Feature
Perempuan-Perempuan Yang Menanam Harapan
KOALISI.co - Sebuah lubang kecil di atas kerak lumpur menjadi awal dari segalanya. Di sanalah Liana (36) menusukkan kayu seadanya, menembus lapisan sedimen setebal hampir setengah meter yang mengeras sejak banjir melanda kawasan Aceh Timur, tepatnya di Desa Seneubok Saboh, Kecamatan Pantee Bidari pada 26 September 2025 lalu.
Di sampingnya, Sri Muliana (34) melakukan hal serupa. Mereka berdua tidak sedang menjalankan program besar. Tidak ada bantuan, tidak pula pendampingan. Hanya ada satu niat sederhana: menanam sesuatu agar dapur tetap mengepul.
“Awalnya cuma ingin tunjukkan kalau kami tidak menyerah,” kata Liana, pertengahan Maret lalu di Desa Seneubok Saboh, Kecamatan Pantee Bidari, Aceh Timur.
Baca Juga: Menanam Rumah di Ladang Bencana
Dengan tenaga yang tersisa, keduanya menanam bibit kangkung dan kacang panjang di atas tanah yang nyaris kehilangan kehidupan. Sambil bekerja, mereka merekam aktivitas tersebut dan mengunggahnya ke media sosial, sekadar mengisi waktu di tengah penantian panjang terhadap janji pemulihan pascabencana yang belum juga pasti.
Tak disangka, rekaman sederhana itu menarik perhatian sebuah komunitas lokal, Hiroe Aceh.
Pertemuan dengan komunitas tersebut menjadi titik balik. Apa yang semula hanya dilakukan berdua, perlahan berkembang menjadi gerakan kecil. Liana dan Sri tak lagi sendiri. Mereka kini tergabung dalam kelompok perempuan yang menamakan diri Indah Tani, beranggotakan 15 orang yang seluruhnya merupakan penyintas banjir.
Baca dihalaman selanjutnya >>>

