SMAN 13 Banda Aceh Tanamkan Budaya Siaga Bencana Sejak Masa MPLS

KOALISI.co - Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 13 Banda Aceh menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai salah satu materi utama dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 pada Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai upaya membekali peserta didik baru dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi berbagai potensi bencana sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.
Materi disampaikan oleh Hidayat Syah Al Hakim dari Komunitas Youth Disaster Awareness Forum Aceh dengan tema "Membangun Budaya Sadar, Siap, dan Tangguh Bencana."
SMAN 13 Banda Aceh ini berada di Kecamatan Kuta Raja, kawasan pesisir utara Kota Banda Aceh yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah saat gempa bumi berkekuatan 9,1 magnitudo dan tsunami pada 26 Desember 2004.
Sehingga, pihak sekolah memandang pendidikan kebencanaan bukan sekadar pelengkap kegiatan MPLS, melainkan kebutuhan mendasar yang harus menjadi bagian dari budaya sekolah.
Dalam pemaparannya, Hidayat menjelaskan bahwa Aceh merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Indonesia.
Berbagai ancaman seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Ia juga mengutip data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mencatat sebanyak 3.274 dampak kejadian banjir dan longsor terjadi di puluhan kabupaten/kota di Pulau Sumatra pada akhir 2025.
Baca Juga: PLN ULP Geudong ajak Siswa SMAN 1 Samudera Mengenal PLN Mobile
Bencana tersebut mengakibatkan ribuan ruang kelas terdampak serta mengganggu proses belajar ratusan ribu peserta didik.
"Data tersebut bukan sekadar angka, melainkan pengingat bahwa setiap sekolah harus memiliki sistem kesiapsiagaan yang baik agar mampu melindungi seluruh warga sekolah ketika bencana terjadi," ujar Hidayat.
Ia juga mengajak peserta didik mengenang tragedi tsunami Aceh 26 Desember 2004 sebagai titik balik lahirnya kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), serta lahirnya Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana.
"Peristiwa tersebut harus menjadi pengingat bersama, khususnya bagi masyarakat yang tinggal dan belajar di kawasan pesisir, agar selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana," katanya.
Tidak hanya menyampaikan teori, sesi SPAB juga diisi dengan praktik kesiapsiagaan.
Para peserta diperkenalkan pada tiga pilar utama SPAB, yakni fasilitas belajar yang aman, manajemen penanggulangan bencana di sekolah, serta pendidikan pengurangan risiko bencana yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran.
Baca Juga: Tingkat Life Skill Siswa, SMAN 1 Penanggalan Jalin Kerjasama
Peserta didik juga mempraktikkan prosedur penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi melalui prinsip Merunduk, Berlindung, dan Bertahan (Drop, Cover, and Hold On).
Selain itu, mereka diajak mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan sekolah sekaligus mendiskusikan langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan apabila terjadi bencana.
Dalam sesi berikutnya, siswa dikenalkan dengan konsep Tas Siaga, yakni perlengkapan darurat yang disiapkan di rumah untuk menghadapi kondisi bencana.
Mereka juga memperoleh pemahaman mengenai peran seluruh unsur dalam ekosistem SPAB, mulai dari kepala sekolah, guru, peserta didik, hingga instansi kebencanaan seperti BPBA.
Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi kelompok yang mendorong peserta didik merumuskan langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun keluarga guna meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 13 Banda Aceh, Dini Milia, mengapresiasi kehadiran Hidayat Syah Al Hakim sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Saudara Hidayat Syah Al Hakim yang telah hadir sebagai narasumber pada kegiatan MPLS hari ketiga. Kehadiran alumni memberikan nilai tambah bagi peserta didik karena mereka dapat memperoleh pengalaman dan motivasi langsung dari sosok yang pernah menempuh pendidikan di sekolah ini," ujarnya.
Menurut Dini Milia, keterlibatan alumni merupakan bentuk sinergi yang terus dibangun sekolah.
Pengalaman yang dimiliki para alumni diharapkan mampu menginspirasi peserta didik sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dengan para lulusannya.
Baca Juga: PLN UID Aceh Siapkan Pasokan Listrik Andal untuk Proyek Sekolah Rakyat di Lhokseumawe
Sementara itu, Pembina OSIS SMAN 13 Banda Aceh, Azirah, berharap semangat SPAB terus berlanjut setelah kegiatan MPLS berakhir.
"Semangat SPAB ini tidak boleh berhenti ketika MPLS selesai. Ke depan, OSIS berencana menghidupkan simulasi evakuasi secara rutin serta kampanye kesadaran bencana agar kesiapsiagaan benar-benar menjadi budaya warga sekolah, bukan sekadar materi yang didengar sekali lalu dilupakan," katanya.
Antusiasme peserta juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah seorang peserta didik baru, Saidil Akbar, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan.
"Kegiatan SPAB di SMA Negeri 13 Banda Aceh sangat positif dan relevan mengingat lokasi sekolah berada di kawasan rawan bencana. Materi yang disampaikan mudah dipahami karena dikemas dengan santai, menarik, dan penuh semangat," ujarnya.
Hal senada disampaikan Zahiya Shanika. Ia mengapresiasi langkah sekolah yang memasukkan pendidikan kesiapsiagaan bencana ke dalam rangkaian MPLS.
"Saya sangat mengapresiasi langkah SMA Negeri 13 Banda Aceh yang menanamkan kesiapsiagaan bencana sejak MPLS. Membangun budaya aman bencana bukan sekadar penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan diskusi kelompok sehingga kami memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi," pungkas Zahiya Shanika.




Komentar