupun main aman tidak hanya terjadi di ring tinju, melainkan kini juga tersaji dalam format debat Capres 2024. Tentu sangat menarik untuk terus disimak!

Baca Juga