Mengenal Sejarah Aceh Lebih Dekat di Museum Aceh, Destinasi Edukasi Penuh Warisan Budaya

Museum Aceh di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Aceh kepada wisatawan. Foto: HO/For.KOALISI.co.

KOALISI.co – Museum Aceh di Kota Banda Aceh menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang menyimpan jejak panjang peradaban Tanah Rencong. Beragam koleksi bersejarah yang tersimpan di dalamnya menghadirkan kisah tentang kejayaan kerajaan, perkembangan Islam, hingga budaya masyarakat Aceh yang tetap lestari dari generasi ke generasi.

Berlokasi di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, museum ini menjadi ruang pembelajaran sejarah yang memperkenalkan identitas Aceh kepada masyarakat maupun wisatawan. Ribuan benda bersejarah yang dipamerkan seolah mengajak pengunjung menelusuri perjalanan panjang peradaban Aceh yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Museum Aceh tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah yang telah bertahan lebih dari satu abad. Berbagai koleksi mulai dari manuskrip kuno, benda pusaka kerajaan, permainan tradisional, hingga peninggalan budaya masyarakat Aceh tersimpan rapi di salah satu museum tertua di Indonesia tersebut.

Baca Juga: Bitai, Warisan Persahabatan Aceh-Turki yang Perkuat Ketahanan Keluarga dan Peradaban Islam

Museum Aceh telah berdiri lebih dari 100 tahun sejak diresmikan pada 31 Juli 1915 oleh Gubernur Sipil dan Militer Hindia Belanda di Aceh, Jenderal HNA Swart. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya Aceh.

Sebelum difungsikan sebagai museum, bangunan utama yang kini dikenal sebagai Rumoh Aceh merupakan paviliun yang mewakili Aceh pada ajang De Koloniale Tentoonstelling di Semarang pada 1914. Paviliun tersebut saat itu menampilkan berbagai koleksi berharga yang sebagian besar berasal dari koleksi pribadi FW Stammeshaus, kurator pertama Museum Aceh, serta benda-benda pusaka milik para pembesar Aceh.

Usai pameran berakhir, bangunan tersebut dipindahkan ke Banda Aceh dan kemudian menjadi cikal bakal Museum Aceh yang dikenal hingga sekarang.

Baca Juga: Benteng Indra Patra Aceh Besar, Jejak Peradaban Hindu yang Masih Kokoh Berdiri

Ketika pengunjung memasuki kawasan museum, maka akan disambut suasana yang memadukan nilai sejarah dan budaya. Selain Rumoh Aceh yang menjadi ikon utama, kompleks museum juga menyimpan berbagai peninggalan penting seperti makam raja-raja Aceh, gapura kuno, serta beragam koleksi benda bersejarah yang merekam perjalanan kerajaan-kerajaan di Aceh.

Salah satu koleksi yang paling banyak menarik perhatian pengunjung adalah Lonceng Cakra Donya. Benda bersejarah tersebut menjadi simbol hubungan diplomatik antara Kesultanan Samudera Pasai dan Kekaisaran Tiongkok pada abad ke-15.

Lonceng Cakra Donya diyakini merupakan hadiah dari Kaisar Tiongkok yang dibawa armada Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Dalam perjalanan sejarahnya, lonceng tersebut pernah digunakan sebagai alat komunikasi di kapal perang milik Sultan Iskandar Muda yang bernama Cakra Donya.

Baca Juga: Jejak Arsitektur Kolonial di Sabang, Warisan Sejarah yang Memperkaya Wisata Pulau Weh

Ketika kapal menghadapi situasi berbahaya di tengah lautan, lonceng digunakan sebagai penanda sekaligus alat komunikasi. Setelah melalui berbagai peristiwa sejarah yang melibatkan Portugis dan Kesultanan Aceh, benda bersejarah tersebut akhirnya ditempatkan di kompleks Istana Darud Dunia sebelum dipindahkan ke Museum Aceh pada 1915.

Hingga kini, Lonceng Cakra Donya tetap menjadi salah satu koleksi favorit yang selalu menarik perhatian wisatawan.

Tidak jauh dari lokasi koleksi tersebut berdiri Rumoh Aceh yang menjadi ikon Museum Aceh. Rumah tradisional berbentuk panggung itu memperlihatkan kecerdasan masyarakat Aceh tempo dulu dalam membangun hunian yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang tinggi.

Museum Aceh menyimpan berbagai koleksi berharga yang menggambarkan perjalanan panjang peradaban Aceh, mulai dari masa kesultanan hingga era modern. Foto: HO/For.KOALISI.co.

Rumah dengan tiang-tiang kayu kokoh dan ornamen khas Aceh itu menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran Rumoh Aceh di lingkungan museum menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal arsitektur tradisional yang kini semakin langka.

Daya tarik lain Museum Aceh terdapat pada koleksi manuskrip kuno yang tersimpan di ruang pameran. Naskah-naskah berusia ratusan tahun tersebut ditulis menggunakan berbagai aksara, mulai dari Arab, Jawi, Aceh hingga Melayu.

Sebagian manuskrip memuat kisah kerajaan, perkembangan Islam, hingga perjuangan para ulama dan pahlawan Aceh. Meski banyak di antaranya belum diterjemahkan secara menyeluruh, keberadaan manuskrip tersebut menjadi sumber penting dalam memahami sejarah, ilmu pengetahuan, dan perkembangan intelektual masyarakat Aceh pada masa lampau.

Baca Juga: Wisata Bivak Belanda di Panton Luas Aceh Selatan: Jejak Sejarah Kolonial yang Jadi Destinasi Unggulan

Selain itu, Museum Aceh juga menyimpan ribuan koleksi dari berbagai bidang ilmu, seperti geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatika, filologi, seni rupa, hingga teknologi tradisional.

Data museum mencatat hingga 2019 terdapat lebih dari 5.300 koleksi benda budaya serta sekitar 12.400 buku dari berbagai disiplin ilmu yang tersimpan di Museum Aceh.

Bagi wisatawan maupun masyarakat lokal, Museum Aceh menawarkan pengalaman wisata edukasi yang berbeda. Setiap sudut bangunan menghadirkan cerita tentang kejayaan kerajaan, perkembangan Islam, hingga kehidupan masyarakat Aceh yang membentuk identitas Serambi Mekkah.

Duta Wisata Banda Aceh, Sagti Aprilian, mengatakan Museum Aceh merupakan destinasi yang wajib dikunjungi karena menjadi tempat terbaik untuk mengenal sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Aceh.

"Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi peninggalan bersejarah di museum ini, mulai dari artefak kerajaan, naskah kuno, hingga benda-benda budaya yang menggambarkan perjalanan panjang peradaban Aceh dari masa ke masa," kata Sagti, Rabu, (3/6/2026).

Menurut Sagti, mengunjungi Museum Aceh tidak hanya memberikan pengalaman wisata, tetapi juga memperkaya wawasan mengenai kekayaan budaya Aceh.

"Wisatawan maupun generasi muda mendapatkan sarana edukasi yang menarik, bagi untuk memahami nilai-nilai sejarah dan budaya Aceh, sehingga kunjungan ke Banda Aceh akan terasa lebih lengkap dan bermakna setelah menyempatkan diri mengunjungi Museum Aceh," ajaknya.

Komentar

Loading...