Aminul Mukminin Pimpin LMND Aceh

Aminul bukan sosok baru dalam gerakan mahasiswa. Ia sebelumnya pernah diamankan dan ditahan di Polresta Banda Aceh ketika mengikuti aksi mahasiswa pada 4 April 2020. Saat itu, aksi tersebut berkaitan dengan tuntutan pencabutan pemberlakuan jam malam di tengah pandemi Covid-19 di Banda Aceh.
Usai terpilih, Aminul menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan tidak boleh menghentikan perjuangan organisasi. Sebaliknya, regenerasi harus menjadi momentum untuk melahirkan energi baru dalam menjalankan agenda kerakyatan dan gerakan mahasiswa.
“Kita tahu bahwa jalan perjuangan itu harus tetap berlanjut, regenerasi kepemimpinan juga demikian. Dengan lahirnya struktur dan pemimpin baru, ada kekuatan baru untuk menyusun kerja-kerja kerakyatan, kerja-kerja mahasiswa yang hidup di era post-truth ini,” paparnya.
Baca Juga: Iswandi Terpilih Sebagai Ketua LMND Aceh periode 2022-2024
Hadapi Tantangan Gerakan Mahasiswa
Aminul menilai gerakan mahasiswa saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi membuat arus informasi bergerak cepat, sementara informasi yang tidak terverifikasi juga mudah menyebar di tengah masyarakat.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tetap mempertahankan daya kritis dan menjadikan verifikasi informasi sebagai bagian penting sebelum menentukan sikap terhadap suatu persoalan.
Baca Juga: LMND Aceh Gelar Konferensi Wilayah ke-IV di Banda Aceh
“Di era post-truth ini, kebenaran sering kali kalah cepat dengan narasi. Mahasiswa sebagai agent of change harus mampu menjaga nalar kritis, memverifikasi setiap isu sebelum turun menyuarakan sikap, dan tidak mudah terseret arus disinformasi,” tegasnya.
Menurut Aminul, berbagai tantangan global seperti persoalan ekonomi, perubahan iklim hingga dinamika geopolitik juga perlu menjadi perhatian mahasiswa. Ia mendorong gerakan mahasiswa dibangun berdasarkan data, kajian dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.




Komentar