Festival Literasi Aceh 2025, DPKA Tegaskan Perpustakaan Sebagai Garda Peradaban
KOALISI.co - Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), Dr. Edi Yandra, menegaskan bahwa perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi simbol peradaban sekaligus garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Edi Yandra dalam pembukaan Festival Literasi Aceh (FLA) 2025 yang digelar di Aula Pustaka Wilayah Aceh, Senin (1/9/2025). Kegiatan tahunan ini merupakan inisiatif DPKA untuk menumbuhkan semangat literasi, kreativitas, dan kecintaan terhadap membaca di kalangan masyarakat.
Menurutnya, perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat membaca, melainkan telah berkembang menjadi pusat kolaborasi, ruang berbagi ide, serta wadah pengembangan kreativitas masyarakat. Festival Literasi Aceh 2025 menjadi wujud nyata komitmen DPKA dalam mempromosikan perpustakaan sebagai ruang ekspresi publik dan benteng penjaga nilai di tengah derasnya arus informasi digital.
“Di tengah derasnya arus informasi, perpustakaan hadir sebagai penjaga nilai, pengetahuan, dan integritas moral. Literasi membantu masyarakat memilah informasi yang benar, berpikir logis, serta tidak mudah terprovokasi oleh hoaks atau ujaran kebencian,” ujar Edi Yandra.
Acara pembukaan FLA 2025 dilakukan oleh Asisten III Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Diwarsyah, yang mewakili Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf. Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur menekankan bahwa festival literasi bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan wadah untuk merayakan gagasan, menumbuhkan minat baca, memperkuat budaya menulis, serta mendorong lahirnya karya kreatif masyarakat Aceh.
“Literasi adalah fondasi peradaban. Dari literasi lahirlah pemikiran, inovasi, dan daya saing generasi kita. Aceh harus menjadikan literasi sebagai identitas dan gaya hidup masyarakatnya,” tutur Diwarsyah saat membacakan sambutan Gubernur.
Ia juga menambahkan bahwa FLA 2025 merupakan ajang penting untuk memperkuat rasa percaya diri, kecintaan terhadap budaya, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri secara positif. “Literasi hari ini tidak hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi digital, budaya, dan keuangan. Generasi muda Aceh harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya dan jati diri,” tambahnya.
Pemerintah Aceh memberikan apresiasi tinggi kepada DPKA, para pegiat literasi, akademisi, komunitas literasi, serta Bunda Literasi Aceh dan kabupaten/kota yang turut berperan aktif dalam menggerakkan budaya membaca dan menulis di seluruh lapisan masyarakat.
“Sinergi semua pihak sangat dibutuhkan agar budaya literasi semakin tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh,” kata Diwarsyah.
Festival Literasi Aceh 2025 berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, antara lain:
-
Pameran karya literasi dari 23 kabupaten/kota.
-
Lomba puisi, mendongeng, dan membaca pantun.
-
Peragaan busana adat Aceh.
-
Diskusi publik dan penampilan komunitas literasi.
-
Pameran buku dan karya tulis.
Melalui kegiatan ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh berharap lahir generasi yang cerdas secara intelektual, bijak secara sosial, serta menjadikan budaya literasi sebagai fondasi pembangunan daerah yang bermartabat dan gemilang.
“Festival Literasi Aceh menjadi pengingat bahwa masa depan Aceh dimulai dari halaman buku dan ruang perpustakaan,” pungkas Edi Yandra. (adv)

