Transformasi Besar DPKA Aceh, Perpustakaan Kini Jadi Ruang Belajar, Kolaborasi, dan Inovasi
KOALISI.co – Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan memperoleh pengetahuan. Kondisi ini mendorong perpustakaan untuk bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang lebih dinamis, tidak hanya menyediakan koleksi buku, tetapi juga menghadirkan layanan berbasis teknologi, ruang kolaborasi, serta berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas belajar masyarakat. Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) terus mengembangkan layanan modern yang cepat, mudah diakses, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi yang tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi informasi, tetapi juga peningkatan kualitas pelayanan publik secara menyeluruh. DPKA terus mengembangkan perpustakaan digital, memperkuat sistem kearsipan elektronik, mendigitalisasi manuskrip kuno, serta menghadirkan fasilitas belajar yang nyaman agar perpustakaan menjadi ruang yang lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menjawab tantangan di era transformasi digital.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul, SH, mengatakan perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap menjadi pusat pengetahuan yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Trauma Healing DPKA Aceh, Cerita Penuh Harapan untuk Anak-anak Terdampak Bencana
"Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Karena itu, perpustakaan tidak boleh tertinggal. Kami terus berinovasi agar layanan yang diberikan semakin mudah diakses, cepat, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digital," ujar Syahrul, Selasa (26/5/2026)
Menurutnya, transformasi layanan menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung visi Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan budaya literasi, pemanfaatan teknologi informasi, serta pelayanan publik yang semakin efektif dan efisien.
Salah satu inovasi yang terus dikembangkan DPKA adalah layanan perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai koleksi buku elektronik, referensi ilmiah, literatur keagamaan, hingga koleksi khusus tentang Aceh secara daring. Melalui layanan tersebut, masyarakat tidak lagi harus datang langsung ke perpustakaan untuk memperoleh bahan bacaan karena seluruh koleksi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja menggunakan perangkat digital.
Baca Juga: Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Rak Buku, Librari Teater DPKA Jadi Magnet Baru Literasi
"Kami ingin memastikan bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Aceh, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Teknologi menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut," kata Syahrul.
Meski terus memperkuat layanan berbasis digital, keberadaan Gedung Perpustakaan Aceh tetap menjadi pusat aktivitas literasi yang ramai dikunjungi masyarakat. Setiap hari, ratusan hingga ribuan pengunjung memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia untuk membaca, mengerjakan tugas, melakukan penelitian, berdiskusi, maupun mengikuti berbagai kegiatan edukatif.
Untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka, DPKA menghadirkan beragam fasilitas modern, seperti ruang baca yang representatif, co-working space, ruang teknologi informasi, ruang multimedia, Aceh Corner, Kid's Corner, hingga area diskusi yang dirancang untuk mendukung proses belajar masyarakat dari berbagai kalangan usia.
Baca Juga: DPKA Aceh Bertransformasi Jadi Ruang Tumbuh Generasi, Perpustakaan Modern yang Melahirkan Inovasi
Sekretaris DPKA Aceh, Zulkifli, menjelaskan bahwa pelayanan perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan koleksi buku, tetapi juga menciptakan pengalaman yang nyaman dan menyenangkan bagi setiap pengunjung.
"Kami ingin masyarakat merasa nyaman ketika datang ke perpustakaan. Karena itu, pelayanan harus ramah, fasilitas harus memadai, dan suasana belajar harus mendukung. Perpustakaan harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar dan mengembangkan diri," ujarnya.
Menurut Zulkifli, pendekatan humanis menjadi salah satu prinsip utama dalam penyelenggaraan layanan di DPKA. Seluruh petugas didorong untuk memberikan pelayanan yang cepat, responsif, ramah, serta mampu membantu masyarakat memperoleh informasi sesuai kebutuhan.
Selain menyediakan fasilitas belajar yang nyaman, DPKA juga secara rutin menyelenggarakan berbagai program edukatif yang melibatkan masyarakat. Kegiatan seperti bedah buku, pelatihan menulis, literasi digital, storytelling untuk anak-anak, seminar, diskusi publik, workshop, hingga pelatihan bagi komunitas menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi di Aceh.
Berbagai program tersebut merupakan implementasi konsep Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, yaitu menjadikan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kualitas hidup.
Di bidang kearsipan, DPKA juga terus mempercepat transformasi digital melalui penerapan sistem pengelolaan arsip berbasis elektronik. Digitalisasi arsip menjadi langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi administrasi pemerintahan, mempercepat pelayanan, serta menjaga keamanan dokumen penting milik negara.
Baca Juga: DPKA Aceh Hadirkan Ruang Baca Ramah Anak, Tumbuhkan Minat Literasi Sejak Usia Dini
Melalui sistem digital tersebut, proses penyimpanan, pencarian, pengelolaan, hingga pemanfaatan arsip menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien. Upaya ini sekaligus mendukung implementasi Reformasi Birokrasi dan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di lingkungan Pemerintah Aceh.
Tidak hanya arsip pemerintahan, DPKA juga terus mempercepat digitalisasi manuskrip kuno Aceh sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan intelektual daerah. Berbagai naskah bersejarah yang memuat ilmu pengetahuan, sejarah, hukum adat, sastra, hingga pemikiran ulama Aceh kini mulai dialihkan ke dalam format digital sehingga dapat terjaga dengan baik sekaligus diakses lebih luas oleh masyarakat.
"Pelestarian manuskrip merupakan tanggung jawab kita bersama. Melalui digitalisasi, warisan intelektual Aceh dapat terus hidup dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang," ujar Zulkifli.
Baca Juga: DPKA Menyelamatkan Warisan Sejarah Aceh
Komitmen DPKA dalam meningkatkan kualitas pelayanan juga diwujudkan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Berbagai pelatihan, bimbingan teknis, serta pengembangan kompetensi terus dilaksanakan agar seluruh pegawai mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memberikan pelayanan yang profesional kepada masyarakat.
Syahrul menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
"Teknologi memang penting, tetapi pelayanan yang baik lahir dari sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat. Karena itu, kami terus meningkatkan kapasitas pegawai agar mampu memberikan pelayanan terbaik," katanya.
Ke depan, DPKA Aceh akan terus memperluas inovasi layanan melalui pengembangan perpustakaan digital, penambahan koleksi buku cetak maupun elektronik, peningkatan kualitas fasilitas perpustakaan, penguatan layanan literasi masyarakat, serta penyempurnaan sistem kearsipan digital yang terintegrasi.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat budaya membaca, memperluas akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia Aceh yang unggul, adaptif, dan berdaya saing.
Bagi DPKA, inovasi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan setiap layanan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui pelayanan yang cepat, mudah, transparan, dan humanis, DPKA terus memperkuat perannya sebagai institusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digital.
Transformasi yang terus dilakukan menjadi bukti bahwa perpustakaan dan kearsipan kini memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menyimpan buku dan dokumen. Keduanya telah berkembang menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, melek informasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Dengan semangat inovasi yang berkelanjutan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh terus mengukuhkan diri sebagai institusi modern yang tidak hanya menjaga warisan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan pelayanan publik berkualitas yang inklusif, profesional, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat Aceh.

