In-Depth
Retaknya Ruang Pengungsian Warga

Jembatan Sampan dan Ketahanan Kolektif
Jantung pertahanan gampong saat itu bertumpu pada lima unit sampan kayu kecil, alat transportasi sederhana yang biasanya hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen dari kebun seberang sungai.
Sampan yang kapasitas normalnya hanya muat untuk empat orang, malam itu dipaksa bertaruh nyawa mengangkut hingga delapan jiwa secara bergantian. Para pria di desa mengemudikan perahu, menembus pekatnya malam dan derasnya arus demi mengungsikan anak-anak dan lansia ke titik tertinggi di perbukitan gampong, serta mengangkut warga lain yang rumahnya tenggelam dan terisolasi.
Di tengah kepungan air bah itulah, sebuah aksi nekat yang tak akan pernah dilupakan Ardi seumur hidupnya terjadi. Ketika malam kian larut dan jeritan panik warga bersahut-sahutan, pasokan logistik penting masih terperangkap di dalam rumah-rumah panggung yang hampir tenggelam sepenuhnya. Tanpa pikir panjang mengenai keselamatan dirinya, Ardi mengambil keputusan ekstrem.
Baca Juga: Sungai Krueng Peutoe Meluap, Tiga Gampong di Lhoksukon Aceh Utara Terendam Banjir
Ia melepas baju, menarik napas dalam-dalam, lalu menyelam ke dalam gulita air keruh yang menggenangi bagian dalam rumah warga. Di dalam ruang yang tersandera arus pekat itu, ia meraba-raba ke dalam air demi menyelamatkan karung-karung beras dan sisa gabah hasil panen yang belum sempat hancur terendam, serta mengamankan barang-barang berharga milik tetangganya.
Taruhan nyawanya di bawah permukaan air cokelat tersebut membuahkan hasil, karung-karung beras dan gabah yang berhasil ia evakuasi ke atas sampan menjadi penyambung napas bagi puluhan nyawa yang menanti di atas bukit.
Sebab, perjuangan memang tidak berhenti setelah warga berhasil dievakuasi ke perbukitan Dusun Bukit Cinta. Di atas bukit, mereka terkurung tanpa pasokan logistik bantuan formal dari luar. Pola bertahan hidup akhirnya terbentuk dengan sendirinya tanpa ada komando atau perintah dari pamong desa.
Baca Juga: Empat Jembatan Rusak Pascabanjir Diusulkan Segera Dibangun, Pemerintah Aceh Minta Respons Cepat BNPB
Warga yang masih memiliki simpanan padi di lumbung rumahnya termasuk beras dan gabah hasil selaman darurat sejak malam itu secara sukarela membaginya kepada tetangga yang tidak memiliki stok pangan atau yang bahan makanannya telah hanyut dibawa arus. Secara kolektif, para kaum perempuan mengolah padi tersebut menjadi nasi hangat di dapur umum darurat.
Semuanya bergerak atas dasar insting purba manusia, bertahan hidup bersama-sama. Pengalaman pahit itulah yang kini membuat Ardi dan warga Dusun Bukit Cinta tidak lagi mau meremehkan mendung di langit Peunaron. Ketika alarm alam dan rilis BMKG kembali berbunyi hari ini, mesin sampan transportasi darurat itu sudah dipanaskan, dan ikatan talinya dipastikan erat.

Warga juga mulai mengamankan stok makanan cadangan semampu mungkin sebagai bentuk kesiapsiagaan, jika bencana ekologis seperti tahun 2025 kembali datang.
Riak Kecemasan yang Sama
Geliat kesiapsiagaan swadaya di pedalaman Peunaron Baru rupanya bukan satu-satunya cerita pertahanan di garis depan Aceh Timur. Jika bergeser agak ke hilir, riak kecemasan yang sama dengan skala yang lebih masif sedang membayangi Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak.
Wilayah ini memegang catatan kelam sebagai salah satu desa yang paling sering dan paling parah dihantam bencana banjir tahunan.




Komentar