iPustakaAceh Permudah Akses Ribuan Buku Digital, DPKA Perkuat Budaya Literasi di Era Digital
KOALISI.co - Perubahan gaya hidup masyarakat di era digital turut mendorong transformasi layanan perpustakaan. Akses terhadap buku dan berbagai sumber pengetahuan kini tidak lagi bergantung pada kunjungan ke gedung perpustakaan, melainkan dapat dilakukan melalui aplikasi digital yang lebih cepat, mudah, dan fleksibel.
Menjawab perubahan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) menghadirkan iPustakaAceh, sebuah aplikasi perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses ribuan koleksi buku elektronik tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Inovasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Aceh memperluas akses literasi, sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan teknologi informasi.
Meski layanan digital terus berkembang, Gedung DPKA di Kota Banda Aceh tetap menjadi pusat aktivitas literasi yang ramai dikunjungi masyarakat. Setiap hari, sekitar 1.200 pengunjung memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari membaca buku, mengerjakan tugas sekolah dan kuliah, melakukan penelitian, hingga mencari referensi untuk pengembangan diri.
Baca Juga: DPKA Aceh Lestarikan Warisan Budaya Lewat Program Dino, Naskah Kuno Kini Bisa Diakses Secara Digital
Di lantai dua gedung perpustakaan, ratusan ribu koleksi buku tersusun rapi dan menjadi rujukan bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, maupun masyarakat umum. Beragam koleksi dari berbagai disiplin ilmu tersedia, mulai dari ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, hukum, kesehatan, teknologi, hingga literatur khusus tentang Aceh yang menjadi salah satu kekayaan intelektual perpustakaan.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan yang serba cepat dan fleksibel, DPKA terus mengembangkan sistem perpustakaan berbasis digital. Sejak diluncurkan pada akhir 2018, aplikasi iPustakaAceh menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin membaca atau meminjam buku secara daring tanpa dibatasi jarak dan waktu.
Sekretaris DPKA Aceh, Zulkifli, mengatakan kehadiran layanan digital merupakan langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.
Baca Juga: SiPAPI DPKA Permudah Pengurusan Surat Bebas Pustaka, Layanan Digital Cepat dan Transparan
"Dengan adanya e-book, pemustaka tidak harus datang ke perpustakaan untuk meminjam buku. Mereka bisa mengaksesnya dari mana saja," ujarnya.
Melalui aplikasi iPustakaAceh, masyarakat dapat menikmati belasan ribu koleksi buku digital dari berbagai kategori, mulai dari buku pelajaran, ilmu pengetahuan, sejarah, sastra, agama, ekonomi, teknologi, hingga buku pengembangan diri.
DPKA juga terus memperkaya koleksi digital tersebut. Setiap tahun sekitar 300 judul e-book baru ditambahkan melalui kerja sama dengan dua vendor penyedia layanan perpustakaan digital. Penambahan koleksi dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat selalu memperoleh bahan bacaan yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dilengkapi Fitur OPAC
Selain menyediakan layanan membaca digital, iPustakaAceh juga dilengkapi fitur Online Public Access Catalog (OPAC) yang memudahkan pengguna menelusuri koleksi perpustakaan.
Melalui fitur ini, masyarakat dapat mengetahui apakah buku yang dicari tersedia dalam bentuk digital maupun masih tersedia pada koleksi fisik perpustakaan.
Keberadaan OPAC menjadi penghubung antara layanan konvensional dan layanan digital. Pengguna tidak lagi harus datang ke perpustakaan hanya untuk memastikan ketersediaan buku karena seluruh informasi dapat diakses secara daring.
Baca Juga: Pustaka Digital DPKA Memudahkan Akses Literasi Masyarakat Aceh
Pemanfaatan teknologi informasi juga membawa perubahan besar dalam pengelolaan perpustakaan. Sistem digital membantu pencatatan statistik pengunjung, mempercepat proses sirkulasi koleksi, meningkatkan keamanan data, hingga mempermudah pengawasan terhadap ribuan koleksi yang dimiliki perpustakaan.
Menurut Zulkifli, transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi merupakan kebutuhan agar perpustakaan tetap relevan sebagai pusat pembelajaran masyarakat.
"Teknologi informasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan global. Hampir di setiap lembaga, termasuk perpustakaan, berlomba mengintegrasikan teknologi informasi untuk membangun dan memberdayakan seluruh sumber daya berbasis pengetahuan," katanya.
Koleksi Fisik Tetap Menjadi Prioritas
Meski layanan digital terus dikembangkan, DPKA tetap memberikan perhatian besar terhadap pengembangan koleksi fisik. Digitalisasi bukan berarti menggantikan buku cetak, melainkan melengkapinya agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengakses informasi. Setiap tahun DPKA menambah sekitar 500 judul buku baru untuk memperkaya koleksi perpustakaan umum.
Berbagai ruang layanan juga terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah ruang koleksi buku agama yang menyediakan beragam referensi mengenai Islam, tafsir, hadis, fikih, sejarah peradaban Islam, hingga literatur keislaman kontemporer.
Selain koleksi umum, perpustakaan juga menyimpan berbagai buku langka dan manuskrip kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi. Sebagian koleksi tersebut kini mulai didigitalisasi agar dapat diakses lebih luas melalui platform digital, termasuk melalui layanan nasional iPerpusnas.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa DPKA tidak hanya berorientasi pada peningkatan layanan, tetapi juga berkomitmen menjaga warisan intelektual Aceh agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Perpaduan antara koleksi fisik dan layanan digital menjadikan perpustakaan Aceh berkembang menjadi pusat informasi modern yang semakin inklusif. Masyarakat memiliki keleluasaan memilih cara memperoleh referensi sesuai kebutuhan, baik membaca langsung di perpustakaan maupun melalui perangkat digital dari rumah, sekolah, kampus, maupun tempat kerja.
Ke depan, DPKA menargetkan penambahan koleksi secara berkelanjutan, baik dalam bentuk buku cetak maupun digital. Pengembangan aplikasi, peningkatan kualitas layanan, serta penyempurnaan infrastruktur teknologi juga terus dilakukan agar perpustakaan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Harapannya, semakin banyak masyarakat memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar sepanjang hayat. Tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi juga menjadi tempat lahirnya ide, inovasi, penelitian, dan kreativitas yang mendukung pembangunan Aceh.
Kehadiran iPustakaAceh menjadi bukti bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan kini semakin mudah dijangkau. Masyarakat dapat membaca buku, mencari referensi akademik, maupun menambah wawasan hanya melalui telepon pintar.
Transformasi tersebut sekaligus mempertegas komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat budaya literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kemampuan membaca, memahami, dan mengolah informasi menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Melalui inovasi layanan digital yang terus dikembangkan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh membuktikan bahwa perpustakaan telah bertransformasi menjadi pusat pengetahuan yang modern, adaptif, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan iPustakaAceh, literasi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan kini hadir lebih dekat, lebih mudah diakses, dan siap menemani masyarakat Aceh kapan pun serta di mana pun sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang gemar membaca dan cakap digital.

