Jembatan Bailey Bireuen-Tamiang Ditargetkan Rampung 3 Hari Kedepan, Akses Logistik Tetap Dipacu
KOALISI.co – Pemerintah Aceh terus mempercepat penyaluran bantuan bagi seluruh kabupaten dan kota yang terkena dampak banjir dan longsor, yang disebutkan sebagai bencana terparah sepanjang masa yang pernah dirasakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir. Jumlah korban jiwa hingga saat ini masih terus bertambah, " Kata M. Nasir, Kamis (4/12/2024).
Pernyataan itu disampaikan Nasir saat menerima kunjungan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI perwakilan Aceh di Posko Komando Penanggulan Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh. "Ini bencana terparah sebab seumur hidup baru kali ini merasakan banjir terparah dan luas melanda Aceh," ungkapnya.
Kabupaten Aceh Tamiang disebut sebagai wilayah dengan dampak paling luas, dimana seluruh kota terbenam lumpur. Pemerintah Aceh bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) berkomitmen penuh untuk mengembalikan fungsi jalur lintas darat yang rusak parah, dengan fokus pada pemulihan konektivitas utama antara wilayah barat dan timur Aceh.
Baca juga: Jalur Aceh Tamiang-Medan Kembali Normal Pasca Banjir Bandang dan Longsor
"Alhamdulillah akses jalur lintas sudah tembus, distribusi logistik akan terus dipacu. Untuk jalur Bireuen – Aceh Utara, kita meminta Dinas PUPR Aceh dan BPJN agar jembatan Bailey Awe Geutah segera fungsional sebagai jalur alternatif," jelas Nasir.
Meski demikian, masih ada beberapa lokasi seperti Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Timur yang belum terjangkau darat, sehingga bantuan logistik diupayakan melalui laut – meskipun pengiriman awal melalui Kuala Idi, Aceh Timur, sempat mengalami kendala.
Wilayah tengah Aceh seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues juga terisolir, sehingga distribusi bantuan dilakukan melalui udara dengan kerja sama Kodam IM, Polda Aceh, dan BPPD. "Bantuan sudah didistribusikan melalui dropping udara maupun langsung ke wilayah terisolir," katanya.
Baca juga: Pemerintah Aceh Desak Pusat Permudah Izin Bantuan Internasional untuk Korban Bencana
Konektivitas utama yang menjadi perhatian adalah jalur Bireuen ke Banda Aceh yang putus total akibat tiga jembatan tergerus banjir. Pemerintah Aceh berencana membangun jembatan bailey Awe Geutah yang diharapkan rampung dalam tiga hari ke depan, yang akan membuka akses dari Banda Aceh ke Aceh Tamiang.
"Untuk jalan dan jembatan dari Simpang KKA ke Bener Meriah, sepanjang 42 kilometer sudah selesai dikerjakan. Kita sudah berkoordinasi dengan Bupati Bener Meriah untuk mengarahkan alat berat guna menyelesaikan jalur lintas tersebut," tambah Nasir.
Terkait komunikasi, 48 unit Starlink telah dikirim ke daerah terdampak, namun operasionalnya terhambat oleh kurangnya pasokan listrik dan BBM. Beruntung, Pertamina berkomitmen menyuplai satu ton BBM per hari melalui udara untuk mengatasi masalah ini.
Data sementara menunjukkan, bencana ini telah merusak sekitar 75.000 rumah warga. Dengan kemampuan pembangunan rumah layak huni di Aceh hanya sekitar 2.000 unit per tahun, penanganan kerusakan rumah akan membutuhkan waktu sangat lama. "Perlu perhatian pemerintah pusat sebab jika dikalikan, butuh 30 tahun rampung," tegas Nasir, menekankan perlunya dukungan anggaran dan sumber daya dari pusat untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
Sementara itu, Wakil Ketua BPK RI Dr. Budi Prijono menyampaikan simpati mendalam dan menyatakan status bencana saat ini sudah memasuki tahap darurat. "Ini menyangkut bantuan kemanusiaan, kita sampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam," ujarnya.
BPK RI berkomitmen mengoordinasikan tim inspektorat untuk membantu korban dan memberikan donasi uang tunai dari seluruh 9.000 lebih pegawai BPK RI di seluruh provinsi, yang akan dikirim secara bertahap hingga proses pemulihan selesai.(*)

