1. Beranda
  2. Wisata

Menyusuri Cita Rasa Pesisir Aceh Lewat Gulai Jruk Drien, Kuliner Tradisional yang Bikin Rindu Kampung Halaman

Oleh ,

KOALISI.co – Kekayaan kuliner Aceh tidak hanya dikenal melalui mie Aceh atau kuah pliek u, tetapi juga memiliki hidangan tradisional yang unik dan sarat cita rasa khas, yakni Gulai Jruk Drien. Kuliner warisan masyarakat pesisir barat selatan Aceh ini menjadi salah satu sajian autentik yang mulai kembali dilirik sebagai daya tarik wisata kuliner daerah.

Gulai jruk drien dikenal sebagai masakan berbahan dasar durian fermentasi yang diolah bersama rempah-rempah khas Aceh. Aroma kuat dan rasa asam gurihnya menjadikan makanan ini memiliki karakter tersendiri yang sulit ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Di wilayah pesisir barat selatan Aceh seperti Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, hingga Aceh Jaya, gulai jruk drien masih sering disajikan dalam acara keluarga, kenduri adat, maupun momen berkumpul bersama masyarakat kampung.

Baca Juga: Kopi Khop, Warisan Rasa dari Aceh Barat

Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaninggrum, mengatakan gulai jruk drien merupakan salah satu identitas kuliner masyarakat pesisir yang memiliki nilai budaya tinggi dan patut dipromosikan lebih luas sebagai bagian dari wisata kuliner Aceh.

“Gulai jruk drien bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga bagian dari warisan budaya masyarakat pesisir barat selatan Aceh. Kuliner ini memiliki cita rasa khas yang menggambarkan kekayaan rempah dan kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil alam,” ujar Puja Rahma Kusumaninggrum, Minggu (10/5/2026).

Menurutnya, nama “jruk drien” berasal dari bahasa Aceh, yakni “jruk” yang berarti asam atau fermentasi, sedangkan “drien” berarti durian. Daging durian matang difermentasi selama beberapa hari hingga menghasilkan rasa asam alami yang kemudian dijadikan bahan utama gulai.

Baca Juga: Wisata Kuliner Pesisir Aceh Barat Makin Menarik dengan Hadirnya Teh Rumput Laut Khas Daerah

Proses pengolahan gulai jruk drien terbilang cukup tradisional. Durian fermentasi dicampur dengan berbagai rempah seperti cabai merah, kunyit, serai, bawang merah, bawang putih, ketumbar, serta daun kunyit. Setelah itu, bahan tersebut dimasak bersama ikan, udang, atau rebung hingga menghasilkan kuah gulai yang kental dan kaya rasa.

Salah satu ciri khas gulai jruk drien adalah perpaduan rasa pedas, gurih, dan asam yang menyatu sempurna. Aroma fermentasi durian yang kuat justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat kuliner tradisional Aceh.

“Banyak wisatawan yang penasaran karena namanya unik. Setelah mencoba, mereka justru menyukai rasa khasnya. Ini menjadi potensi besar untuk wisata kuliner daerah,” tambah Puja.

Kuliner khas Aceh dengan aroma rempah dan cita rasa unik dari fermentasi durian pilihan. HO/KOALISI.co.

Selain memiliki cita rasa khas, gulai jruk drien juga mencerminkan gaya hidup masyarakat pesisir Aceh yang sangat dekat dengan alam. Bahan-bahan yang digunakan sebagian besar berasal dari hasil kebun dan tangkapan laut masyarakat setempat.

Di beberapa desa kawasan pesisir barat selatan Aceh, tradisi memasak gulai jruk drien bahkan masih dilakukan secara gotong royong saat kenduri kampung maupun perayaan adat. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus cara menjaga warisan kuliner agar tidak hilang ditelan zaman.

Puja Rahma Kusumaninggrum berharap generasi muda Aceh dapat ikut melestarikan makanan tradisional daerah, termasuk gulai jruk drien, agar tetap dikenal luas hingga masa mendatang.

Baca Juga: Makna Filosofis Motif Rumpun Biluluk, Warisan Budaya Aceh Barat Daya yang Tetap Hidup

“Anak muda harus bangga dengan kuliner daerahnya sendiri. Gulai jruk drien memiliki potensi besar untuk diperkenalkan sebagai ikon wisata kuliner pesisir barat selatan Aceh karena tidak semua daerah memiliki makanan unik seperti ini,” katanya.

Dengan kekayaan rempah, cita rasa autentik, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya, gulai jruk drien menjadi bukti bahwa Aceh memiliki beragam kuliner tradisional yang layak dikenal hingga tingkat nasional. Di tengah berkembangnya wisata kuliner modern, sajian khas masyarakat pesisir ini tetap bertahan sebagai simbol rasa, tradisi, dan identitas budaya Aceh.

Baca Juga