DPKA Aceh Bertransformasi Jadi Ruang Tumbuh Generasi, Perpustakaan Modern yang Melahirkan Inovasi

KOALISI.co – Perpustakaan kini tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat menyimpan buku. Seiring perkembangan zaman, fungsinya terus berkembang menjadi ruang belajar, berdiskusi, berkolaborasi, hingga melahirkan berbagai ide dan inovasi. Perubahan tersebut terlihat nyata di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) yang menghadirkan konsep perpustakaan modern sebagai pusat literasi sekaligus ruang pengembangan kapasitas masyarakat.
Transformasi ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Aceh dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan budaya literasi. Berbagai fasilitas dan layanan terus dikembangkan agar perpustakaan mampu menjadi ruang publik yang inklusif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memberikan manfaat nyata bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum.
Kini, Gedung DPKA Aceh menjadi salah satu pusat aktivitas literasi yang ramai dikunjungi setiap hari. Berbagai kalangan memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk membaca, mengerjakan tugas, melakukan penelitian, mengikuti pelatihan, hingga berdiskusi dan mengembangkan berbagai karya kreatif.
Baca Juga: DPKA Aceh Hadirkan Ruang Baca Ramah Anak, Tumbuhkan Minat Literasi Sejak Usia Dini
Suasana perpustakaan pun berubah menjadi lebih dinamis. Tidak hanya menghadirkan koleksi buku yang lengkap, DPKA juga menyediakan berbagai ruang belajar dan kolaborasi yang mendukung lahirnya ide, kreativitas, serta inovasi di tengah masyarakat.
Konsep tersebut merupakan implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, yakni pendekatan yang menempatkan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan akses informasi, pendidikan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan potensi diri.
Melalui konsep ini, setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meningkatkan kompetensi, dan memperluas wawasan sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman.
Baca Juga: DPKA Menyelamatkan Warisan Sejarah Aceh
Coworking Space Jadi Favorit Anak Muda
Salah satu fasilitas yang paling diminati adalah coworking space di lantai dua Gedung DPKA. Ruangan ini dirancang dengan konsep terbuka, nyaman, dan modern sehingga menjadi tempat favorit mahasiswa maupun komunitas kreatif.
Didukung jaringan internet berkecepatan tinggi, meja diskusi yang representatif, serta suasana yang kondusif, area tersebut hampir setiap hari dipenuhi mahasiswa yang mengerjakan skripsi, komunitas yang menggelar diskusi, hingga pegiat ekonomi kreatif yang mengembangkan berbagai gagasan baru.
Perpustakaan pun berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai latar belakang untuk saling bertukar ide dan pengalaman.
Baca Juga: iPustakaAceh Permudah Akses Ribuan Buku Digital, DPKA Perkuat Budaya Literasi di Era Digital
Ruang Ramah Anak Bangun Budaya Membaca
Transformasi layanan juga menyasar anak-anak melalui Kid's Corner atau Ruang Baca Ramah Anak yang dirancang dengan konsep ceria, aman, dan edukatif.
Di ruang tersebut, anak-anak diajak mengenal dunia literasi melalui kegiatan membaca bersama, mendongeng (story telling), permainan edukatif, hingga pemutaran film pendidikan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap buku sekaligus membentuk karakter anak sejak usia dini.
Baca Juga: DPKA Aceh Lestarikan Warisan Budaya Lewat Program Dino, Naskah Kuno Kini Bisa Diakses Secara Digital
Bagi DPKA, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga proses membangun karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan menyelesaikan persoalan.
Karena itu, perpustakaan terus menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Perkuat Literasi Digital
Pesatnya arus informasi melalui media digital menuntut masyarakat memiliki kemampuan memilah informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menjawab kebutuhan tersebut, DPKA secara rutin menyelenggarakan pelatihan, seminar, lokakarya, hingga diskusi publik mengenai literasi digital.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, dibekali kemampuan mengenali informasi yang valid, memahami etika bermedia sosial, berpikir kritis, sekaligus menghasilkan konten digital yang edukatif.
Sekretaris DPKA Aceh, Zulkifli, mengatakan pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya.
"Tanpa karakter yang kuat dan pemahaman terhadap nilai-nilai keacehan, kecerdasan bisa kehilangan arah. Karena itu kami menghadirkan Aceh Corner agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya di tengah arus globalisasi," ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Melalui Aceh Corner, DPKA menghadirkan ruang khusus yang menyimpan berbagai koleksi mengenai sejarah, budaya, adat istiadat, bahasa, sastra, hingga tokoh-tokoh penting Aceh.
Koleksi tersebut menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan sejarah daerah sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap identitas budaya Aceh.
Bangun Karakter dan Kolaborasi
Selain menjadi pusat informasi, perpustakaan juga berperan sebagai ruang pembentukan karakter masyarakat.
Budaya antre, menjaga ketenangan, menghargai hak pengguna lain, menjaga kebersihan fasilitas umum, hingga bertanggung jawab terhadap buku yang dipinjam menjadi nilai-nilai yang tumbuh secara alami dalam aktivitas sehari-hari di perpustakaan.
DPKA juga membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai komunitas untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Aula, ruang diskusi, hingga area belajar rutin digunakan komunitas literasi, klub film, pegiat sejarah, komunitas menulis, serta organisasi kepemudaan dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan.
Interaksi tersebut menciptakan ekosistem belajar yang sehat dan dinamis, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi di kalangan masyarakat.
Andin, mahasiswa Universitas Syiah Kuala, mengaku hampir setiap pekan datang ke DPKA untuk belajar dan mengikuti berbagai kegiatan komunitas.
"Di sini bukan cuma tempat membaca buku. Saya bisa bertemu banyak orang, berdiskusi, belajar berorganisasi, bahkan membangun relasi. Ini benar-benar ruang tumbuh bagi anak muda," katanya.
Layanan Digital Semakin Mudah
Selain menghadirkan koleksi buku cetak yang terus diperbarui setiap tahun, DPKA juga mengembangkan layanan perpustakaan digital melalui aplikasi iPustakaAceh.
Aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat mengakses ribuan buku elektronik kapan saja dan di mana saja hanya menggunakan telepon pintar.
Kehadiran layanan digital menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu maupun tinggal jauh dari pusat kota.
Transformasi digital tersebut juga memperluas pemerataan akses literasi hingga ke berbagai daerah di Aceh, sehingga masyarakat memiliki kesempatan yang sama memperoleh referensi berkualitas.
Langkah ini menjadi bukti bahwa perpustakaan terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Bagi Pemerintah Aceh, pembangunan manusia menjadi investasi jangka panjang yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur. Karena itu, penguatan perpustakaan terus menjadi bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas budaya literasi, dan menciptakan ruang belajar yang inklusif.
Kini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh telah menjelma menjadi lebih dari sekadar perpustakaan. Lembaga ini hadir sebagai pusat literasi, ruang kolaborasi, laboratorium kreativitas, sekaligus tempat lahirnya berbagai gagasan dan inovasi yang mendukung pembangunan Aceh.
Melalui perpaduan layanan konvensional dan digital, DPKA terus memperkuat perannya dalam menciptakan generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan mampu bersaing di era global. Inilah wajah baru perpustakaan Aceh, sebuah ruang tumbuh yang menghubungkan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan masa depan masyarakat Aceh.




Komentar