In-Depth

Retaknya Ruang Pengungsian Warga

Warga Gampong Seumanah jaya sedang memantau debit air sungai. Itu rutin dilakukan sejak memasuki bulan september. Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

KOALISI.co - Gerimis tipis mulai membasahi jalanan tanah di Dusun Bukit Cinta, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron. Jalur berlumpur itu seketika berubah menjadi licin, membuat sepeda motor seorang warga terpeleset dan nyaris terjatuh saat berjuang menuruni bukit.

Di ujung jalan setapak yang berjarak sekitar dua kilometer dari jalan lintas Provinsi Peureulak–Lokop inilah, sekelompok masyarakat pedalaman Aceh Timur menggantungkan hidupnya.

Bagi warga setempat, jalan berlumpur ini adalah saksi bisu petaka. Pada akhir tahun 2025 lalu, jalur evakuasi ini tenggelam total dihantam banjir bandang dengan ketinggian air mencapai lima hingga tujuh meter.

Baca Juga: Perempuan Jadi Tersangka Kebakaran Vila di Bener Meriah, Kerugian Capai Rp500 Juta

Sesampainya di permukiman, saya disambut oleh Ardiansyah (34) dengan segelas kopi hangat. Ardi baru saja melangkah pulang dari tepian sungai yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Saban pagi, ia kini rutin memeriksa debit air dan memastikan ikatan boat kecil miliknya di batang pohon tepi sungai tidak kendur.

Ritual ini menjadi kewajiban barunya sejak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Aceh, pekan lalu.

Ada riak kecemasan yang tertahan di bola mata Ardi. Bagi orang-orang kota, selembar kertas rilis peringatan dini mungkin hanya berarti instruksi untuk membawa payung. Namun, bagi Ardi yang tinggal di wilayah pedalaman yang berjarak hampir dua jam perjalanan darat dari pusat Kabupaten di Idi Rayeuk, rilis itu adalah alarm pembawa pesan, maut bisa kapan saja datang dari riak air sungai yang meluap.

Baca Juga: Menanam Rumah di Ladang Bencana

Yang Tersisa dari Kerak Lumpur 2025
Ingatan Ardi tentang bencana ekologis setahun lalu itu belumlah menguap. Kala itu, air bah datang tanpa mengetuk pintu. Daratan yang biasanya menjadi tempat anak-anak berlari bebas, dalam hitungan jam berubah menjadi kepungan arus cokelat pekat. Air merangsek naik, merendam rumah-rumah warga hingga menenggelamkan orang dewasa.

Di tengah bencana yang terjadi serentak di hampir seluruh wilayah kabupaten, Peunaron Baru seketika lumpuh dan terisolasi total. Akses jalan darat terputus, membuat kendaraan penyelamat mustahil menembus masuk.

Kondisi jalan setapak di dusun Bukit Cinta, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron. Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

"Waktu itu kami sadar, kalau hanya duduk melipat tangan menunggu evakuasi dari pemerintah, mungkin nyawa kami sudah hanyut bersama harta benda," kenang Ardi, menatap nanar ke arah rumahnya.
Saat kondisi sedang mencekam dan bantuan dari luar tak kunjung menembus pekatnya jalur darat yang lumpuh, ego keduniawian runtuh. Warga memilih untuk bergerak secara mandiri bergotong-royong untuk saling membantu satu sama lain karena mengingat mereka senasib seperjuangan dalam bertahan hidup.

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...