Harga Gabah Padi di Aceh Utara Tembus Rp7.200 per Kilogram
KOALISI.co — Harga gabah padi kering di Aceh Utara kini mencapai Rp7.000 hingga Rp7.200 per kilogram. Angka tersebut dinilai menjadi harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang petani asal Kecamatan Kuta Makmur, Mulyadi (45), mengaku baru kali ini merasakan harga gabah menembus angka Rp7 ribu sejak dirinya mulai bertani.
“Saya bertani dari harga padi Rp3.500 dulu dan ini yang paling tinggi harganya mencapai Rp7 ribu lebih, tergantung kualitas padinya,” kata Mulyadi kepada KOALISI.co, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Harga Gabah Padi di Aceh Utara Naik, Segini Harganya
Menurut Mulyadi, kenaikan harga gabah diduga dipengaruhi oleh berkurangnya hasil panen di sejumlah wilayah akibat bencana banjir dan kekeringan yang menyebabkan sebagian petani tidak dapat turun ke sawah.
“Kemungkinan harga naik karena kelangkaan padi. Ada yang gagal panen akibat banjir dan ada juga beberapa kecamatan di Aceh Utara yang tidak bisa bersawah karena kekurangan air,” ujarnya.
Selain faktor produksi, persaingan antarpedagang pengumpul atau toke juga dinilai memengaruhi kenaikan harga gabah di tingkat petani.
Baca Juga: Aceh Mulai Panen Padi, Harga Gabah Kering Capai Rp6.500 per Kilogram
“Pengepulnya sekarang sudah banyak pemain baru, jadi ada persaingan harga. Kalau dulu toke pengepul hanya sekitar 10 sampai 15 orang di tiga kemukiman di Kuta Makmur, sekarang bisa lebih dari 20 orang,” katanya.
Mulyadi menjelaskan, dalam satu mah atau sekitar 1.400 meter persegi lahan sawah, petani rata-rata dapat menghasilkan sekitar 1,1 ton gabah kering atau lebih dari 20 karung ukuran 50 kilogram.
Namun, hasil panen tersebut biasanya tidak seluruhnya dijual. Sebagian disimpan untuk kebutuhan konsumsi keluarga.
Baca Juga: Harga Gabah Padi di Aceh Utara Naik, Segini Harganya
“Biasanya kami simpan sekitar lima sampai tujuh karung atau sekitar 250 sampai 350 kilogram di rumah. Selebihnya dijual untuk biaya operasional mulai dari persiapan sawah hingga panen,” jelasnya.
Ia merincikan, biaya produksi dalam satu musim tanam diantaranya pembajakan sawah, penanaman, pembelian pupuk, obat semprot, biaya panen manual maupun menggunakan mesin, hingga ongkos pengangkutan hasil panen.
“Untuk operasional itu dalam satu mah bisa menghabiskan modal sekitar Rp1,9 juta hingga Rp2 juta,” ujarnya.
Baca Juga: Kisah Sukses Warga Abdya Buka Usaha Kilang Padi Melalui Pembiayaan Bank Aceh
Dengan harga gabah saat ini, petani dapat menjual sekitar 13 hingga 15 karung gabah ukuran 50 kilogram dengan pendapatan berkisar Rp4,5 juta hingga Rp5,2 juta.
“Alhamdulillah masih ada lebih sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3 juta untuk satu mah sawah dalam empat bulan masa tanam sampai panen. Dalam setahun biasanya dua kali turun ke sawah,” kata Mulyadi.
Ia menambahkan, cadangan gabah yang disimpan di rumah umumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan beras keluarga selama masih dapat terus bercocok tanam.
Baca Juga: Ditinggal Pemilik, Kilang Padi Terbakar di Aceh Tengah
“Kalau keluarga kecil dengan lima sampai enam anggota keluarga masih cukup, kadang juga lebih,” tuturnya.
Mulyadi berharap harga gabah tetap stabil di level tinggi pada tahun-tahun mendatang agar kesejahteraan petani semakin meningkat.
“Kami berharap harga seperti ini bisa bertahan supaya petani lebih sejahtera,” pungkasnya.

