Teuku Kemal Fasya Sampaikan Pidato Yudisium Wakil Doktor di USU
KOALISI.co – Teuku Kemal Fasya, dosen jurusan Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh, dipercaya menjadi wakil wisudawan yang menyampaikan pidato sambutan pada acara Yudisium Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), yang berlangsung di Medan, Kamis (7/5/2026).
Sebagai lulusan Program Studi Perencanaan Wilayah dengan predikat sangat memuaskan dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94, Teuku Kemal Fasya mengangkat pesan mendalam tentang tanggung jawab besar yang harus diemban para lulusan pascasarjana setelah menamatkan pendidikan tertinggi mereka. Ia menegaskan, ilmu yang telah didapat tidak boleh hanya dijadikan alat untuk kepentingan pribadi atau hal-hal yang bersifat pragmatis semata, melainkan harus berlandaskan pada komitmen kuat terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pidatonya, ia mengutip pemikiran filsuf asal Jerman, Martin Heidegger melalui konsep Sein zum Tode, yang bermakna setiap orang berkesempatan membangun dan memberikan makna yang berharga bagi kehidupan selama masih diberi waktu, sebelum ajal menjemput.
Baca juga: 1.298 Mahasiswa Universitas Malikussaleh Diwisuda, 199 Raih Predikat Cumlaude
“Tugas kita dalam dunia pendidikan tinggi adalah mempromosikan kebaikan, harapan, kemanusiaan, dan keadilan, serta menolak segala hal yang mengarah pada bencana, kerusakan, dan penderitaan — baik yang menimpa manusia maupun alam sekitar. Sebagai contoh, ketika lingkungan kampus USU masih rimbun dan dipenuhi pepohonan, itu artinya institusi ini sedang konsisten mempromosikan kebaikan ekologis yang nyata,” ujarnya di hadapan para hadirin, dosen, dan sesama wisudawan.
Disertasi yang berhasil ia pertahankan pada Sidang Promovendus tanggal 22 Oktober 2025 lalu berjudul “Dampak Tragedi Cumbok Dalam Konteks Pembangunan Rekonsiliasi Aceh”. Dalam pidatonya, ia juga merujuk pandangan pendidik dan filsuf asal Brasil, Paulo Freire, untuk mengajak rekan-rekan lulusan merenungkan makna sejati dari pendidikan yang telah mereka jalani.
“Pertanyaannya sederhana: apakah pendidikan yang kita tempuh ini sejalan dengan semangat yang dikemukakan Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of Hope — yaitu mendidik mereka yang lemah dan belum berilmu menjadi orang yang paham, berpengetahuan, dan berdaya? Atau, apakah pendidikan kita justru hanya melahirkan homo ludens — makhluk yang hanya memilih untuk bersenang-senang, bermain-main, dan tidak punya tujuan mulia? Sesuai kritik tajam pengamat budaya Neil Postman, ada pola pikir ‘menghibur diri sampai mati’. Tentu saja, kita semua wajib memilih jalan pertama: pendidikan yang memuliakan dan memberdayakan sesama,” tegasnya.
Baca juga: Teuku Kemal Fasya Jalani Ujian Doktor di USU, Bahas Tragedi Cumbok dan Rekonsiliasi Aceh
Menjelang penutup pidato, Teuku Kemal menyampaikan pesan yang menyentuh hati, mengajak seluruh wisudawan untuk meluangkan waktu mendoakan dan menghargai jasa orang tua. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan yang diraih hari ini tak lepas dari pengorbanan dan dukungan orang tua, apa pun kondisi dan latar belakang mereka.
“Berikan pelukan hangat dan ucapkan terima kasih sebesar-besarnya jika mereka masih bersama kita. Dan jika mereka telah berpulang, kirimkanlah doa terbaik agar mereka memperoleh kebahagiaan dan kedamaian abadi di sisi Tuhan. Mungkin tidak semua dari kita memiliki orang tua yang sempurna sesuai harapan, namun mereka tetaplah orang tua yang jasanya tak tergantikan, dan pantas didoakan seumur hidup kita,” ucapnya dengan nada penuh haru.
Sebagai informasi, prosesi wisuda resmi Universitas Sumatera Utara akan digelar pada 8 hingga 9 Mei 2026 mendatang. Ini merupakan kegiatan wisuda ketiga yang diselenggarakan universitas tersebut pada tahun akademik 2025–2026, dan akan meluluskan ratusan wisudawan dari berbagai jenjang dan bidang ilmu.

