1. Beranda
  2. Wisata

Makam Sultanah Nahrasiyah di Aceh Utara, Warisan Sejarah Islam yang Memikat Asia Tenggara

Oleh ,

KOALISI.co - Di tengah ketenangan kawasan Kuta Krueng, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah besar tentang kejayaan peradaban Islam di masa lalu. Makam Sultanah Nahrasiyah bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga simbol kepemimpinan, spiritualitas, dan keindahan seni yang memikat hingga ke tingkat Asia Tenggara.

Sosok yang dimakamkan di tempat ini adalah Sultanah Nahrasiyah, seorang ratu agung dari Kerajaan Samudera Pasai yang wafat pada tahun 831 Hijriah atau 1428 Masehi. Ia merupakan putri Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, bagian dari garis keturunan penting dalam sejarah awal Islam di Nusantara.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina, menyampaikan bahwa makam ini memiliki nilai historis dan budaya yang sangat tinggi. Menurutnya, keberadaan makam Sultanah Nahrasiyah menjadi bukti nyata bahwa Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Kuah Ie Laot Seunudon, Kuliner Unik Aceh Utara yang Dimasak dengan Air Laut

“Makam Sultanah Nahrasiyah bukan hanya situs sejarah, tetapi juga cerminan jati diri masyarakat Aceh. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana peradaban Islam berkembang dengan sangat maju pada masanya,” ujarnya, kepada KOALISI.co, Rabu (15/4/2026).

Keistimewaan makam ini tidak hanya terletak pada tokoh yang dimakamkan, tetapi juga pada keindahan nisan yang menghiasinya. Nisan tersebut terbuat dari marmer berkualitas tinggi dengan ukiran kaligrafi Arab yang sangat halus dan detail. Pada permukaannya, terpahat ayat-ayat suci Al-Qur’an, khususnya dari Surah Yasin.

Ukiran tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Islam, Surah Yasin dikenal dengan berbagai sebutan, seperti Al-Mu‘immah yang berarti mencakup, Ad-Dafi‘ah yang berarti penolak bahaya, serta Al-Qadhiyah yang berarti pemenuh kebutuhan.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara berada di kawasan Makam Sultanah Nahrasiyah, menelusuri jejak sejarah dan mengenalkan warisan peradaban Islam kepada generasi muda. dok Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina.

Pemilihan Surah Yasin pada nisan tersebut mencerminkan sosok Sultanah Nahrasiyah sebagai pemimpin yang mampu melindungi rakyat, membawa kesejahteraan, dan menghadirkan keberkahan. Bahkan, Surah Yasin yang dikenal sebagai jantung Al-Qur’an memberikan makna simbolis bahwa Sultanah Nahrasiyah adalah “jantung” bagi Samudera Pasai pada masanya.

Tulisan pada nisan juga menyebutnya sebagai Al-Malikhah Al-Mu‘azzhamah, yang berarti ratu yang diagungkan. Selain itu, ia juga memiliki gelar Ra-Bakhsyah Khadyu yang menggambarkan kemurahan hati serta kebesaran jiwa seorang pemimpin perempuan di masa lalu.

Keindahan dan nilai sejarah makam ini juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sukarno Putra dari Central Information of Samudra Pasai Heritage yang menyebut makam ini sebagai salah satu yang terindah di Asia Tenggara.

Baca Juga: Jejak Benteng Perang di Sabang, Wisata Sejarah Kota 1000 Benteng yang Sarat Makna

Meski demikian, tingkat kunjungan ke situs ini masih tergolong rendah. Seorang pengunjung asal Medan, Rahma, mengungkapkan bahwa keindahan makam ini belum sepenuhnya dikenal luas oleh masyarakat.

“Tempatnya sangat keren dan bersejarah, tapi sayangnya belum banyak diketahui orang, jadi masih sepi pengunjung,” katanya.

Di tengah keheningan kompleks makam, ukiran-ukiran marmer tersebut seolah tetap “berbicara”. Ia tidak hanya menyampaikan identitas, tetapi juga pesan tentang nilai kepemimpinan, spiritualitas, dan kejayaan peradaban yang pernah berdiri kokoh di tanah Pasai.

Detail ukiran kaligrafi pada nisan Makam Sultanah Nahrasiyah yang mencerminkan nilai spiritual dan kehalusan seni pada masa Kerajaan Samudera Pasai. dok Duta Wisata Kabupaten Aceh Utara, Muqsal Mina.

Muqsal Mina menilai, situs seperti ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya tersebut.

“Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memperkenalkan situs-situs bersejarah seperti ini. Ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan identitas kita,” ujarnya.

Selain itu, pengembangan wisata berbasis sejarah seperti Makam Sultanah Nahrasiyah juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, peluang usaha lokal seperti pemandu wisata, kuliner, dan kerajinan akan ikut berkembang.

Baca Juga: Ujong Pi Laweung Pidie, Surga Wisata Pesisir dengan Mie Sure Ikonik yang Menggoda

Namun demikian, pelestarian tetap harus menjadi prioritas utama. Keaslian situs harus dijaga agar nilai sejarahnya tidak hilang. Edukasi kepada masyarakat dan wisatawan juga penting agar mereka memahami pentingnya menjaga situs bersejarah.

Makam Sultanah Nahrasiyah hari ini mungkin berdiri dalam kesunyian, tetapi di balik diamnya batu marmer yang terukir indah, tersimpan kisah besar tentang perempuan, kekuasaan, dan peradaban Islam yang pernah berjaya di Nusantara.

Di tanah Pasai, sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup melalui pahatan, makna, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Makam ini menjadi pengingat bahwa kejayaan masa lalu adalah fondasi penting untuk membangun masa depan.

Baca Juga: Air Terjun Suhom Aceh Besar, Destinasi Wisata Alam Sejuk dan Asri yang Wajib Dikunjungi

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda, mengunjungi Makam Sultanah Nahrasiyah adalah pilihan yang tepat. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga memahami perjalanan panjang peradaban yang pernah menjadikan Aceh sebagai pusat dunia Islam di Asia Tenggara.

Baca Juga