Tas Pelepah Pinang Aceh Selatan: Dari Limbah Jadi Peluang Ekonomi Kreatif Desa
KOALISI.co – Pelepah pinang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai ekonomi. Namun di tangan kreatif para ibu rumah tangga di Desa Cot Bayu dan Ie Jeurneh, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, limbah alam tersebut justru disulap menjadi produk bernilai tinggi berupa tas unik yang ramah lingkungan.
Inovasi ini lahir melalui pendampingan BKSDA Aceh bersama WCS Program Indonesia dalam kegiatan pelatihan kelompok perempuan untuk usaha ekonomi kreatif di desa penyangga Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Tas pelepah pinang atau yang dikenal dalam bahasa Aceh sebagai situk menjadi bukti nyata bahwa kreativitas masyarakat mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus budaya. Proses pembuatannya tidak hanya mengedepankan keterampilan, tetapi juga mengandung filosofi tentang kemandirian dan pemanfaatan sumber daya lokal secara bijak.
Baca Juga: Makna Filosofis Motif Rumpun Biluluk, Warisan Budaya Aceh Barat Daya yang Tetap Hidup
Duta Wisata Kabupaten Aceh Selatan, Najman Riadhi, mengatakan bahwa kerajinan ini memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai produk unggulan daerah. “Tas pelepah pinang bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga simbol bagaimana masyarakat desa mampu berinovasi dari hal yang sederhana menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya, kepada KOALISI.co, Rabu (29/4/2026).
Proses pembuatan tas ini dimulai dari pengumpulan pelepah pinang bekas yang diambil dari kebun warga. Setelah itu, bahan dipilah dan dibersihkan untuk memastikan kualitas terbaik. Pelepah dengan warna cokelat alami dipilih karena memiliki corak unik yang nantinya menjadi daya tarik tersendiri pada produk akhir.
Tahapan berikutnya adalah proses penjemuran. Pelepah pinang dikeringkan hingga memiliki tekstur yang kuat dan tahan lama. Proses ini menjadi kunci agar tas tidak mudah rusak saat digunakan. Setelah kering, pelepah dikupas untuk menghasilkan permukaan yang lebih halus dan bersih sebelum masuk ke tahap desain.
Dalam proses pembuatan motif, para pengrajin menyesuaikan dengan selera pasar. Pelepah yang telah dipotong kemudian dianyam secara manual menggunakan tangan. Pola anyaman yang digunakan umumnya berbentuk kotak atau zig-zag, menghasilkan tampilan estetis yang khas. Setelah bentuk tas terbentuk, bagian tepi diperkuat dengan jahitan kain atau benang agar lebih kokoh.
“Dulu kami hanya memanfaatkan buah pinang saja, tetapi sekarang pelepahnya juga bisa menjadi sumber penghasilan,” ujar salah satu pengrajin. Ia menambahkan bahwa kreativitas ini membuka peluang baru bagi masyarakat desa, khususnya ibu rumah tangga.
Sebagai sentuhan akhir, tas biasanya dilengkapi dengan aksen tambahan seperti tali dari serat pinang atau bordir motif khas Aceh Selatan. Warna alami pelepah yang dipertahankan memberikan kesan alami dan ramah lingkungan, sesuai dengan tren produk berkelanjutan yang kini semakin diminati.
Baca Juga: Kasab Aceh Barat Daya, Warisan Budaya Bernilai Tinggi yang Terus Bertahan di Tengah Zaman
Secara ekonomi, usaha ini mulai memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Cot Bayu dan Ie Jeurneh. Setiap kelompok UMKM terdiri dari belasan anggota yang bekerja secara terstruktur sesuai keahlian masing-masing, mulai dari pemilihan bahan, pembuatan motif, hingga proses jahit-menjahit. Produk yang dihasilkan dijual dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan desain.
Najman Riadhi menambahkan bahwa kehadiran produk ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperluas jenis usaha di desa. “Selama ini produk kerajinan di Aceh Selatan didominasi makanan dan bordir. Tas pelepah pinang membuka peluang baru berbasis bahan alam yang memiliki nilai jual tinggi,” katanya.
Selain dampak ekonomi, kegiatan ini juga memperkuat nilai sosial masyarakat. Proses produksi yang dilakukan secara berkelompok mendorong terciptanya semangat gotong royong. Para ibu rumah tangga bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi pengetahuan untuk menghasilkan produk terbaik. Hal ini secara tidak langsung mempererat hubungan sosial di lingkungan desa.
Meski demikian, pengembangan usaha ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku yang bergantung pada pelepah pinang dari kebun warga. Selain itu, proses produksi yang masih manual membuat kapasitas produksi belum maksimal. Di sisi pemasaran, penjualan masih didominasi pasar lokal dan toko kerajinan di Tapaktuan, sementara pemasaran digital belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan turut memberikan dukungan terhadap pengembangan kerajinan ini. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Aceh Selatan, Nafisah Mirwan, menyatakan bahwa produk tas pelepah pinang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha ekonomi kreatif. Ia berharap para pengrajin terus berinovasi dan memperluas jenis produk yang dihasilkan.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah, lembaga pendamping, serta semangat masyarakat, tas pelepah pinang diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas. Produk ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan baru, tetapi juga menjadi identitas budaya yang memperkuat citra Aceh Selatan sebagai daerah yang kaya akan kreativitas berbasis kearifan lokal.
Baca Juga: Dari Api dan Baja, Utoh Ishak Jaga Tradisi Pembuatan Rencong Aceh di Aceh Utara
Najman Riadhi menegaskan bahwa keberhasilan ini harus terus dijaga dan dikembangkan. “Ini adalah contoh nyata bagaimana inovasi sederhana di desa dapat memberikan dampak besar. Harapannya, produk ini bisa dikenal secara nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Melalui pemanfaatan pelepah pinang, masyarakat Desa Cot Bayu dan Ie Jeurneh telah membuktikan bahwa limbah alam dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Tradisi, kreativitas, dan semangat kebersamaan menjadi fondasi kuat dalam menjaga keberlanjutan usaha ini.

