Feature

Perempuan-Perempuan Yang Menanam Harapan

Sri Muliana (34) memperlihatkan bibit yang disemai didalam botol bekas dan hamper siap tanam. Minggu, (15/3/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

Merubah Cara Bertani

Jika sebelumnya mereka menanam sekadarnya, kini mereka diperkenalkan pada pertanian organik, sebuah pendekatan yang tidak bergantung pada pupuk kimia dan relatif terjangkau bagi warga dengan sumber daya terbatas.

Dapur rumah tangga menjadi bagian penting dari proses itu. Air cucian beras yang biasanya terbuang kini dikumpulkan. Dari sana, mereka belajar membiakkan larutan yang dikenal sebagai Jakaba, cairan hasil fermentasi yang digunakan untuk menyuburkan tanah.

Perlahan, ruang-ruang domestik berubah fungsi. Botol plastik bekas air mineral disusun rapi di teras dan halaman rumah, menjadi media semai. Dari wadah sederhana itu, tunas-tunas hijau mulai muncul, menandai kembalinya kehidupan di atas tanah yang sempat mati.

Liana (36), Ketua Kelompok Indah Tani sedang membersihkan lahan bekas tutupan lumpur untuk menanam sayur organik. Didesa Seneubok Saboh, Kecamatan Pantee Bidari, Aceh Timur. Minggu, (15/3/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

Menanam Harapan di Atas Lumpur

Apa yang bermula dari upaya bertahan hidup kini tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.

Di antara deretan botol bekas berisi bibit kangkung, cabai, dan tomat, para anggota Indah Tani mulai membicarakan masa depan. Mereka tidak lagi ingin sekadar mencukupi kebutuhan sendiri.

Baca dihalaman selanjutnya >>>

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...