Peringati May Day, SMUR Gelar Aksi: Ini 8 Tuntutan Kami

KOALISI.co – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) menggelar aksi demonstrasi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Taman Riyadhah Kota Lhokseumawe, Jumat (1/5/2026) sore.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga 17.45 WIB ini diisi dengan orasi politik dan pembacaan puisi sebagai bentuk ekspresi perlawanan terhadap kondisi kesejahteraan buruh yang dinilai masih memprihatinkan.
Para orator secara bergantian menyampaikan kritik tajam terhadap berbagai kebijakan yang dinilai terus mengabaikan hak-hak dasar pekerja dan rakyat luas.
Baca juga: Angka Pengangguran Lhokseumawe Tertinggi di Aceh
Ketua SMUR, Afrizal Zikri, menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar agenda tahunan biasa, melainkan momentum untuk melawan sistem yang menindas.
“May Day bukanlah sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum perlawanan terhadap sistem yang menindas. Kondisi buruh di Indonesia, khususnya di Aceh, masih berada dalam situasi yang tidak layak, dengan upah rendah, minim jaminan sosial, serta ketidakpastian kerja,” ujar Afrizal.
Dalam aksi tersebut, SMUR menyampaikan sejumlah tuntutan konkret kepada pemerintah, antara lain:
1. Cabut UU Omnibus Law yang dinilai berwatak kolonial dan merampas hak-hak buruh.
2. Tarik militer dari ruang sipil dan hentikan praktik militerisasi yang membungkam demokrasi.
3. Selesaikan masalah pengangguran dengan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat.
4. Wujudkan pendidikan gratis sebagai hak dasar, bukan dijadikan komoditas.
5. Tuntaskan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
6. Mendesak pemerintah menurunkan harga bahan pokok yang semakin mencekik.
7. Menuntut Pemerintah Aceh serius menangani persoalan daerah, termasuk Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dan rekonstruksi pascabencana yang terbengkalai.
8. Naikkan UMP Aceh sesuai standar kelayakan hidup yang sebenarnya, bukan sekadar angka formal.
Baca juga: Ini Penjelasan Dinsos Aceh Utara soal Golongan Desil Warga
Aksi ini menjadi penegasan bahwa mahasiswa dan rakyat tidak akan diam melihat ketidakadilan terus berlanjut.
“May Day adalah panggilan untuk melawan, bukan merayakan. Jalanan tetap menjadi ruang paling jujur untuk menyuarakan kebenaran ketika ruang-ruang formal telah kehilangan keberpihakan,” tegasnya.




Komentar