DPKA Sebut Gerakan Aceh Membaca Jadi Motor Peningkatan Minat Baca di Tanah Rencong

Gerakan Aceh Membaca Jadi Motor Peningkatan Minat Baca di Tanah Rencong. dok IST

KOALISI.co - Pemerintah Aceh terus menggencarkan upaya peningkatan budaya literasi melalui program Gerakan Aceh Membaca. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), Syaridin, menegaskan bahwa gerakan tersebut menjadi perhatian penting di tengah masih rendahnya minat baca masyarakat.

“Gerakan ini menjadi perhatian penting bagi kita semua karena minat baca masyarakat masih tergolong rendah. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan membaca dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Syaridin, Senin, 23 Februari 2026.

Berdasarkan data tahun 2024, tingkat kegemaran membaca masyarakat Aceh berada di peringkat ke-18 secara nasional dengan skor 69,93 poin. Angka tersebut masih berada di bawah Provinsi Riau yang mencatatkan 70,26 poin. Sementara itu, rata-rata nasional telah mencapai 72,44 poin dan melampaui target nasional sebesar 71,3 poin.

Baca Juga: Pustaka Digital DPKA Memudahkan Akses Literasi Masyarakat Aceh

Meski demikian, capaian Aceh dinilai menunjukkan tren positif. Syaridin menyebut, peningkatan skor tersebut menjadi indikator adanya perbaikan akses literasi serta hasil kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong budaya membaca di tengah masyarakat.

“Walaupun masih dalam kategori sedang, ini menunjukkan adanya peningkatan dan keberhasilan kolaborasi dalam memperluas akses literasi,” katanya.
Syaridin menjelaskan gerakan ini lahir dari kegelisahan terhadap rendahnya budaya baca masyarakat. Di tengah gempuran media sosial dan informasi instan, kebiasaan membaca buku dinilai perlu kembali diperkuat sebagai fondasi berpikir kritis.

“Budaya membaca adalah modal utama dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, dan kreatif. Tanpa itu, kita akan tertinggal,” ujar Syaridin.
Untuk mendukung peningkatan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh terus melakukan pembenahan fasilitas. Gedung Perpustakaan Aceh kini telah bertransformasi menjadi ruang publik edukatif dengan konsep yang lebih modern dan nyaman.

Baca Juga: DPKA: TMB Dorong Peningkatan Budaya Literasi Masyarakat

Bangunan empat lantai itu dilengkapi beragam fasilitas, mulai dari ruang baca anak, ruang remaja, layanan bagi penyandang disabilitas, ruang multimedia, hingga theater library yang dimanfaatkan untuk pemutaran film dokumenter. Konsep tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk datang dan memanfaatkan layanan perpustakaan.

“Fokus kami adalah menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang trendi, ramah, dan menarik agar masyarakat semakin gemar membaca,” ujar Syaridin.

Selain revitalisasi gedung perpustakaan, Pemerintah Aceh juga menghadirkan inovasi baru berupa “Mall Baca”. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat literasi modern yang tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi ruang interaksi publik dan ikon baru daerah.

Baca Juga: DPKA Rutin Gelar Pustaka Keliling Untuk Gaet Minat Baca Siswa Aceh

Mall Baca diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap buku dan sumber informasi berkualitas, sekaligus memperluas jangkauan layanan literasi hingga ke berbagai kalangan.

Gerakan Aceh Membaca tahun 2025 sendiri telah dilaksanakan di sejumlah kabupaten dan kota, di antaranya Bener Meriah, Langsa, Aceh Selatan, dan Aceh Utara. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari siswa, mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

Beragam agenda digelar dalam rangkaian kegiatan tersebut, termasuk diskusi literasi, lomba membaca, serta kampanye gemar membaca yang menyasar pelajar dan komunitas lokal. Pemerintah daerah setempat turut berkolaborasi untuk memastikan program berjalan optimal dan menjangkau masyarakat secara luas.

Gerakan Aceh Membaca Jadi Motor Peningkatan Minat Baca di Tanah Rencong. dok. IST

Syaridin berharap, program Gerakan Aceh Membaca dapat terus berlanjut secara berkesinambungan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Aceh. Ia menekankan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berdaya saing.

“Semoga Gerakan Aceh Membaca menjadi langkah bersama dalam menciptakan masyarakat Aceh yang literat, cerdas, dan berdaya saing,” ujarnya. (adv)

Komentar

Loading...