Rujak Kak Eti di Titik Nol Kilometer Sabang, Sensasi Boh Meria yang Legendaris

Seporsi Rujak Kak Eti khas Sabang yang menggugah selera, berisi aneka buah segar dengan siraman bumbu kacang pedas-manis serta sentuhan khas boh meria yang memberikan rasa sepat unik. dok Duta Wisata Kota Sabang, Humaira.

KOALISI.co - Bagi wisatawan yang berkunjung ke Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang, pengalaman wisata tidak hanya soal menikmati panorama laut dan berdiri di ujung barat nusantara. Ada satu daya tarik lain yang tak boleh dilewatkan, yakni kelezatan kuliner khas yang menggugah selera. Di antara beragam jajanan yang tersedia, Rujak Kak Eti menjadi salah satu yang paling dicari karena cita rasanya yang khas dan autentik.

Aroma segar buah-buahan yang berpadu dengan bumbu kacang yang legit langsung menyambut setiap pengunjung yang melintas di kawasan tersebut. Di tengah embusan angin laut Pulau Weh yang menenangkan, Rujak Kak Eti hadir sebagai pelepas dahaga sekaligus penambah energi setelah menikmati perjalanan wisata.

Keistimewaan rujak ini tidak hanya terletak pada racikan bumbunya, tetapi juga pada bahan utama yang digunakan. Kak Eti tetap mempertahankan penggunaan boh meria atau buah rumbia sebagai salah satu komposisi utama. Di tengah kondisi saat ini, di mana banyak penjual mulai meninggalkan bahan tradisional tersebut karena sulit diperoleh, Kak Eti justru tetap setia menjaga keaslian rasa.

Baca Juga: Jejak Benteng Perang di Sabang, Wisata Sejarah Kota 1000 Benteng yang Sarat Makna

“Boh meria nyan nakeuh kunci utama,” ujar Kak Eti saat ditemui di lokasi kepada Duta Wisata Kota Sabang, Humaira yang diterima KOALISI.co, Minggu (19/4/2026). Menurutnya, buah rumbia memberikan tekstur sepat yang khas dan menjadi ciri pembeda rujak tradisional Aceh dibandingkan rujak di daerah lain.

Proses pembuatannya pun masih dilakukan secara tradisional. Kak Eti dengan cekatan mengulek bumbu di atas cobek kayu berukuran besar. Campuran manisan nira, cabai rawit, serta bahan lainnya diolah hingga menghasilkan perpaduan rasa pedas, manis, dan sedikit sepat yang begitu menggoda selera. Setiap potongan buah dipastikan terbalut sempurna dengan bumbu, menciptakan sensasi rasa yang seimbang di setiap suapan.

Bagi masyarakat Aceh, kehadiran boh meria dalam rujak bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen penting yang menghadirkan cita rasa otentik. Tanpa rasa kelat dari buah rumbia, rujak dianggap kurang lengkap dan tidak memberikan sensasi yang “syur” sebagaimana yang diharapkan.

Lapak Rujak Kak Eti di kawasan Titik Nol Kilometer Sabang terlihat ramai dengan aneka buah segar, termasuk boh meria (buah rumbia) yang menjadi ciri khas rujak tradisional Aceh.

Selain cita rasa yang khas, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Dengan kisaran harga mulai dari Rp10 ribu per porsi, pengunjung sudah bisa menikmati rujak segar yang menggugah selera. Hal ini menjadikan Rujak Kak Eti sebagai pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Duta Wisata Kota Sabang, Humaira, turut memberikan apresiasinya terhadap kuliner tradisional tersebut. Ia menilai Rujak Kak Eti bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan.

“Rujak Kak Eti ini bukan hanya enak, tapi juga punya nilai tradisi yang kuat. Penggunaan boh meria menunjukkan bahwa kuliner khas Aceh masih terjaga keasliannya. Ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujar Humaira.

Baca Juga: Mie Bang Sam Sabang, Kuliner Legendaris Bernuansa Tempo Dulu yang Wajib Dicoba

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan kuliner seperti ini mampu memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang datang ke Sabang. Menurutnya, wisata tidak hanya soal pemandangan, tetapi juga tentang rasa dan cerita di balik setiap hidangan.

“Wisatawan yang datang ke Titik Nol Kilometer pasti ingin merasakan sesuatu yang khas. Rujak Kak Eti memberikan pengalaman itu, mulai dari proses pembuatannya hingga cita rasanya yang unik,” tambahnya.

Tidak sedikit pengunjung yang mengaku ketagihan setelah mencicipi rujak ini. Perpaduan rasa pedas dan manis dengan sentuhan khas buah rumbia membuat banyak orang ingin kembali mencicipinya saat berkunjung ke Sabang.

Pemandangan laut Sabang yang asri dari ketinggian, menjadi latar sempurna menikmati segarnya Rujak Kak Eti dengan cita rasa khas boh meria di kawasan wisata Pulau Weh. dok. Duta Wisata Kota Sabang, Humaira.

“Lagee na rasa nyan, mantap that!” ungkap salah satu pengunjung yang menikmati rujak tersebut sambil bersantai menikmati pemandangan laut.

Keberadaan Rujak Kak Eti di kawasan Titik Nol Kilometer juga menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Di saat banyak makanan modern bermunculan, cita rasa lokal justru tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Dengan mempertahankan resep dan bahan tradisional, Kak Eti tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjaga warisan budaya kuliner Aceh. Hal ini menjadi nilai tambah yang membuat rujak tersebut semakin istimewa.

Baca Juga: Cokbang Sabang, Cokelat Ikonik Pulau Weh yang Wajib Dicicipi Wisatawan

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sabang, menikmati Rujak Kak Eti sambil memandang tugu Kilometer Nol merupakan pengalaman yang sulit dilupakan. Perpaduan antara keindahan alam dan kelezatan kuliner menciptakan momen yang berkesan di ujung barat Indonesia.

Kehadiran Rujak Kak Eti tidak hanya memperkaya pilihan kuliner di Sabang, tetapi juga menjadi simbol ketahanan tradisi di tengah arus modernisasi. Dengan cita rasa yang khas, harga terjangkau, serta nilai budaya yang kuat, rujak ini layak menjadi salah satu destinasi kuliner wajib bagi wisatawan.

Komentar

Loading...