1. Beranda
  2. Foliopini

Rohingya: Terusir Akibat Gagal Adaptasi

Oleh ,

Artinya, jika memang benar demikian, serta merujuk pada pernyataan Ruben dan Stewart (2006) dalam buku mereka 'Communication and Human Behaviour', maka pengungsi Rohingnya secara sadar tidak mampu mempelajari hal-hal yang baru untuk bisa bertahan hidup di Aceh, sehingga para penduduk jengkel dan mulai mengusir mereka.

Tampaknya, UNHCR juga kurang tepat dalam mengelola pengungsi tersebut, karena UNHCR telah gagal dalam menjalankan fase-fase adaptasi dalam lingkup komunikasi lintas budaya kepada mereka, seperti:

1. Fase Perencanaan. UNHCR gagal menyiapkan pengungsi Rohingnya untuk mampu 'berkomunikasi' dengan warga lokal. Padahal tercatat pengungsi Rohingnya telah berada di Aceh sejak 2015 sampai dengan sekarang ini (okezone).

2. Fase Honeymoon. Pengungsi Rohingnya gagal paham jika memilih Indonesia sebagai negara tujuan, karena akan mudah mendapatkan pekerjaan. Apalagi jika memang benar, bahwa memang terdapat indikasi kuat pengungsi Rohingnya merupakan korban dari Tindak Pidana Perdagangan Orang dan/atau Penyelundupan Orang (TPPO).

Padahal perlu untuk diketahui, Aceh merupakan Provinsi Termiskin di Sumatera berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. Jumlah penduduk miskin di Aceh meningkat dari 806,82 ribu menjadi 818,47 ribu orang per September 2022 (kompas.com).

Baca dihalaman selanjutnya>>>

Baca Juga