1. Beranda
  2. Foliopini

Puasa dan Tumbuhnya Rasa Empati

Oleh ,

KOALISI.co - Puasa mengingatkan saya kembali tentang esensi dari hidup bersosial. Yaitu perasaan untuk lebih bersyukur dengan segala kondisi yang ada, lebih berempati dan peduli kepada orang lain, serta mau untuk berbagi.

Puasa juga kembali mengajarkan saya, bahwa semestinya orang yang berkecukupan dengan mereka yang miskin adalah sama-sama 'manusia'. Hal yang membedakan hanyalah status sosial dan ekonomi yang berbeda.

Itu pun terjadi, karena tidak memadainya akses untuk sama-sama menghidupi diri dan keluarga, seperti: pendidikan, kesehatan dan lowongan pekerjaan. Jadi bukan semata karena faktor malas, namun tentu ada faktor-faktor 'x' lainnya.

Baca Juga: Kenapa Orang Berpuasa Tidak Grasak-Grusuk?

Buktinya adalah ketika kita merasakan lapar dan haus, namun kita tidak dapat menuntaskannya, karena aturan baru membolehkan kita berbuka ketika menjelang maghrib. Menurut saya, kondisi seperti ini sebenarnya adalah contoh dari potret buram apa yang selama ini saudara kita yang fakir dan miskin rasakan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Mungkin mereka baru dapat makan dan minum ala kadarnya, itu pun ketika ada yang mau mengasihi mereka.

Menurut saya, mungkin ini adalah salah satu hikmah pada bulan ramadhan, dimana kembali menumbuhkan rasa empati sosial di dalam diri kita. Dari tumbuhnya rasa empati tersebut, kemudian memunculkan keinginan kita untuk berbagi.

Tidak harus makanan ataupun minuman yang enak atau memuaskan, karena menurut saya pada hakikatnya kita makan untuk mengenyangkan dan minum semata untuk menuntaskan dahaga. Artinya adalah berbagi tidaklah harus menunggu kondisi kita berkecukupan, melainkan dapat dimulai dari sekarang sekalipun itu lewat hal-hal kecil.

Baca Juga: Kenapa Saya Menangis Ketika Membaca Al-Quran?

Rasa kepedulian ini dapat terbentuk, karena adanya rasa 'senasib sepenanggungan' dalam merasakan perut yang keroncongan, lemas, dan penderitaan yang selama ini saudara kita rasakan.

Wal akhir, bulan puasa ini mengajarkan kita agar lebih bersyukur dan mau untuk berbagi. Bersyukur atas segala pencapaian yang telah kita raih dan miliki sejauh ini. Serta mau untuk berbagi dengan mengasihi saudara kita yang belum berkecukupan secara ekonomi dan sosial.

Menurut saya, kedua perilaku sosial ini juga merupakan wujud dari menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan antar sesama manusia, yang tentunya berefek positif dalam upaya meningkatnya sikap rendah hati dan rela menerima apa adanya.

Baca Juga: Hukum Mengeluarkan Air Mani pada Siang Hari di Bulan Ramadhan

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (Hadist Riwayat Muslim).

Semoga Bermanfaat.

Baca Juga