Kata Pemko Lhokseumawe Soal Angka Pengangguran

Kata Pemko Lhokseumawe Soal Angka Pengangguran
Kantor DPMPTSP dan Naker Lhokseumawe. Dok. Ist.

KOALISI.co – Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe melalui Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Tenaga Kerja (DPMPTSP & Naker) Kota Lhokseumawe, memberikan penjelasan terkait masih tingginya angka pengangguran di Kota Lhokseumawe.

Kepala DPMPTSP & Naker, Safriadi menyampaikan bahwa jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka pengangguran di Kota Lhokseumawe menunjukkan tren positif, yaitu menurun.

"Ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan dalam beberapa tahun terakhir," kata Safriadi kepada KOALISI.co, Jumat (1/4/2026) malam.

Baca Juga: Angka Pengangguran Lhokseumawe Tertinggi di Aceh

Namun demikian, kata Safriadi, jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Aceh, angka tersebut masih relatif lebih tinggi.

Menurut Safriadi, terdapat sejumlah faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.

Pertama, karakteristik Lhokseumawe sebagai wilayah perkotaan menjadikan daerah ini sebagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan jasa yang menarik banyak pencari kerja dari berbagai daerah.

“Hal ini menyebabkan jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja menjadi lebih tinggi dibanding daerah yang lebih agraris,” ujar Safriadi.

Baca Juga: Ini Status Izin 124 Usaha Burung Walet di Kota Lhokseumawe

Kedua, lanjut Safriadi, tingginya partisipasi angkatan kerja, khususnya dari lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi, juga menjadi tantangan tersendiri.

Safriadi mengatakan, banyak pencari kerja memiliki ekspektasi pekerjaan tertentu, sementara peluang kerja yang tersedia belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja sesuai kualifikasi tersebut.

Ketiga, masih terdapat ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Baca Juga: 18 Usaha Sarang Walet di Lhokseumawe Belum Miliki Izin

“Ini menjadi tantangan yang terus kami dorong melalui pelatihan berbasis kompetensi dan link and match dengan dunia usaha,” jelasnya.

Keempat, ia menilai perbandingan angka pengangguran antar daerah harus dilihat secara proporsional, karena struktur ekonomi masing-masing wilayah berbeda.

“Beberapa daerah dengan angka pengangguran lebih rendah umumnya memiliki struktur ekonomi yang berbeda, seperti dominasi sektor informal atau pertanian, sehingga tingkat pengangguran terbuka tampak lebih kecil,” pungkas Safriadi.

Komentar

Loading...