Penjual Sayur di Samadua Aceh Selatan: SPPG Alur Pinang ‘Cahaya Baru’ Bagi Kami
KOALISI.co - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi tumpuan dan harapan bagi UMKM di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Kehadiran SPPG tak hanya berbicara soal pemenuhan nutrisi masyarakat, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
Di tengah tantangan hidup yang tak ringan, program ini perlahan menjadi tumpuan baru bagi UMKM lokal, termasuk para pedagang kecil yang selama ini berjuang sendiri.
Salah satunya adalah Salmiati, seorang pemilik usaha UD Sayur 5 Bersaudara di kawasan Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Seorang single parent dengan lima anak yang harus ia besarkan seorang diri.
Sebelumnya, setiap hari Salmiati berjibaku di tengah pasar tradisional untuk menjual cabai, tomat, bawang dan hasil pertanian lainnya kepada masyarakat. Penghasilannya tak menentu—kadang cukup untuk makan sehari, kadang harus berpuas hati hanya modal yang kembali.
“Saya bergantung dari hasil dagangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membesarkan lima orang anak sejak suami tiada. Dengan modal yang kecil dan hasilnya juga tidak menentu, dan dulu malahan sering rugi," ujar Salmiati, Sabtu (25/4/2026).
Namun, hidupnya mulai berubah sejak ia menjadi salah satu pemasok bahan baku sayuran untuk SPPG Alur Pinang yang dikelola oleh Yayasan Berkah Cahaya. Program tersebut membutuhkan pasokan bahan pangan segar setiap hari untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Baca Juga: Sulaiman, SE Terima Mandat Ketua DPD I Aceh, APPMBGI Targetkan Penguatan MBG
Kesempatan itu menjadi pintu rezeki baru bagi Salmiati. Setiap hari, ia bersama salah satu anaknya memasok berbagai jenis sayuran seperti cabe rawit, kentang, brokoli, wortel, kacang panjang hingga selada ke dapur SPPG Alur Pinang. Meski tidak membuatnya langsung sejahtera, pendapatan yang lebih stabil memberinya kepastian yang selama ini sulit ia dapatkan.
“Alhamdulillah, sekarang ada pegangan. Setidaknya saya tahu ada pemasukan tetap tiap hari,” katanya dengan mata yang mulai berbinar.
Maulidin, salah satu putra Salmiati mengatakan bahwa selama ini ekonomi keluarga mereka hanya bergantung di pasar tradisional. Namun sejak berdiri dan beroperasinya SPPG Alur Pinang, dan menjadi pemasok sayur sejak September 2025, keluarga mereka mendapat cahaya baru dalam menjalani kehidupan.
"Saya bahkan hanya tamat SMP karena dulu tidak bisa melanjutkan sekolah sebab keterbatasan biaya dan harus membantu ibu berjualan sejak ayah tiada. Alhamdulillah kami bersyukur dengan adanya MBG ini dapat memberikan harapan hidup bagi kami sekeluarga," ujarnya.
Maulidin berharap program MBG tersebut terus berjalan karena memiliki memiliki manfaat yang besar bagi UMKM terutama pedagang kecil di desa. "Kita berharap Bapak Prabowo mempertahan program ini karena sangat banyak manfaatnya, khususnya bagi kami pedagang kecil" harap Maulidin.
Kepala SPPG Alur Pinang Samadua, Novira Rahmadani, S.Kep mengatakan bahwa kehadiran MBG bukan hanya sekedar tentang makan bergizi gratis untuk anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui dan balita, tetapi juga membantu perekonomian UMKM lokal dan petani-petani di daerah.
"MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi bagi anak-anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal. Dengan melibatkan UMKM sebagai penyedia bahan pangan, program ini menciptakan ekosistem yang saling menguatkan masyarakat mendapatkan gizi, pelaku usaha mendapatkan penghasilan," jelasnya.
Sementara itu bagi Salmiati, SPPG bukan sekadar program pemerintah atau lembaga sosial. Ia adalah harapan. Harapan untuk bisa terus menyekolahkan anak-anaknya, harapan untuk hidup yang sedikit lebih layak, dan harapan bahwa perjuangannya sebagai seorang ibu tidak akan sia-sia.
Di tengah keterbatasan, kisah Salmiati menjadi cermin bahwa kebijakan yang tepat sasaran dapat menghadirkan perubahan nyata. Dari dapur di Alur Pinang, harapan itu kini tumbuh—pelan, tapi pasti.

