Feature

Perempuan-Perempuan Yang Menanam Harapan

Sri Muliana (34) memperlihatkan bibit yang disemai didalam botol bekas dan hamper siap tanam. Minggu, (15/3/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

“Kami memang masih menyemai di botol bekas sekarang. Tapi ke depan, kami ingin orang-orang datang ke sini mencari sayur organik kami,” ujar salah seorang anggota kelompok.

Bagi mereka, lumpur yang sebelumnya dianggap sebagai sisa bencana kini justru menjadi pijakan untuk membangun harapan baru. Tanah yang dulu tertutup dan mengeras perlahan dipulihkan dengan cara-cara sederhana, tetapi berkelanjutan.

Setiap tetes larutan organik yang mereka siramkan bukan sekadar pupuk, melainkan bagian dari proses panjang memulihkan kehidupan, baik tanah maupun diri mereka sendiri.

Liana dan Sri Muliana sedang menyemai bibit tanaman didalam botol-botol bekas. Minggu, (15/3/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

Semangat Adalah Modal Utama

Direktur Hiroe Aceh, Maimunzir, menilai apa yang dilakukan kelompok ini sebagai fondasi penting dalam proses pemulihan pascabencana.

Menurut dia, bantuan teknis atau material hanyalah pelengkap. Hal yang paling menentukan justru datang dari para penyintas itu sendiri.

“Semangat Liana dan kawan-kawan adalah modal utama. Bahkan lebih berharga daripada sekadar bibit,” ujarnya.

Di Seneubok Saboh, pemulihan memang belum sepenuhnya selesai. Jejak bencana masih terlihat jelas. Namun, di antara retakan lumpur yang mengeras, kehidupan perlahan menemukan jalannya kembali.

Dari lubang-lubang kecil yang digali dengan tangan sendiri, harapan itu kini tumbuh lebih hijau, lebih sehat, dan lebih tangguh...

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...