Kenapa Saya Menangis Ketika Membaca Al-Quran?

Menangis ketika membaca Al-Qur'an. Foto: Ist

KOALISI.co - Saya hendak kembali menangis ketika baru saja membaca beberapa penggalan ayat dari surat Al-Fatihah. Tapi saya tahan, lantaran malu dengan istri dan anak. Jadi saya tahan-tahan dengan berdiam sebentar baru melanjutkan bacaan, atau jika sudah terlanjur, saya baca dengan suara serak seperti orang yang coba menahan tangis. Lantas, pertanyaan pertama saya di bulan puasa ini adalah: "Kenapa saya menangis ketika membaca Al-Quran?".

Setelah saya mencari jawabannya, saya memahami bahwa saya menangis karena saya teringat akan dosa-dosa saya terdahulu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah saya sesintemental itu, atau ayat-ayat di dalam Al-Quran memang memiliki daya magis untuk itu? Saya tidak tahu pasti, dan saya tidak punya kompetensi untuk menjawab pertanyaan itu.

Namun yang pasti, ayat-ayat Al-Quran seperti memiliki kemampuan untuk mengingatkan saya atas dosa dan kelalaian yang terjadi pada masa lampau. Al-Quran seperti mengajak saya untuk memperbaiki hal-hal buruk tersebut dengan berusaha menjadi lebih baik. Artinya, Al-Quran memiliki vibes (atmosfer) yang positif untuk meningkatkan mood booster (kepercayaan diri) seseorang.

Baca Juga: Cat Warna Rambut Dibolehkan dalam Islam?

Misalnya ketika saya baru saja membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, yang berarti Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Otak saya seperti langsung berpikir, "Ada lho Tuhan yang memberikan saya segalanya; sehat badan, sehat pikiran, kemudahan rezeki, istri yang baik dan anak yang menggemaskan.

Tapi kok akhir-akhir ini, saya cenderung kurang bersyukur, dan lalai dalam beribadah kepada-Nya ya? Tapi kok Allah tidak memutus rasa kasih dan sayangnya kepada saya?". Nah, pikiran-pikiran semacam itu yang kerap mendorong saya untuk menangis, dan lebih mau untuk memperbaiki diri.

Uniknya, perlu diketahui bahwa menangis saya di sini adalah menangis dengan penuh kebahagiaan dan rasa haru. Seperti setiap beban dan masalah pelik kehidupan yang ada di hati, pundak dan pikiran saya menjadi luluh seketika. Plong rasanya! Seperti saya sudah mengadukan ribuan bahkan jutaan dosa saya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam waktu sekejap.

Baca Juga: Disaat Berpuasa Jalankan Amalan Sunnah Ini di Bulan Ramadhan

Selain itu, Allah seperti sangat mengetahui hal-hal apa saja yang sedang menjadi problem dalam kehidupan saya sekarang ini. Hanya dengan melalui perantara ayat-ayat di dalam Al-Quran. Luar biasa, bukan? Oleh karena itu, saya mengibaratkan membaca Al-Quran sebagai bentuk meditasi, perenungan sekaligus relaksasi diri terhadap segala bentuk kepenatan rutinitas yang selama ini kita lalui.

Semoga bulan puasa ini kembali menjadi landasan awal bagi kita untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan hubungan kita antar sesama manusia. Sekaligus, sebagai alarm pengingat bagi kita semua, bahwa bumi dengan penciptaannya yang kompleks memiliki Sang Pencipta yang patut untuk disembah. Iyyaaka na'budu wa lyyaaka nasta'iin (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)

Wal akhir, menangis merupakan salah satu bentuk kelembutan seseorang, yang memahami dirinya sebagai hamba yang lemah, namun tetap berusaha untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Ya Allah.. Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Komentar

Loading...