Cerita Murtala dan Rumah Nyaris Roboh di Aceh Utara
Meski demikian, Murtala memilih tetap bertahan.
“Walaupun begitu, saya tetap bertahan tinggal di rumah ini karena cuma rumah ini yang saya punya,” ujarnya lirih.
Malam hari menjadi waktu yang paling menegangkan baginya, terutama saat hujan turun disertai angin kencang. Air yang masuk dari atap bocor sering mengenai kabel dan bohlam lampu di dalam rumah.
“Saat hujan, bohlam lampu juga sering kemasukan air sampai rusak. Saya takut terjadi korsleting listrik,” katanya.
Selama ini, Murtala mengaku belum pernah mengajukan bantuan rumah layak huni kepada pemerintah maupun dinas terkait.
Baca Juga: Jejak Benteng Perang di Sabang, Wisata Sejarah Kota 1000 Benteng yang Sarat Makna
Ia juga belum pernah menerima bantuan sosial apa pun. Di tengah keterbatasan itu, tidak banyak yang bisa ia lakukan selain bertahan dan memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit dengan kemampuan sendiri.
Hingga kini, belum ada bantuan dari keluarga ataupun warga sekitar untuk memperbaiki rumah tersebut.
Di Kabupaten Aceh Utara, persoalan rumah tidak layak huni masih menjadi masalah yang dihadapi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah, terutama di wilayah pedalaman.
Keterbatasan pekerjaan, rendahnya pendapatan, serta mahalnya biaya material bangunan membuat banyak warga terpaksa tinggal di rumah yang jauh dari kata layak.
Di balik dinding kayu lapuk rumahnya, Murtala sebenarnya tidak meminta banyak. Ia hanya ingin memiliki tempat tinggal yang aman agar keluarganya dapat kembali berkumpul tanpa rasa takut ketika hujan turun.
Baca Juga: Jejak Arsitektur Kolonial di Sabang, Warisan Sejarah yang Memperkaya Wisata Pulau Weh
Murtala berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat membantu dirinya memperoleh rumah layak huni agar ia dan keluarganya bisa hidup lebih aman dan nyaman.
Sebab bagi Murtala, rumah bukan sekadar tempat berlindung. Rumah adalah satu-satunya harapan yang masih ia pertahankan hingga hari ini.

