Ulama Sufi dari 13 Negara Berkumpul di Banda Aceh, Muzakarah Internasional Angkat Pesan Persatuan dan Perdamaian

Konferensi pers Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II di Aula Asrama Haji Gedung A2, Kota Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).

KOALISI.co – Sejumlah ulama dan tokoh sufi dari berbagai negara akan hadir di Banda Aceh dalam Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II 2026. Kegiatan yang mengangkat tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh.

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II yang berlangsung di Aula Asrama Haji Gedung A2, Kota Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).

Muzakarah internasional tersebut akan diikuti sekitar 700 peserta dari dalam dan luar negeri. Peserta terdiri dari ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan (OKP), serta berbagai unsur lainnya.

Baca Juga: Menyusuri Warisan Ulama dan Peradaban Islam di Masjid Tgk Dianjong Banda Aceh

Selain peserta resmi, panitia memperkirakan sekitar 50 ribu jamaah dari berbagai daerah akan hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan muzakarah.

Ketua Umum MPTT-Indonesia, Abi Sahal Tastari Waly, SE, MM, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai ajaran Islam dan tasawuf yang berkembang di Aceh kepada masyarakat internasional.

Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah. Karena itu, kegiatan muzakarah diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk mengangkat kembali nilai-nilai keislaman Aceh sekaligus memperkenalkan peran tasawuf dalam membangun kehidupan yang damai.

Baca Juga: Wagub Aceh Buka Rakor MPU se-Aceh 2026, Tekankan Peran Strategis Ulama dalam Menjaga Syariat dan Stabilitas Sosial

“Inti kegiatan ini adalah menyebarkan Islam Serambi Mekkah yang dikenal di Aceh. Ini juga menjadi cara kita mengangkat nama Aceh di mata dunia. Ajaran tasawuf penting untuk diperkenalkan karena tasawuf merupakan bagian dari ruh agama dan puncaknya adalah perdamaian,” ujar Abi Sahal.

Ia menjelaskan, para pemateri dalam muzakarah nantinya tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mengajak peserta mengamalkan nilai-nilai kebatinan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pesan yang akan ditekankan adalah upaya memperbaiki diri dan menghilangkan berbagai penyakit hati. Nilai tersebut dinilai penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis, saling menghormati dan mengedepankan perdamaian.

Panitia juga mengimbau seluruh peserta dan jamaah yang hadir agar menjaga keamanan serta ketertiban selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

Panitia menegaskan, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II hanya berfokus pada kegiatan keagamaan, khususnya penguatan nilai-nilai tauhid dan tasawuf.

“Tidak ada agenda pengibaran bendera maupun kegiatan lain di luar tujuan utama muzakarah. Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan kegiatan ini dengan isu-isu lain yang berkembang di ruang publik,” demikian penegasan panitia.

Sementara itu, Penasehat Panitia Muzakarah Internasional Ulama Tauhid ke-II, Abu Syukri Daud Pango, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kembali ajaran sufi di tengah masyarakat.

Ia menyebutkan, perkembangan ajaran sufi di Aceh memiliki akar sejarah yang kuat, termasuk pada masa Kesultanan Aceh Darussalam di era Sultan Iskandar Muda.

“Tujuan muzakarah internasional ini agar ajaran sufi dapat berkembang kembali sebagaimana pada masa Sultan Iskandar Muda. Kita ingin nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin semakin kuat di tengah masyarakat,” katanya.

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II 2026 diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan ulama dari berbagai negara, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, memperluas pemahaman keislaman serta mendorong pesan persatuan dan perdamaian dari Aceh untuk masyarakat dunia.

Komentar

Loading...