1. Beranda
  2. News

Pedagang Meugang di Aceh Utara Mengaku Rugi

Oleh ,

KOALISI.co – Tradisi Meugang dalam rangka menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Utara tahun ini mengalami ketidakpastian harga daging sapi di pasaran yang membuat para pedagang mengeluhkan kerugian.

Hal tersebut kata pedagang karena ketidakpastian terkait penetapan 1 Syawal hingga memicu fluktuasi harga daging serta menurunnya daya beli masyarakat.

Di Pasar Desa Kilometer Batu XII, Kecamatan Cot Girek, harga daging sapi dan kerbau justru mengalami penurunan pada Jumat (20/3/2026).

Baca Juga: Aceh Utara Kembali Dapat 1.123 Ekor Sapi Meugang Bantuan Dari Presiden Prabowo

Berdasarkan pantauan di lokasi, harga yang sehari sebelumnya mencapai Rp180.000 per kilogram, merosot menjadi Rp170.000 per kilogram pada hari ini.

Muhammad Isa, seorang pedagang di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa tren penurunan ini dipicu oleh sepinya pembeli.

Menurutnya, banyak warga yang ragu untuk berbelanja akibat perbedaan prediksi kapan Hari Raya Idul Fitri jatuh.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Hari Raya Idulfitri pada Sabtu 21 Maret 2026 

"Penurunan harga dipicu karena ketidakpastian penetapan hari lebaran," kata Isa kepada KOALISI.co, Jumat (20/3/2026).

Dikatakan Isa, banyak pedagang sudah mulai berjualan sejak Rabu (18/3) karena memprediksi Lebaran jatuh pada Jumat.

"Namun lebaran ditetapkan Sabtu besok,  daya beli warga jadi menurun," ujar Isa.

Baca Juga: Besok, Muhammadiyah Aceh Utara Gelar Shalat Idulfitri di Cot Seurani

Hingga Jumat pagi pukul 10.00 WIB, stok daging meugang di lapak-lapak pedagang terpantau masih menumpuk.

Untuk menyiasati kerugian yang lebih besar, para pedagang terpaksa menurunkan harga jual.

Selain daging, bagian tulang-belulang kini dijual dengan kisaran harga Rp60.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

Kondisi Berbeda di Pasar Kuta Makmur.

Di Pasar Kedai Buloh Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, justru harganya tinggi.

Baca Juga: Ini Enam Lokasi Rukyat Hilal di Aceh

Di wilayah ini, harga daging meugang melonjak hingga Rp200.000 per kilogram, naik signifikan dari harga sebelumnya yang berkisar Rp180.000.

Makni, seorang pedagang setempat, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah pedagang yang turun ke pasar.

Pengalaman merugi pada dua hari sebelumnya membuat banyak pedagang memilih untuk tidak berjualan pada hari ini, sehingga pasokan berkurang sementara permintaan tetap ada.

Baca Juga: Kata Kemenag Aceh Terkait Kondisi dan Penentuan 1 Syawal 1447 H

"Tidak banyak lagi orang yang jualan hari ini. Karena dua hari lalu stok melimpah tapi yang beli sedikit, jadi banyak pedagang rugi dan memilih berhenti," pungkas Makni.

Baca Juga