1. Beranda
  2. Pariwara

DPKA Aceh Perkuat Literasi dan Digitalisasi Arsip, Wujudkan SDM Unggul di Era Transformasi Digital

Oleh ,

KOALISI.co – Pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang memiliki budaya literasi kuat, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memiliki pemahaman terhadap sejarah dan identitas daerahnya. Menjawab tantangan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) terus memperkuat transformasi layanan melalui berbagai inovasi di bidang perpustakaan dan kearsipan berbasis digital sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan Aceh yang maju dan berdaya saing.

Sebagai salah satu institusi yang berperan dalam pengembangan pengetahuan, DPKA kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku dan arsip. Berbagai inovasi terus dikembangkan agar perpustakaan menjadi pusat pembelajaran modern, ruang kolaborasi, pusat pelestarian warisan budaya, sekaligus penggerak transformasi digital di lingkungan Pemerintah Aceh. Upaya tersebut merupakan bentuk komitmen dalam memperluas akses informasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih cepat, efektif, dan mudah dijangkau masyarakat.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul, SH, mengatakan perpustakaan dan kearsipan saat ini memiliki fungsi yang jauh lebih strategis dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, kedua sektor tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas sekaligus mendukung tata kelola pemerintahan yang transparan, efektif, dan akuntabel.

Baca Juga: Transformasi Besar DPKA Aceh, Perpustakaan Kini Jadi Ruang Belajar, Kolaborasi, dan Inovasi

"Di era digital saat ini, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat membaca buku, begitu juga arsip bukan sekadar tempat menyimpan dokumen. Keduanya telah berkembang menjadi pusat informasi, inovasi, dan penguatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, DPKA terus berinovasi agar pelayanan yang kami berikan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi," ujar Syahrul, Jumat (29/5/2026)

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program unggulan, mulai dari pengembangan perpustakaan modern, digitalisasi koleksi buku dan manuskrip kuno, penyediaan layanan perpustakaan digital, hingga penerapan sistem pengelolaan arsip elektronik yang mendukung reformasi birokrasi dan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di lingkungan Pemerintah Aceh.

Selain menghadirkan layanan digital, DPKA juga terus meningkatkan kualitas fasilitas perpustakaan agar menjadi ruang belajar yang nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat. Beragam fasilitas seperti ruang baca modern, co-working space, ruang multimedia, ruang teknologi informasi, Aceh Corner, hingga Kid's Corner disediakan untuk mendukung aktivitas membaca, belajar, berdiskusi, penelitian, maupun pengembangan kreativitas masyarakat.

Baca Juga: Trauma Healing DPKA Aceh, Cerita Penuh Harapan untuk Anak-anak Terdampak Bencana

Menurut Syahrul, konsep perpustakaan modern harus mampu menghadirkan lingkungan belajar yang terbuka, inklusif, dan mampu melahirkan berbagai inovasi.

"Kami ingin masyarakat memandang perpustakaan sebagai ruang tumbuh. Tempat di mana ide lahir, kreativitas berkembang, kolaborasi tercipta, dan ilmu pengetahuan dapat diakses oleh siapa saja tanpa batas," katanya.

Untuk memperluas akses literasi, DPKA juga mengembangkan layanan perpustakaan digital melalui aplikasi iPustakaAceh. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat membaca ribuan koleksi buku elektronik menggunakan telepon pintar tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.

Baca Juga: Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Rak Buku, Librari Teater DPKA Jadi Magnet Baru Literasi

Kehadiran iPustakaAceh memberikan kemudahan bagi masyarakat di berbagai wilayah Aceh dalam memperoleh referensi ilmiah, buku pendidikan, sejarah, budaya, agama, hingga pengembangan diri secara praktis. Layanan ini menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu maupun jarak untuk mengakses koleksi perpustakaan.

Sekretaris DPKA Aceh, Zulkifli, mengatakan transformasi digital merupakan langkah strategis agar perpustakaan tetap relevan dengan perubahan pola belajar masyarakat.

"Teknologi informasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Karena itu, perpustakaan juga harus hadir dalam bentuk layanan digital agar akses terhadap ilmu pengetahuan semakin mudah, cepat, dan merata," ujarnya.

Gedung DPKA Aceh

Ia menegaskan bahwa digitalisasi bukan untuk menggantikan perpustakaan konvensional, melainkan memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat. Karena itu, DPKA tetap menambah ratusan judul buku cetak setiap tahun agar kebutuhan berbagai kalangan tetap terpenuhi.

Di bidang kearsipan, transformasi digital juga menjadi salah satu prioritas utama. DPKA terus memperkuat sistem pengelolaan arsip elektronik guna meningkatkan efisiensi administrasi pemerintahan sekaligus menjaga keamanan dokumen negara.

Melalui sistem digital, proses penyimpanan, pencarian, hingga pemanfaatan arsip menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien. Sistem tersebut juga mendukung percepatan pelayanan publik serta memudahkan proses pengambilan kebijakan berbasis data yang terdokumentasi dengan baik.

Baca Juga: DPKA Aceh Bertransformasi Jadi Ruang Tumbuh Generasi, Perpustakaan Modern yang Melahirkan Inovasi

Syahrul menjelaskan bahwa arsip merupakan memori kolektif pemerintahan yang memiliki nilai strategis dalam mendukung pembangunan daerah.

"Pengelolaan arsip yang baik akan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Arsip menjadi dasar pengambilan keputusan, alat pertanggungjawaban, sekaligus bukti perjalanan pembangunan daerah," jelasnya.

Keberhasilan transformasi digital tersebut tercermin dari capaian Pemerintah Aceh dalam pengelolaan arsip elektronik. Berdasarkan hasil evaluasi reformasi birokrasi, tingkat digitalisasi arsip Pemerintah Aceh berhasil memperoleh nilai 91,51 dengan predikat A (Sangat Memuaskan). Capaian tersebut menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Aceh dalam membangun birokrasi yang modern, profesional, dan berbasis teknologi.

Baca Juga: DPKA Aceh Hadirkan Ruang Baca Ramah Anak, Tumbuhkan Minat Literasi Sejak Usia Dini

Selain mendukung tata kelola pemerintahan, DPKA juga terus melestarikan warisan budaya melalui program digitalisasi manuskrip kuno Aceh. Berbagai naskah bersejarah yang memuat ilmu agama, hukum adat, sastra, sejarah, hingga catatan perdagangan internasional dipindai dan disimpan dalam format digital agar tetap lestari serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Menurut Zulkifli, pelestarian manuskrip kuno merupakan investasi intelektual yang sangat penting bagi generasi mendatang.

"Manuskrip kuno merupakan identitas Aceh. Digitalisasi menjadi langkah penting agar kekayaan intelektual tersebut tetap lestari sekaligus dapat dimanfaatkan oleh peneliti, mahasiswa, maupun masyarakat luas," katanya.

Dalam memperkuat budaya literasi, DPKA juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif, seperti bedah buku, seminar, pelatihan kepenulisan, literasi digital, mendongeng bagi anak-anak, lomba membaca, hingga berbagai program berbasis Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Program-program tersebut melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, organisasi kepemudaan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi yang kuat sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan menghasilkan inovasi.

Bagi DPKA, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami informasi, memecahkan persoalan, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Syahrul menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berjalan seiring dengan penguatan budaya literasi, penguasaan teknologi, dan pelestarian identitas budaya Aceh.

"Aceh yang maju membutuhkan masyarakat yang gemar membaca, memiliki kemampuan digital, sekaligus memahami akar budaya dan sejarahnya. Ketiga hal tersebut menjadi fokus yang terus kami bangun melalui berbagai program DPKA," ujarnya.

Kedepan, DPKA Aceh akan terus memperluas inovasi layanan melalui pengembangan perpustakaan digital, penambahan koleksi buku cetak dan elektronik, peningkatan kualitas infrastruktur teknologi, penguatan sistem kearsipan digital, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar mampu memberikan pelayanan yang semakin profesional.

Melalui berbagai langkah tersebut, DPKA optimistis mampu memperkuat budaya literasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia Aceh yang unggul, adaptif, dan berdaya saing di tengah perkembangan era digital.

Bagi DPKA, perpustakaan dan arsip bukan sekadar tempat menyimpan pengetahuan dan dokumen. Keduanya merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, menjaga identitas budaya, serta mempersiapkan generasi masa depan yang mampu menghadapi tantangan global tanpa melupakan akar sejarahnya.

Baca Juga