Catat! Ini Jam Buka Perpustakaan Aceh Selama Ramadan

KOALISI.co - Perpustakaan Wilayah (Puswil) Aceh tetap membuka layanan bagi masyarakat selama bulan suci Ramadan. Sejak awal Ramadan, perpustakaan yang kerap dijuluki “Mal Baca” itu ramai dikunjungi mahasiswa dan pelajar yang memanfaatkan waktu untuk belajar maupun membaca.
Antusiasme pengunjung terlihat meningkat, terutama pada siang hingga menjelang sore hari. Banyak mahasiswa memilih mengerjakan tugas kuliah di perpustakaan karena suasananya yang tenang dan fasilitasnya yang lengkap.
Salah seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK), Meilinda, mengaku sudah hampir sepekan rutin datang ke Perpustakaan Aceh. Ia memanfaatkan waktu luang untuk menyelesaikan tugas perkuliahan maupun sekadar membaca buku.
Baca Juga: Ramadan di Perpustakaan: Mahasiswa Aceh Pilih Suasana Tenang untuk Belajar
“Sudah hampir seminggu ini saya ke sini. Biasanya untuk buat tugas atau baca buku. Suasananya nyaman, apalagi selama Ramadan lebih tenang,” ujar Mei, Rabu, 26 Februari 2026.
Selama Ramadan, jam layanan Perpustakaan Aceh mengalami penyesuaian. Untuk hari Senin hingga Kamis, perpustakaan buka mulai pukul 08.30 WIB hingga 15.00 WIB. Sementara pada hari Jumat, layanan dibuka pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB. Adapun pada Sabtu dan Minggu, perpustakaan melayani pengunjung mulai pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB.
Meski jam operasional lebih singkat dibanding hari biasa, pengunjung tetap memadati sejumlah sudut ruang baca. Sebagian besar memanfaatkan waktu untuk berdiskusi kelompok, mengakses koleksi buku, hingga menggunakan fasilitas komputer yang tersedia.
Baca Juga: Pustaka Digital DPKA Memudahkan Akses Literasi Masyarakat Aceh
Pengelola perpustakaan mengingatkan bahwa layanan akan tutup pada hari libur nasional dan cuti bersama. Masyarakat diimbau mencatat jadwal tersebut agar tetap dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan secara optimal selama Ramadan.
Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) Syaridin mengatakan, perpustakaan fisik di Aceh masih menjadi destinasi favorit masyarakat, terutama generasi muda, meski layanan digital telah tersedia.
Syaridin mengatakan dominasi pengunjung ke pustaka fisik tidak lepas dari kelengkapan koleksi dan kenyamanan membaca.
Baca Juga: DPKA Rutin Gelar Pustaka Keliling Untuk Gaet Minat Baca Siswa Aceh
Saat ini, DPKA memiliki lebih dari 200 ribu judul buku. Koleksinya sangat beragam, mulai dari buku anak, buku disabilitas, remaja, dewasa, buku umum, referensi, naskah kuno, hingga literatur bernuansa daerah.
“Sementara di pustaka digital baru tersedia sekitar lebih 14 ribu judul,” ujarnya.
Perbedaan jumlah koleksi ini menjadi salah satu faktor kenapa pengunjung lebih ramai datang langsung ke perpustakaan dibandingkan mengakses e-book digital. Menurut Syaridin, keterbatasan buku digital juga dipengaruhi keterbatasan anggaran untuk pengembangannya.
Selain koleksi, aspek kenyamanan juga membuat buku cetak tetap unggul.
“Sebagian orang lebih nyaman membaca buku fisik karena tidak terpapar cahaya layar atau harus scroll terus-menerus di gawai. Ada yang bisa betah berjam-jam membaca buku fisik, sementara di digital biasanya lebih cepat lelah,” jelasnya.

Meski begitu, pustaka digital tetap berfungsi penting, terutama bagi kalangan akademisi yang membutuhkan akses cepat.
“Dosen, tenaga pengajar, atau mahasiswa yang sedang menyusun karya ilmiah banyak yang mengakses digital karena tidak sempat datang langsung,” tambahnya. (adv)




Komentar