Bitai, Warisan Persahabatan Aceh-Turki yang Perkuat Ketahanan Keluarga dan Peradaban Islam
KOALISI.co - Di balik suasana tenang Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, tersimpan sebuah warisan sejarah yang hingga kini terus mengajarkan pentingnya nilai keislaman, persaudaraan, dan ketahanan keluarga. Kawasan ini menjadi bukti nyata eratnya hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Turki Utsmani yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu.
Jejak hubungan bersejarah tersebut masih dapat disaksikan melalui Kompleks Makam Tengku Di Bitai. Situs cagar budaya ini menjadi pengingat perjalanan diplomasi, dakwah, dan penyebaran Islam yang pernah menghubungkan Aceh dengan Turki. Keberadaan nisan-nisan kuno di kawasan tersebut menjadi bukti autentik sejarah yang tetap terjaga hingga sekarang.
Di dalam kompleks makam terdapat 25 pusara yang mengelilingi makam Sultan Salahuddin. Sebanyak tujuh makam dibuat menggunakan batu cadas, sedangkan 18 makam lainnya menggunakan batu sungai. Sejumlah nisan memiliki bentuk segi delapan yang dihiasi ukiran kaligrafi Arab, memperlihatkan keindahan seni Islam pada masa lampau.
Baca Juga: Wisata Religi Masjid Giok Nagan Raya, Keindahan Batu Giok yang Memikat
Keunikan lain terlihat pada bagian puncak nisan yang berbentuk cembung dengan lingkaran bersisi delapan. Bentuk tersebut merupakan karakteristik makam kuno yang mencerminkan kuatnya pengaruh budaya Islam dari wilayah Timur Tengah hingga Anatolia pada masa Kesultanan Turki Utsmani.
Ketujuh makam berbahan batu cadas berada di dalam kawasan benteng kuno yang diyakini merupakan peninggalan era Kesultanan Aceh. Setelah bencana tsunami 2004, area bersejarah tersebut direvitalisasi sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian situs budaya sekaligus mempertahankan warisan sejarah bagi generasi mendatang.
"Makam disitu merupakan umunya para ulama semua, dan satu orang ratu, makamnya yang paling ujung," kata Azimah, penjaga Kompleks Makam Tengku Di Bitai, pada KOALISI.co, Selasa (2/7/2026).
Baca Juga: Masjid Agung Babussalam Sabang, Destinasi Wisata Religi yang Menenangkan di Gerbang Pulau Weh
Tidak jauh dari kompleks makam berdiri Masjid Turki yang telah direnovasi dengan empat kubah besar. Hingga kini, masjid tersebut tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat dan menjadi tempat memperkuat nilai-nilai keislaman yang berperan penting dalam membangun ketahanan keluarga.
Di samping masjid terdapat sebuah bangunan sederhana berukuran sekitar enam meter persegi yang menyimpan berbagai artefak sejarah. Di dalamnya terdapat miniatur kapal dalam bingkai kaca, lukisan Sultan Selim beserta sejumlah sultan Turki lainnya, serta silsilah keturunan Tengku Syekh Di Bitai yang dipajang di dinding.
Nama Tengku Di Bitai merujuk kepada seorang ulama yang datang bersama rombongan Kesultanan Turki Utsmani ke Aceh pada abad ke-16. Berdasarkan catatan sejarah, nama aslinya adalah Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi, seorang ulama asal Palestina yang kemudian dikenal masyarakat Aceh sebagai Tengku Syekh Tuan Di Bitai.
Baca Juga: Alquran Wangi 700 Tahun di Aceh Barat, Warisan Religi yang Sarat Sejarah dan Misteri
Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh, Mizuar Mahdi Al Asyi, mengatakan kehadiran Tengku Di Bitai membuktikan bahwa hubungan Aceh dan Turki tidak hanya terjalin dalam bidang militer, tetapi juga melalui pendidikan, dakwah, serta pembinaan masyarakat.
"Beliau sangat dihormati karena kesehariannya digunakan untuk menerangi umat. Jadi Kesultanan Turki saat itu tidak hanya mengirim prajurit, tetapi juga ulama dan guru," ujarnya.
Saat itu Aceh berada di bawah pemerintahan Sultan Salahuddin yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam pada periode 1528 hingga 1539. Selain memperkuat pertahanan kerajaan, kerja sama dengan Turki juga diarahkan untuk meningkatkan pendidikan Islam dan memperluas hubungan dengan berbagai wilayah Muslim lainnya.
Seiring perjalanan waktu, Bitai berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Asia Tenggara. Banyak pelajar dari luar Aceh datang untuk memperdalam ilmu agama, termasuk dari Tanah Melayu serta berbagai kerajaan di kawasan regional.
"Dulu di Gampong Bitai ada pesantren. Banyak orang luar belajar agama Islam di sini, termasuk para sultan dan raja dari luar Aceh. Di sini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan," kata Azimah.
Keberadaan pesantren dan pusat dakwah tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat serta memperkuat ketahanan keluarga melalui pendidikan agama yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Masjid Putih Lhoksukon Jadi Ikon Baru Wisata Religi Aceh Utara yang Megah dan Modern
Selain menjadi tempat dimakamkannya para ulama, kompleks tersebut juga menjadi lokasi peristirahatan terakhir prajurit Turki Utsmani yang pernah datang membantu Kesultanan Aceh. Menurut Mizuar, ratusan tentara Turki pernah mendarat di kawasan Bitai dan mendirikan akademi militer guna memperkuat pertahanan Aceh menghadapi ancaman kolonial.
Hasil penelitian terhadap bentuk dan tipe nisan menunjukkan bahwa sebagian makam berasal dari abad ke-16 Masehi. Setidaknya terdapat delapan nisan yang diyakini berasal dari periode tersebut.
Masyarakat setempat bahkan menyebut kawasan di sekitar kompleks makam sebagai "Kampung Turki", sebutan yang tetap bertahan hingga sekarang. Nama itu semakin dikenal setelah Pemerintah Turki membangun ratusan rumah bantuan bagi korban tsunami Aceh di kawasan tersebut pascabencana 2004.
Hingga kini, Kompleks Makam Tengku Di Bitai terus menarik perhatian wisatawan, peneliti, hingga peziarah dari berbagai negara. Banyak warga Turki datang untuk menelusuri jejak leluhur mereka di Aceh. Peneliti dari Timur Tengah, Jepang, dan berbagai negara lainnya juga kerap berkunjung untuk mempelajari hubungan historis antara Aceh dan Turki.
Duta Wisata Banda Aceh, Sagti Aprilian, mengatakan Kompleks Makam Turki di Gampong Bitai merupakan salah satu destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi karena menyimpan bukti kuat hubungan erat antara Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani pada masa lampau.
"Keberadaan makam tersebut menjadi bukti nyata peran para tokoh dan pasukan Turki yang pernah datang ke Aceh untuk membantu mempertahankan wilayah ini dari ancaman kolonial serta memperkuat hubungan diplomatik dan keagamaan antara kedua kawasan," kata Sagti, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Sagti, mengunjungi Makam Turki tidak hanya memberikan pengalaman wisata sejarah, tetapi juga memperluas wawasan mengenai posisi strategis Aceh dalam jaringan peradaban Islam dunia.
"Situs ini mengingatkan generasi saat ini bahwa Aceh pernah menjadi pusat penting yang memiliki hubungan internasional yang kuat, sehingga keberadaan Makam Turki di Bitai menjadi warisan sejarah yang penting untuk dipelajari, dilestarikan, dan diperkenalkan kepada wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara," tutupnya.

