1. Beranda
  2. Wisata

Dari Api dan Baja, Utoh Ishak Jaga Tradisi Pembuatan Rencong Aceh di Aceh Utara

Oleh ,

KOALISI.co - Di sebuah sudut sederhana di Desa Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara, dentuman palu yang berirama masih terdengar memecah pagi. Suara itu berasal dari sebuah bengkel tradisional beratap daun rumbia dan bertiang kayu, tempat seorang pengrajin terakhir menjaga warisan budaya Aceh yang nyaris hilang ditelan zaman.

Dari bengkel itulah, Utoh Ishak, atau yang memiliki nama asli Ishak Abdullah, terus menempa besi menjadi rencong—senjata tradisional yang sarat makna dan menjadi simbol kehormatan masyarakat Aceh. Meski zaman telah berubah dan teknologi semakin maju, ia tetap setia pada cara-cara lama yang diwariskan secara turun-temurun.

“Pandai besi banyak, tapi pandai rencong sisa saya. Sekarang saya sudah mengajari anak laki-laki saya, dan dia sudah bisa. Mungkin dia penerus saya nanti,” ujar Utoh Ishak, saat ditemui Agam Inong Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina dan Nursyifa, kepada KOALISI.co Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Makam Sultanah Nahrasiyah di Aceh Utara, Warisan Sejarah Islam yang Memikat Asia Tenggara

Sejak tahun 1983, ia telah mengabdikan hidupnya pada profesi ini. Keahlian tersebut bukan didapat secara instan, melainkan diwarisi dari garis keluarga—ayah, nenek, hingga leluhur sebelumnya. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas keluarga sekaligus cerminan budaya masyarakat Aceh yang kuat akan nilai sejarah dan spiritualitas.

Setiap bilah rencong yang dihasilkan tidak sekadar benda tajam. Di dalamnya terkandung filosofi mendalam. Bentuknya yang menyerupai kaligrafi Bismillah mencerminkan hubungan erat antara budaya dan nilai religius dalam kehidupan masyarakat Aceh. Hal ini menjadikan rencong bukan hanya senjata, tetapi juga simbol spiritual dan kehormatan.

Namun, proses pembuatannya bukan perkara mudah. Dalam satu hari, Utoh Ishak biasanya hanya mampu menyelesaikan satu bilah rencong berukuran standar. Untuk ukuran yang lebih besar dan detail yang lebih rumit, pengerjaan bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu.

Utoh Ishak terlihat sedang menempa besi panas menjadi rencong di bengkel tradisionalnya di Desa Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. dok Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina.

“Yang bikin senjata tajam banyak, tapi yang bikin rencong itu susah,” katanya.

Proses pembuatan dimulai dari pemanasan besi hingga membara, kemudian ditempa berulang-ulang hingga membentuk lekukan khas rencong. Setelah itu, logam didinginkan dalam air, menghasilkan suara desis yang menjadi ciri khas bengkel tradisional. Tahapan ini membutuhkan ketelitian tinggi, kekuatan fisik, serta kesabaran yang tidak semua orang mampu menjalaninya.

Sebelum pandemi Covid-19, karya Utoh Ishak bahkan sempat menembus pasar internasional. Pesanan datang dari luar negeri sebagai koleksi maupun cendera mata khas Aceh. Namun setelah pandemi, permintaan menurun drastis. Kini, rencong lebih sering dibeli sebagai souvenir, hadiah, atau koleksi pribadi.

Baca Juga: Kuah Ie Laot Seunudon, Kuliner Unik Aceh Utara yang Dimasak dengan Air Laut

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp3 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Meski demikian, nilai sesungguhnya dari rencong jauh melampaui angka tersebut, karena ia menyimpan nilai sejarah dan identitas budaya yang tak ternilai.

Rencong sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Namun, pengakuan tersebut belum cukup menjamin keberlanjutan tradisi ini jika tidak diiringi dengan regenerasi.

Kini, harapan besar tertumpu pada generasi berikutnya, khususnya anak laki-laki Utoh Ishak yang telah mulai belajar dan memahami teknik pembuatan rencong. Di tengah minimnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional, kehadiran satu penerus menjadi sangat berarti.

Hasil kerajinan rencong Aceh yang telah selesai ditempa, menampilkan keindahan bentuk khas dengan nilai seni dan filosofi budaya yang tinggi sebagai simbol kehormatan masyarakat Aceh. dok Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina, menilai bahwa tradisi ini harus terus dijaga agar tidak punah. Ia menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan warisan budaya.

“Saya berharap akan ada regenerasi yang terus berlanjut, sehingga kerajinan rencong tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan budaya Aceh,” ujarnya.

Menurut Muqsal, potensi rencong tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai daya tarik wisata. Dengan pengelolaan yang tepat, kerajinan ini bisa menjadi bagian dari wisata edukasi budaya di Aceh Utara, di mana wisatawan dapat melihat langsung proses pembuatan rencong secara tradisional.

Baca Juga: Takengon Aceh Tengah, Kota Dingin dengan Pesona Alam, Kopi Gayo, dan Budaya yang Memikat

Selain itu, dukungan dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan, baik dalam bentuk promosi, pelatihan, maupun perlindungan terhadap pengrajin lokal. Tanpa dukungan tersebut, tradisi yang telah bertahan puluhan bahkan ratusan tahun ini berisiko hilang perlahan.

Utoh Ishak sendiri menyimpan harapan sederhana. Ia ingin keahlian yang dimilikinya tidak berhenti di tangannya. Ia berharap anaknya dapat melanjutkan tradisi ini, bahkan mengembangkannya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Di bengkel kecil yang jauh dari kesan modern itu, api masih terus menyala. Dentuman palu masih terdengar, menandakan bahwa tradisi belum benar-benar padam.

Baca Juga: Jejak Benteng Perang di Sabang, Wisata Sejarah Kota 1000 Benteng yang Sarat Makna

Lebih dari sekadar membentuk besi, Utoh Ishak sejatinya sedang menjaga sebuah warisan. Ia tidak hanya menempa logam menjadi rencong, tetapi juga menjaga identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Aceh agar tetap hidup di masa depan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijaga dan diwariskan. Dari api dan baja di Tanah Pasir, sebuah cerita tentang ketahanan tradisi terus dituliskan—satu bilah rencong dalam satu waktu.

Baca Juga