Rohingya: Terusir Akibat Gagal Adaptasi

Artinya jika pengungsi Rohingnya tidak mendapatkan pemahaman yang baik tentang hal ini, tentu akan menimbulkan gesekan dengan pencari kerja lokal. Walhasil keramahan warga lokal akan berubah menjadi kemarahan terhadap Rohingnya.
Hal ini tentu juga akan berdampak pada Fase Frustasi bagi kedua belah pihak. Bagi warga Aceh menjadi frustasi, karena niat awal membantu untuk menolong saudara sesama muslim dan atas dasar kemanusiaan, serta adat peumulia jamee (memuliakan tamu).
Tapi malah berakhir dengan kekecewaan, karena yang dibantu menjadi 'tidak tahu diuntung'. Sementara bagi pengungsi Rohingya juga frustasi, karena telah tertipu dengan harapan palsu yang dijanjikan oleh sindikat TPPO.
Menurut hemat saya, UNHCR masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang tersebut, yaitu melalui Fase Readjustment, dimana UNHCR menempatkan pengungsi Rohingnya pada negara-negara yang memang menandatangani Konvensi Pengungsi 1951.
Hingga pada akhirnya mendapatkan suaka di negara ketiga. Tentunya setelah mereka diberikan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan dalam menempuh hidup baru. Bukan hanya makan-tidur, dan malas bergaul, serta anak-anak mereka juga perlu untuk disekolahkan, meski belum atau tanpa status kewarganegaraan.




Komentar