Memulihkan Sawah Aceh melalui Kolaborasi Pemerintah, Akademisi, dan Petani

KOALISI.co - Pasca banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, kerusakan lahan sawah menjadi persoalan serius yang tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga terhadap ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat desa.
Banyak sawah tertutup lumpur, pasir, serta material kayu sehingga tidak dapat langsung diolah kembali.
Dalam kondisi seperti ini, pemulihan lahan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan fisik semata, tetapi membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah, petani, dan akademisi.
Menurut saya, persoalan sawah pascabanjir harus dipandang sebagai masalah multidisiplin yang membutuhkan solusi ilmiah sekaligus solusi lapangan yang praktis.
Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-recon), seperti normalisasi irigasi, bantuan benih dan pupuk, penggunaan alat berat untuk membersihkan sawah, serta perbaikan jalan usaha tani.
Baca Juga: Sekda Aceh: Pemerintah Aceh Kejar Rehabilitasi dan Rekonstruksi Lahan Sawah Pascabencana
Program rehabilitasi ini menjadi langkah awal yang penting untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat tani.
Namun demikian, tantangan terbesar justru muncul setelah sawah dibersihkan. Banyak petani belum memahami bagaimana mengembalikan kesuburan tanah yang rusak akibat endapan lumpur dan pasir.
Di sinilah peran akademisi menjadi sangat penting. Akademisi tidak hanya berfungsi sebagai peneliti, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam memberikan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang mudah diterapkan di lapangan.
Pemulihan lahan pascabencana harus dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi kepada petani, penguatan teknologi budidaya, serta pengembangan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Pemulihan sawah bukan sekadar membersihkan lahan, tetapi juga mengembalikan fungsi biologis tanah agar produktivitas pertanian dapat pulih kembali.
Kolaborasi antara pemerintah dan akademisi dapat dilakukan melalui berbagai langkah nyata, seperti pendampingan langsung kepada kelompok tani mengenai cara memperbaiki struktur tanah menggunakan bahan organik, pelatihan pengelolaan lahan pascabanjir, hingga pengujian tingkat kesuburan tanah sebelum musim tanam dimulai.
Baca Juga: Di Depan Mualem, Mentan Komitmen Segera Pulihkan 89 Ribu Ha Sawah Terdampak Banjir di Aceh
Akademisi juga dapat membantu memberikan rekomendasi penggunaan amelioran seperti dolomit, kompos, biochar, dan pupuk hayati sesuai kondisi lahan masing-masing wilayah.
Selain itu, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan program pengabdian masyarakat yang fokus pada pemulihan pertanian pascabencana.
Misalnya, pengembangan varietas padi toleran genangan, sistem drainase sederhana untuk sawah rawan banjir, hingga teknologi konservasi tanah yang murah dan mudah diterapkan petani.
Pendekatan ini penting karena kondisi lahan pascabanjir di setiap daerah berbeda sehingga solusi yang diberikan tidak bisa disamaratakan.
Di sisi lain, akademisi juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan petani dan kebijakan pemerintah. Banyak program bantuan yang tidak optimal karena kurangnya data lapangan dan minimnya pendampingan teknis.
Baca Juga: Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Panen Akibat Banjir
Dengan adanya keterlibatan kampus dan peneliti, kebijakan rehabilitasi sawah dapat lebih tepat sasaran, berbasis data, dan sesuai kebutuhan masyarakat tani.
Petani sendiri sebenarnya telah melakukan berbagai langkah rehab-recon sederhana secara mandiri, seperti membersihkan material lumpur dan kayu secara gotong royong, membuat saluran pembuangan air sementara, memperbaiki pematang sawah, serta menambahkan pupuk kandang dan jerami untuk memperbaiki tanah.
Namun upaya tersebut akan lebih efektif apabila didampingi oleh tenaga akademisi dan penyuluh pertanian yang mampu memberikan arahan teknis secara tepat.
Pada akhirnya, bencana banjir bandang harus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Sawah bagi masyarakat Aceh bukan hanya tempat produksi pangan, tetapi juga sumber kehidupan dan identitas sosial masyarakat desa.
Karena itu, pemulihan lahan sawah pascabanjir tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan melalui kerja sama yang berkelanjutan demi masa depan pertanian Aceh yang lebih kuat dan berdaya tahan.
Penulis adalah Prof. Dr. Laila Nazirah, Dosen Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh (Unimal).




Komentar