1. Beranda
  2. Wisata

Mie Kocok Blangpidie, Kuliner Legendaris Aceh Barat Daya yang Kaya Rasa dan Sejarah

Oleh ,

KOALISI.co - Di sudut-sudut Kota Blangpidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang dikenal dengan julukan Bumoe Breuh Sigupai, terdapat satu sajian kuliner yang tak lekang oleh waktu.

Kepulan asap dari semangkuk mie kocok dengan aroma kaldu yang khas seakan menjadi panggilan rindu bagi masyarakat, terutama para perantau yang ingin kembali merasakan cita rasa kampung halaman.

Di balik kesederhanaan warung kopi dan kedai tradisional yang tersebar di kawasan ini, mie kocok hadir sebagai salah satu kuliner legendaris yang terus bertahan hingga kini. Sajian ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas kultural masyarakat pesisir barat-selatan Aceh yang sarat makna dan sejarah.

Baca Juga: Tradisi Kue Keukarah Aceh Barat Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Berbeda dengan berbagai jenis olahan mie dari daerah lain di Indonesia yang umumnya menggunakan kuah santan atau bumbu rempah yang kental, mie kocok Blangpidie justru tampil sederhana. Kuahnya bening dan relatif ringan, namun menyimpan kekayaan rasa yang berasal dari kaldu ayam atau sapi yang direbus dalam waktu lama.

Proses perebusan kaldu dilakukan secara perlahan untuk menghasilkan cita rasa alami yang kuat. Tanpa dominasi penyedap buatan, kuah mie kocok menghadirkan kesegaran yang otentik. Inilah yang membuat hidangan ini memiliki karakter khas yang sulit ditemukan pada kuliner lainnya.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat Daya, Najman Riadhi, menyampaikan bahwa mie kocok bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga.

Semangkuk mie kocok khas Blangpidie disajikan dengan kuah kaldu bening, tauge, dan taburan bawang goreng, menghadirkan cita rasa autentik kuliner Abdya. dok. Duta Wisata Kabupaten Abdya, Najman Riadhi.

“Mie kocok ini adalah identitas kuliner masyarakat Abdya. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan, karena rasa yang dihasilkan benar-benar alami dan autentik,” ujarnya, kepada KOALISI.co, Minggu (26/4/2026).

Ia menambahkan bahwa daya tarik mie kocok tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada proses pembuatannya yang unik. Teknik memasak yang khas menjadi ciri utama yang membedakan mie kocok dengan jenis mie lainnya.

Nama “mie kocok” sendiri berasal dari metode penyajiannya. Mie kuning dan mie putih tebal dimasukkan ke dalam saringan aluminium bertangkai kayu, lalu dicelupkan ke dalam air mendidih sambil dikocok selama beberapa detik. Proses ini bertujuan untuk menghasilkan tekstur mie yang kenyal dan matang sempurna.

Baca Juga: Alquran Wangi 700 Tahun di Aceh Barat, Warisan Religi yang Sarat Sejarah dan Misteri

Setelah itu, mie ditiriskan dan disajikan dalam mangkuk. Kuah kaldu hangat kemudian dituangkan, dilengkapi dengan tauge segar, suwiran ayam, irisan seledri, serta taburan bawang goreng. Bagi penikmat setia, menambahkan telur ayam kampung setengah matang menjadi pelengkap yang semakin menyempurnakan rasa.

“Proses kocok inilah yang menjadi ciri khas. Selain memberikan tekstur yang pas, juga menjadi bagian dari tradisi dalam penyajian mie ini,” kata Najman Riadhi.

Secara historis, keberadaan mie kocok di Blangpidie telah ada sejak dekade 1960-an. Popularitasnya mulai dikenal luas berkat seorang perantau bernama Said Idrus yang mendirikan Warung Muslim di kawasan Jalan Selamat. Dari kedai sederhana tersebut, aroma kaldu mie kocok mulai menarik perhatian masyarakat dan perlahan menjadi kuliner favorit.

Sajian mie kocok tradisional Aceh Barat Daya dengan taburan tauge dan bawang goreng yang menggugah selera. dok Duta Wisata Kabupaten Abdya, Najman Riadhi.

Seiring berjalannya waktu, warisan kuliner ini terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kini, warung mie kocok dapat dengan mudah ditemukan di berbagai sudut Blangpidie, menjadikannya sebagai salah satu ikon kuliner daerah.

Bagi masyarakat Abdya, mie kocok memiliki nilai lebih dari sekadar makanan. Sajian ini menjadi media untuk mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa kebersamaan. Tidak jarang, mie kocok menjadi menu utama dalam pertemuan keluarga maupun ajang silaturahmi.

“Mie kocok ini punya nilai emosional yang kuat. Banyak perantau yang merindukan rasa ini, karena mengingatkan mereka pada kampung halaman,” ujar Najman.

Baca Juga: Motif Bungong Ue, Identitas Kain Khas Sabang yang Sarat Makna Budaya Pesisir

Ia juga mengungkapkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang memesan mie kocok untuk dikirim ke luar daerah, bahkan hingga ke Jakarta, sebagai bentuk pelepas rindu terhadap cita rasa khas Abdya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki peran penting dalam membangun identitas daerah. Mie kocok menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah makanan dapat menjadi bagian dari branding wilayah yang kuat.

Menurut Najman Riadhi, potensi kuliner seperti mie kocok perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari sektor pariwisata.

Baca Juga: Rujak Kak Eti di Titik Nol Kilometer Sabang, Sensasi Boh Meria yang Legendaris

“Jika dikelola dengan baik, mie kocok bisa menjadi daya tarik wisata kuliner yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Abdya,” katanya.

Ia berharap generasi muda dapat terus melestarikan kuliner ini agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Kita harus menjaga agar warisan ini tetap hidup. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang budaya dan identitas kita,” tambahnya.

Baca Juga: Kuah Ie Laot Seunudon, Kuliner Unik Aceh Utara yang Dimasak dengan Air Laut

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh Barat Daya, menikmati mie kocok di Blangpidie menjadi pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Kesederhanaan penyajian berpadu dengan kekayaan rasa menjadikan hidangan ini memiliki daya tarik tersendiri.

Lebih dari sekadar kuliner, mie kocok adalah cerita tentang sejarah, tradisi, dan kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat. Setiap suapan menghadirkan kenangan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada siapa saja yang mencicipinya.

Baca Juga