DPKA: TMB Dorong Peningkatan Budaya Literasi Masyarakat

KOALISI.co - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) menegaskan pentingnya penguatan peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam mendorong peningkatan budaya literasi di tengah masyarakat.
Sekretaris DPKA, Zulkifli, mengatakan kemampuan dan minat membaca merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, literasi bukan hanya soal kebiasaan membaca, tetapi juga menyangkut kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengembangkan gagasan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia secara umum masih tergolong rendah. Kondisi ini turut berdampak pada sejumlah daerah, termasuk Aceh, yang masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan budaya membaca buku secara konsisten.
Baca Juga: DPKA Rutin Gelar Pustaka Keliling Untuk Gaet Minat Baca Siswa Aceh
Berdasarkan data terakhir yang dirilis pemerintah, tingkat kegemaran membaca masyarakat Aceh berada dalam kategori sedang dan belum sepenuhnya melampaui rata-rata nasional. Meski menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut dinilai masih perlu didorong melalui berbagai program literasi yang berkelanjutan.
Zulkifli menilai keberadaan TBM menjadi salah satu instrumen penting untuk menjawab tantangan tersebut. TBM hadir lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menjangkau kelompok yang belum sepenuhnya terlayani oleh perpustakaan formal.
“Taman Bacaan Masyarakat adalah wadah penting dalam meningkatkan literasi. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap dapat menumbuhkan minat baca sejak dini, terutama bagi anak-anak, sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan mereka,” ujarnya, Rabu, 25 Februari 2026.
Baca Juga: ASN DPKA Aceh Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Hidrometeorologi
Ia menjelaskan, membangun budaya membaca harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara konsisten. Anak-anak yang terbiasa membaca akan memiliki daya imajinasi, kemampuan berbahasa, dan pola pikir yang lebih berkembang. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut akan membentuk generasi yang lebih adaptif dan kompetitif.
Menurut Zulkifli, perpustakaan dan TBM memegang peran strategis dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, terbuka, dan berdaya saing. Keberadaan ruang baca di tengah komunitas bukan sekadar menyediakan buku, tetapi juga menciptakan ruang interaksi dan pembelajaran sosial.
“Perpustakaan tidak hanya tempat menyimpan buku, tapi juga pusat literasi yang menentukan maju tidaknya sebuah bangsa,” katanya.
Baca Juga: DPKA Dorong TBM Jadi Garda Terdepan Literasi Masyarakat
Ia menambahkan, penguatan literasi di Aceh membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, komunitas literasi, hingga keluarga. Lingkungan keluarga, kata dia, menjadi fondasi pertama dalam menanamkan kebiasaan membaca buku kepada anak.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli juga menyampaikan apresiasi kepada para pengelola TBM yang selama ini konsisten menghadirkan ruang baca di tengah masyarakat. Menurutnya, dedikasi para pegiat literasi menjadi modal sosial yang sangat penting dalam meningkatkan indeks literasi daerah.
Ia menekankan bahwa TBM perlu terus berinovasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan teknologi digital, pengadaan buku-buku yang sesuai kebutuhan pembaca, hingga penyelenggaraan kegiatan kreatif seperti diskusi, lomba literasi, dan kelas menulis dapat menjadi strategi untuk menarik minat masyarakat.

“Melalui kegiatan apresiasi ini, kita bisa melihat sejauh mana kekuatan dan tantangan yang dihadapi TBM, serta mendapatkan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas. Kami berharap hasil penilaian hari ini menjadi acuan dalam pengembangan TBM ke depan,” ujar Zulkifli.
DPKA berharap penguatan peran TBM dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan tingkat literasi membaca buku di Aceh. Dengan akses bacaan yang lebih luas dan program literasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin terbiasa menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup.
Upaya tersebut diyakini tidak hanya berdampak pada peningkatan angka statistik literasi, tetapi juga pada kualitas berpikir masyarakat secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, budaya membaca yang kuat akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Aceh yang lebih maju, cerdas, dan berdaya saing. (adv)




Komentar