Wisata Bivak Belanda di Panton Luas Aceh Selatan: Jejak Sejarah Kolonial yang Jadi Destinasi Unggulan
KOALISI.co - Di atas perbukitan Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, berdiri sisa-sisa bangunan tua yang menyimpan cerita panjang tentang perang dan perlawanan. Destinasi yang dikenal sebagai Wisata Bivak Belanda ini kini mulai dikembangkan oleh masyarakat sebagai objek wisata sejarah yang potensial, memadukan nilai historis dengan panorama alam Samudra Hindia yang memukau.
Bivak Belanda bukan sekadar nama. Bangunan ini dulunya merupakan tempat perlindungan sementara milik tentara kolonial Belanda, khususnya pada masa Perang Aceh. Sejak 1931, kawasan ini digunakan oleh pasukan Marsose, unit militer Belanda yang dikenal memiliki peran besar dalam operasi militer di Aceh. Kini, sisa-sisa bangunan tersebut menjadi saksi bisu sejarah panjang perjuangan masyarakat Aceh.
Meski bangunan utama telah hilang dimakan waktu, sejumlah bagian penting masih dapat ditemukan. Fondasi bangunan, lantai batu, kolam penampung air, serta tangga menuju bekas pusat aktivitas militer masih berdiri kokoh. Struktur ini memberikan gambaran nyata bagaimana kawasan tersebut pernah menjadi basis pertahanan di tengah hutan perbukitan.
Baca Juga: Tas Pelepah Pinang Aceh Selatan: Dari Limbah Jadi Peluang Ekonomi Kreatif Desa
Pejabat Keuchik Gampong Panton Luas, Ismaidi, mengatakan bahwa pengembangan wisata ini berangkat dari keinginan masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal. “Kami mengembangkan bivak peninggalan kolonial Belanda sebagai destinasi pariwisata karena menjadi potensi meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya kepada Duta Wisata Kabupaten Aceh Selatan, Najman Riadhi yang Diterima KOALISI.co, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah melalui pembentukan kelompok sadar wisata. Warga mulai merancang pengembangan kawasan, termasuk rencana pembangunan replika bivak serta pengembangan bumi perkemahan di sekitar lokasi. “Kami berharap wisata sejarah ini dapat menarik wisatawan berkunjung ke Aceh Selatan, khususnya Gampong Panton Luas,” kata Ismaidi.
Namun, ia menegaskan bahwa pengembangan destinasi tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Masyarakat berharap adanya dukungan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk mengembangkan wisata sejarah ini agar lebih maksimal,” tambahnya.
Selain situs Bivak Belanda, Gampong Panton Luas juga memiliki potensi wisata lain yang tidak kalah menarik. Lokasinya yang berada di dataran tinggi menjadikan kawasan ini sebagai titik pandang alami ke arah Samudra Hindia. Selain itu, terdapat objek wisata seperti air terjun, Gua Kalam, hingga Puncak Grapella yang sebelumnya sempat menjadi tujuan wisata favorit.
“Gampong Panton Luas memiliki potensi pariwisata yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik,” ujar Ismaidi. Ia optimistis, dengan pengelolaan yang tepat, desa ini dapat menjadi salah satu destinasi unggulan di Aceh Selatan.
Upaya pelestarian lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan ini. Pada Februari lalu, KPH Wilayah IX Aceh bersama masyarakat setempat menggelar kegiatan penghijauan di area Bivak Belanda. Penanaman pohon dilakukan sebagai langkah menjaga kelestarian alam sekaligus memperindah kawasan wisata.
Baca Juga: Tugu Kupiah Meuketop Meulaboh Jadi Ikon Wisata dan Simbol Sejarah Aceh Barat
Dukungan terhadap pengembangan wisata ini juga datang dari kalangan generasi muda. Duta Wisata Kabupaten Aceh Selatan, Warisatul Ambia, menilai bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengembangan destinasi berbasis sejarah merupakan langkah strategis.
“Aksi nyata bersama masyarakat desa Panton Luas untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan dengan menerapkan prinsip sapta pesona dapat menjadi terobosan penting,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsep wisata berbasis lingkungan harus terus diperkuat agar memberikan manfaat jangka panjang.
Senada dengan itu, Najman Riadhi menyebut bahwa pengembangan Bivak Belanda merupakan bentuk kontribusi generasi muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Ini merupakan wujud nyata peran generasi muda dalam membangun ekonomi masyarakat. Bersama kita peduli, bersama kita bangun, dan bersama kita lestarikan,” katanya.
Warisatul juga menegaskan bahwa nilai historis kawasan ini menjadi daya tarik utama. “Bivak Belanda merupakan peninggalan sejarah masa kolonial yang menunjukkan bagaimana wilayah ini pernah menjadi bagian dari strategi militer Belanda,” ujarnya.
Selain nilai sejarah, keunggulan geografis kawasan ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Dari puncak Bivak Belanda, pengunjung dapat menikmati panorama luas Kecamatan Tapaktuan dengan latar Samudra Hindia yang membentang. “Dengan lokasi yang berada di ketinggian, pengunjung dapat menikmati pemandangan yang luar biasa indah,” tambah Warisatul.
Ke depan, masyarakat berharap kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga pusat edukasi bagi generasi muda. Melalui pengenalan sejarah secara langsung di lapangan, diharapkan nilai-nilai perjuangan dan kearifan lokal dapat terus diwariskan.
Baca Juga: Jejak Benteng Perang di Sabang, Wisata Sejarah Kota 1000 Benteng yang Sarat Makna
Pengembangan Wisata Bivak Belanda menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan generasi muda dapat menghidupkan kembali situs sejarah yang hampir terlupakan. Dari reruntuhan masa lalu, kini lahir harapan baru untuk masa depan ekonomi dan pariwisata Aceh Selatan.
Dengan potensi yang dimiliki, Bivak Belanda di Gampong Panton Luas diyakini mampu menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di wilayah barat selatan Aceh. Tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami jejak sejarah yang penuh makna.

