Ramadan di Perpustakaan: Mahasiswa Aceh Pilih Suasana Tenang untuk Belajar

KOALISI.co - Bangunan megah berlapis kaca yang memantulkan cahaya langit dan siluet kota. Dari balik dinding transparannya, pengunjung dapat menikmati pemandangan aliran sungai yang tenang serta kokohnya Jembatan Lamnyong. Inilah Perpustakaan Aceh, ruang literasi modern yang kini dikenal luas dengan sebutan “Mal Baca”.
Sejak resmi dibuka untuk umum pada Maret 2022, Perpustakaan Aceh menjelma menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat.
Gedung lima lantai ini menghadirkan suasana yang jauh dari kesan kaku dan sunyi. Interiornya dirancang estetik dengan perpaduan unsur kayu, dekorasi hangat, serta lampu-lampu bernuansa kuning keemasan yang menciptakan atmosfer nyaman dan menenangkan.
Baca Juga: Pustaka Digital DPKA Memudahkan Akses Literasi Masyarakat Aceh
Tak heran jika banyak pengunjung menyebut suasananya tak kalah dengan kafe kekinian. Memasuki lantai demi lantai, pengunjung akan menemukan rak-rak buku tertata rapi sesuai kategori. Koleksinya mencapai sekitar 265.000 eksemplar, mulai dari buku pelajaran, referensi akademik, novel, hingga literatur umum.
Area baca pun dirancang beragam untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Tersedia meja individu yang disekat bagi mereka yang ingin fokus, meja besar untuk diskusi kelompok, hingga area lesehan bagi yang ingin membaca santai.
Hampir setiap hari, perpustakaan ini ramai oleh aktivitas. Mahasiswa tampak berdiskusi mengerjakan tugas, pelajar serius membaca, dan sebagian pengunjung lainnya sibuk menelusuri katalog melalui mesin OPAC untuk memastikan ketersediaan buku yang mereka cari.
Baca Juga: DPKA: TMB Dorong Peningkatan Budaya Literasi Masyarakat
OPAC memudahkan pengunjung mengetahui lokasi buku hingga lantai dan rak penyimpanannya. Suasana semakin hidup saat bulan suci Ramadan. Sejak siang hingga menjelang berbuka, sudut-sudut ruangan dipenuhi mahasiswa, pelajar, hingga pekerja yang memanfaatkan ketenangan tempat ini.
Tak hanya menawarkan kenyamanan, fasilitas di Perpustakaan Aceh juga tergolong lengkap dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas dan anak-anak. Bagi pengunjung yang perlu mengikuti kuliah daring atau rapat virtual, tersedia ruang khusus bersekat kaca agar tetap leluasa berbicara tanpa mengganggu pengunjung lain.
Sementara itu, anggota perpustakaan dapat menggunakan komputer di ruang multimedia secara gratis, sehingga tidak perlu membawa laptop.
Baca Juga: DPKA Rutin Gelar Pustaka Keliling Untuk Gaet Minat Baca Siswa Aceh
Di salah satu meja diskusi, Najla, mahasiswa semester satu Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, terlihat fokus menyelesaikan tugas bersama teman-temannya. Baginya, perpustakaan ini bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul yang produktif.
“Kalau tidak ada jadwal di kampus, saya sering ke sini. Daripada nongkrong di kafe, lebih baik nongkrong di perpustakaan. Tempatnya nyaman, kondusif, dan estetik,” ujarnya Selasa, 24 Februari 2026.
Hal senada disampaikan Fatmawati, seorang pekerja swasta yang bekerja jarak jauh. Ia menjadikan perpustakaan sebagai tempat alternatif untuk mencari suasana kerja yang lebih tenang. Menurutnya, bekerja di tengah atmosfer literasi memberi semangat tersendiri.

“Kalau Ramadan begini enak sekali kerja di sini. Adem dan tidak bising. Kalau mata sudah lelah menatap komputer, saya keluar sebentar ke area outdoor melihat keindahan Lamnyong dari atas,” katanya.
Area luar gedung memang menjadi pelengkap pengalaman berkunjung. Dari sana, hamparan pemandangan kota dan aliran sungai memberi ruang jeda bagi pengunjung untuk menyegarkan pikiran.
Transformasi Perpustakaan Aceh menjadi “Mal Baca” menandai perubahan wajah perpustakaan masa kini. Ia bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang publik inklusif yang memadukan literasi, kenyamanan, dan gaya hidup.
Di tempat ini, membaca menjadi pengalaman yang hangat dan menyenangkan sebuah bukti bahwa perpustakaan dapat tumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan esensinya sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Sementara itu Sekretaris DPKA, Zulkifli mengatakan, kemampuan dan minat membaca merupakan fondasi penting dalam membangun wawasan serta pola pikir masyarakat.
Namun, hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Karena itu, keberadaan TBM menjadi sangat strategis untuk memperluas akses informasi dan mendorong masyarakat agar gemar membaca.
“Taman Bacaan Masyarakat adalah wadah penting dalam meningkatkan literasi. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap dapat menumbuhkan minat baca sejak dini, terutama bagi anak-anak, sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan mereka,” ujarnya. (adv)




Komentar