Berdiri Kokoh di Tengah Tsunami, Masjid Baiturrahim Jadi Simbol Kebangkitan Aceh
KOALISI.co – Di kawasan pesisir Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menjadi simbol keteguhan masyarakat Aceh menghadapi salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia. Masjid Jami' Baiturrahim Ulee Lheue tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu dahsyatnya tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang hingga kini terus dikenang oleh masyarakat.
Di tengah pesatnya perkembangan kawasan pesisir, bangunan masjid dengan kubah yang menjulang tetap berdiri kokoh. Keberadaannya menjadi pengingat akan kekuatan iman, harapan, serta semangat masyarakat Aceh untuk bangkit setelah diterjang bencana.
Jarak hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai ketika gelombang tsunami setinggi belasan meter menerjang pesisir Banda Aceh, Masjid Jami' Baiturrahim menjadi salah satu sedikit bangunan yang mampu bertahan di tengah kehancuran kawasan Ulee Lheue.
Baca Juga: Berdiri Sejak Abad ke-18, Masjid Tuha Ulee Kareng Jadi Ikon Wisata Religi Banda Aceh
Meski mengalami kerusakan pada sebagian sisi samping dan belakang bangunan, struktur utama masjid tetap berdiri kokoh. Padahal, kawasan Ulee Lheue merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami. Ribuan rumah dan bangunan hancur, sementara sebagian besar permukiman di sekitar masjid tersapu gelombang.
Namun, nilai sejarah Masjid Baiturrahim tidak hanya lahir dari peristiwa tsunami. Jauh sebelum bencana tersebut terjadi, masjid ini telah menjadi bagian penting dalam perkembangan syiar Islam di Aceh.
Berdasarkan berbagai catatan sejarah, Masjid Baiturrahim diperkirakan telah berdiri sejak masa Kesultanan Aceh pada abad ke-17. Selama ratusan tahun, bangunan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat pesisir di kawasan Ulee Lheue. Saat tsunami melanda pada pagi 26 Desember 2004, masjid ini menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga yang berusaha menyelamatkan diri dari terjangan gelombang.
Baca Juga: Wisata Religi Masjid Giok Nagan Raya, Keindahan Batu Giok yang Memikat
Nurmazli, salah seorang pengurus Masjid Baiturrahim, masih mengingat berbagai kisah yang diceritakan para penyintas mengenai detik-detik bencana tersebut. Ketika gelombang pertama datang, warga berlarian menuju masjid dan memenuhi lantai satu hingga lantai dua bangunan dengan harapan dapat menyelamatkan diri. Namun, kekuatan tsunami jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
"Mereka yang bertahan akhirnya naik ke bagian atap dan kubah masjid. Dari sekian banyak orang yang berlindung, hanya sembilan orang yang selamat," kata Nurmazli.
Menurutnya, terdapat tiga gelombang besar yang menghantam kawasan Ulee Lheue setelah gempa berkekuatan magnitudo 9,1 mengguncang Aceh dan wilayah sekitarnya.
Setiap kali menerjang Masjid Baiturrahim, gelombang seolah terpecah sebelum kembali menghancurkan bangunan di sekitarnya. Tinggi genangan air bahkan mencapai bagian atap masjid yang berada lebih dari 10 meter dari permukaan tanah. Meski demikian, para penyintas menceritakan sebuah pengalaman yang hingga kini masih sulit dijelaskan.
"Di luar masjid airnya sangat ganas dan bergulung-gulung. Tapi di dalam masjid airnya relatif tenang. Orang-orang masih bisa berenang dari satu tiang ke tiang lainnya," ujar Nurmazli.
Ketika air mulai surut, kondisi di dalam masjid juga meninggalkan kesan mendalam. Tidak ditemukan jenazah di dalam bangunan. Sejumlah mushaf Al-Qur'an terlihat berserakan dalam keadaan terbuka, namun tetap berada di tempatnya. Sementara itu, hampir seluruh bangunan yang berada di sekitar masjid telah luluh lantak diterjang tsunami.
Baca Juga: Masjid Agung Babussalam Sabang, Destinasi Wisata Religi yang Menenangkan di Gerbang Pulau Weh
Dua dekade setelah tragedi tersebut, Masjid Baiturrahim masih berdiri dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenang tragedi tsunami sekaligus menyaksikan simbol ketangguhan masyarakat Aceh.
Duta Wisata Banda Aceh, Sagti Aprilian, mengatakan Masjid Baiturrahim Ulee Lheue merupakan salah satu destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi karena memiliki nilai sejarah, spiritual, dan kemanusiaan yang sangat kuat. Menurutnya, masjid ini dikenal luas sebagai salah satu bangunan yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami 2004 menerjang kawasan Ulee Lheue dan sekitarnya.
"Keberadaan masjid tersebut menjadi simbol keteguhan, harapan, serta saksi bisu peristiwa yang mengubah wajah Aceh dan mendapat perhatian dari masyarakat dunia," ujar Sagti, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Masjid Putih Lhoksukon Jadi Ikon Baru Wisata Religi Aceh Utara yang Megah dan Modern
Ia menambahkan, selain memiliki nilai historis, Masjid Baiturrahim juga menghadirkan pengalaman wisata religi yang mendalam. Arsitektur masjid yang indah, suasana yang tenang, serta lokasinya yang berada di kawasan pesisir menjadikan tempat ini ideal untuk beribadah sekaligus melakukan refleksi spiritual.
"Wisatawan yang datang tidak hanya dapat menikmati keindahan bangunan masjid, tetapi juga merasakan pesan tentang ketabahan, keimanan, dan kebangkitan masyarakat Aceh pascatsunami yang masih terasa kuat hingga saat ini," tutup Sagti.

