DPKA Menyelamatkan Warisan Sejarah Aceh
KOALISI.co – Warisan sejarah merupakan aset berharga yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menyadari pentingnya hal tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) terus memperkuat upaya pelestarian arsip, manuskrip kuno, serta berbagai dokumen bersejarah sebagai bagian dari identitas dan perjalanan panjang peradaban Aceh.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan koleksi sejarah yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi digital. Melalui berbagai program pelestarian, konservasi, dan digitalisasi arsip, DPKA berupaya memastikan warisan intelektual Aceh tetap terjaga sekaligus dapat diakses lebih luas oleh masyarakat, peneliti, maupun generasi muda.
Berdiri megah di Kota Banda Aceh, Gedung DPKA menjadi rumah bagi ribuan koleksi literatur, arsip, serta manuskrip kuno yang merekam perjalanan panjang Tanah Rencong. Di balik bangunan modern tersebut tersimpan kisah kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, dinamika perdagangan internasional, perkembangan ilmu pengetahuan Islam, hingga perjalanan sosial masyarakat Aceh dari masa ke masa.
Baca Juga: iPustakaAceh Permudah Akses Ribuan Buku Digital, DPKA Perkuat Budaya Literasi di Era Digital
Memasuki lantai tiga gedung perpustakaan, pengunjung akan menemukan ruang koleksi khusus Aceh yang menyimpan sekitar 500 judul buku bertema sejarah, budaya, sastra, hukum adat, agama, hingga perkembangan sosial dan politik. Seluruh koleksi tersebut menjadi sumber referensi penting bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mendalami berbagai aspek tentang Aceh.
Namun, kekayaan terbesar yang dimiliki DPKA bukan hanya koleksi bukunya. Lembaga ini juga menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi. Lembaran-lembaran tua yang ditulis tangan itu memuat berbagai catatan penting, mulai dari karya ulama, hukum adat, ilmu pengetahuan, surat diplomatik kerajaan, hingga dokumen perdagangan yang menjadi saksi hubungan Aceh dengan berbagai bangsa di dunia.
Manuskrip-manuskrip tersebut tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga menjadi bukti autentik bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam dan perdagangan dunia. Melalui naskah-naskah itu, generasi masa kini dapat memahami bagaimana masyarakat Aceh membangun sistem pemerintahan, pendidikan, perdagangan, hingga kehidupan sosial yang maju pada masanya.
Baca Juga: DPKA Aceh Lestarikan Warisan Budaya Lewat Program Dino, Naskah Kuno Kini Bisa Diakses Secara Digital
DPKA juga menghadirkan koleksi rempah-rempah sebagai bagian dari narasi sejarah Aceh. Berbagai komoditas seperti lada, pala, dan cengkih dipamerkan sebagai simbol kejayaan ekonomi Aceh yang pernah menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa untuk datang ke Nusantara.
Koleksi tersebut menjadi pengingat bahwa Aceh bukan hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena perannya dalam membentuk sejarah perdagangan dunia. Dari pelabuhan-pelabuhan di pesisir Aceh, rempah-rempah berkualitas tinggi diperdagangkan ke berbagai penjuru dunia dan menjadikan wilayah ini sebagai salah satu simpul ekonomi internasional.
Sekretaris DPKA Aceh, Zulkifli, mengatakan arsip dan manuskrip merupakan bagian penting dari identitas Aceh yang harus terus dijaga keberadaannya.
Baca Juga: SiPAPI DPKA Permudah Pengurusan Surat Bebas Pustaka, Layanan Digital Cepat dan Transparan
"Arsip dan manuskrip ini adalah DNA bangsa Aceh. Tanpanya, kita akan kehilangan identitas dan arah di masa depan," ujarnya, Senin (11/5/2026)
Menurutnya, setiap arsip menyimpan informasi penting yang menjadi fondasi dalam memahami perjalanan sejarah, kebijakan pemerintahan, kebudayaan, hingga perkembangan masyarakat Aceh dari masa ke masa.
Karena itu, DPKA tidak hanya berfokus pada penyimpanan koleksi, tetapi juga terus menghadirkan berbagai inovasi agar warisan sejarah semakin mudah dipelajari masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas akses terhadap arsip dan manuskrip, khususnya bagi generasi muda yang tumbuh di era digital.
Ruang IT Jadi Pusat Belajar dan Kolaborasi
Salah satu inovasi tersebut diwujudkan melalui penyediaan Ruang IT modern yang dilengkapi sekitar 50 unit komputer dengan akses internet. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara gratis oleh para pemustaka untuk mengakses berbagai referensi digital, jurnal ilmiah, maupun sumber informasi lainnya.
Ruang tersebut juga berkembang menjadi coworking space edukatif. Setiap hari, pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas, menyusun karya ilmiah, melakukan riset, maupun berdiskusi dalam suasana yang nyaman.
Transformasi pelayanan ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah berkembang menjadi pusat pembelajaran yang dinamis. Tidak lagi sekadar tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang kolaborasi yang mendorong lahirnya gagasan, penelitian, dan inovasi baru.
Percepat Digitalisasi Manuskrip Kuno
Di sisi lain, DPKA terus mempercepat digitalisasi arsip dan manuskrip kuno sebagai langkah pelestarian jangka panjang. Upaya ini dilakukan agar koleksi bersejarah tetap terjaga dari risiko kerusakan sekaligus dapat diakses lebih luas tanpa harus menyentuh dokumen aslinya.
Melalui proses digitalisasi, setiap manuskrip dipindai menggunakan teknologi beresolusi tinggi sehingga informasi yang terkandung di dalamnya tersimpan dalam format digital tanpa mengurangi keaslian naskah fisik. Selain memperpanjang usia koleksi, digitalisasi juga mempermudah peneliti dan masyarakat memperoleh sumber sejarah secara lebih aman dan efisien.
Bagi Aceh, pelestarian arsip memiliki makna yang sangat penting. Tragedi tsunami 26 Desember 2004 menjadi pengingat bahwa ribuan dokumen penting, arsip pemerintahan, hingga catatan sejarah dapat hilang hanya dalam hitungan menit akibat bencana.
Sejak saat itu, penguatan sistem kearsipan menjadi salah satu prioritas agar memori kolektif masyarakat Aceh tetap terjaga. Setiap arsip yang berhasil diselamatkan dan setiap manuskrip yang berhasil didigitalisasi merupakan investasi sejarah bagi generasi yang akan datang.
Sebagai bagian dari upaya memperkaya koleksi, DPKA juga aktif melakukan penelusuran manuskrip kuno yang masih tersimpan di tengah masyarakat. Selain itu, lembaga ini menerima hibah koleksi pribadi dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, hingga keluarga yang memiliki dokumen bersejarah.
Seluruh koleksi tersebut kemudian melalui proses identifikasi, konservasi, katalogisasi, hingga digitalisasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa pelestarian sejarah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Semakin banyak warisan intelektual yang berhasil dihimpun, semakin lengkap pula rekam jejak peradaban Aceh yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Kini, Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh telah berkembang menjadi lebih dari sekadar perpustakaan. Lembaga ini menjadi pusat literasi, laboratorium sejarah, ruang edukasi, sekaligus benteng pelestarian identitas Aceh.
Melalui perpaduan koleksi sejarah, manuskrip kuno, layanan digital, dan inovasi berbasis teknologi, DPKA menghadirkan wajah baru perpustakaan yang modern, inklusif, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Langkah tersebut menjadi bukti bahwa menjaga sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membangun fondasi yang kuat untuk menghadapi masa depan. Arsip, manuskrip, dan buku yang tersimpan di DPKA merupakan warisan peradaban yang akan terus menjaga jati diri Aceh agar tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

