Mengenal Produk Madu Kelulut Pulo Meuria Aceh Utara

KOALISI.co - Dari pekarangan rumah ibu-ibu di Gampong Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara telah menghasilkan sebuah produk madu kelulut dari proses budidaya yang membutuhkan kesabaran.
Nama produknya adalah Kelulut Srikandi, rasanya cenderung asam sedikit manis, tetapi segar. Baunya agak menyengat aroma bunga dan teksturnya lebih encer dengan kadar air lebih tinggi.

Madu ini dihasilkan oleh kelulut, yaitu lebah kecil jenis trigona. Warna madu tersebut berbeda-beda, tergantung pakannya, ada yang coklat tua atau sedikit kemerahan, hitam pekat dan kuning terang atau sedikit keemasan.
Gampong Pulo Meuria adalah salah satu desa pedalam di Aceh Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bener Meriah di bagian selatan. Di desa inilah sebanyak 25 Ibu Rumah Tangga (IRT) telah membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dengan nama Lebah Srikandi pada 12 Februari 2024 lalu.
Sekretaris Gampong Pulo Meuria, M. Rian Mirza (28) mengatakan, kelompok ini lahir dari program yang didampingi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bina Rakyat Sejahtera (BYTRA) Aceh.
Baca Juga: Kolaborasi Masyarakat Tanam Pohon di DAS Krueng Pase Aceh Utara
Pihak pemerintahan gampong terlibat dalam menfasilitasi pembentukan kelompok ini hingga penerbitan Surat Keputusan (SK) Geuchik Gampong Pulo Meuria Nomor 08/PM/II/2024.
“Secara hirarki, KUPS ini adalah salah satu unit usaha dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Gampong Pulo Meuria,” kata Rian saat ditemui KOALISI.co, Juma’t (30/10/2026).

Dikatakan Rian, kelompok ibu-ibu ini dipilih karena dinilai lebih aktif dan disiplin dalam proses budidaya, baik dalam merawat rumah lebah maupun menanam bunga. Saat ini, para ibu-ibu tersebut sudah menjadikan usaha ini sebagai tambahan penghasilan.
“Kelompok ini telah menerima hibah dari lembaga pendamping BYTRA Aceh sebanyak 75 stup lebih, setiap anggota juga mendapat alat panen, perlengkapan pelindung diri, dan botol kemasan,” ujar Rian yang juga pengurus LPHD Gampong Pulo Meuria.
Metode budidaya kelulut ini dilakukan secara mandiri oleh setiap anggota kelompok di rumah masing-masing, sehingga setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat proses budidaya dan hasil produksi tergantung pada perawatan yang dilakukan.
Baca Juga: Masyarakat Desa Pulo Meuria Bentuk Tim Ranger untuk Jaga Hutan Desa
Rata-rata, dalam kondisi normal, satu stup bisa menghasilkan antara 6 sampai 7 ons madu dalam 1 bulan. Dalam ukuran liter, 6 ons hampir setara 500 mililiter madu. Harga jualnya sekitar Rp.270.000 – Rp.300.000 perliter. Itu berarti, setiap stup berpotensi mendatangkan penghasilan sekitar Rp.150.000 per bulan.
Saat ini, jelas Rian, produk madu kelulut pulo meuria sudah dipasarkan baik di tingkat lokal maupun keluar daerah, jika pesanannya dalam jumlah banyak, maka diperlukan waktu produksi.
“Yang ready kita jual saat ini dalam tiga ukuran kemasan, yaitu 50 mililiter seharga Rp30.000, 110 mililiter seharga Rp50.000 dan 220 mililiter seharga Rp100.000, untuk pemesanan bisa kunjungi Instagram kami yaitu lphd_pulomeria” jelas Rian.
Sementara itu, salah satu anggota kelompok, Leni (34) yang diwawancara mengaku sudah bergabung sejak kelompok ini dibentuk. Ia tertarik karena mendapat ilmu baru tentang budidaya kelulut dan bisa menambah penghasilan.
“Kini saya memiliki sekitar 10 stup, di pekarangan rumah dan di kebun saya. Sebagian stup itu sudah saya budidayakan sebelum bergabung dengan kelompok,” jelas Leni.
Baca Juga: Mengenal Hutan Desa Pulo Meuria Aceh Utara
Leni menjelaskan bahwa lebah membutuhkan bunga sebagai makanan, sehingga anggota harus menanam berbagai tanaman bunga di sekitar rumah. Dan kini banyak tanaman bunga di sekitar rumah warga dan ada pula pakan alami dari hutan di sekitar desa.
“Bunga yang ditanam antara lain melati, mawar, asoka, bunga air mata pengantin dan sebagainya” sebut Leni.
Perawatan tidak selalu mulus. Menurut Leni, anggota menemukan hama seperti semut dan cicak di area stup. Namun mereka mengaku sudah tau cara mengatasinya, yaitu mengoleskan oli dan kapur cicak di bagian yang dihinggapi hewan tersebut.
Leni menjelaskan cara panen madu kelulut. Pemanen memakai alat pelindung diri, lalu madu diambil dengan alat sedot dan ditampung kedalam wadah bersih. Setelah itu madu disaring, kemudian dimasukkan ke dalam botol, dan siap dipasarkan.

Untuk menjangkau pembeli, Leni bercerita bahwa anggota kelompok mereka telah mengikuti pelatihan membuat poster, brosur, dan video promosi lewat aplikasi Canva dan CapCut yang difasilitasi oleh BYTRA Aceh.
Baca Juga: BYTRA Distribusi 1.800 Bibit untuk Rehabilitasi Kebun Terdampak Bencana di Langkahan
Selama aktivitas wawancara di lokasi, diperoleh informasi bahwa madu kelulut berkhasiat untuk pengobatan alternatif terhadap penyakit, diantaranya diabetes, mata rabun, luka gores, sobek, bakar, nyeri sendi, fisik cepat lelah, lemah syahwat, demam, flu, batuk, kurang nafsu makan (terutama pada anak) hingga sakit lambung.
Leni punya harapan untuk menambah jumlah stup agar produksi meningkat. “Kami ingin usaha ini terus dikembangkan, mulai dari menambah jumlah stup hingga memperluas pemasaran, karena madu yang kami jual terjamin 100% asli,” harap Leni.
Madu kelulut Pulo Meuria memang belum besar. Hasil panennya masih hitungan liter. Namun dari halaman rumah di desa pedalaman Aceh Utara ini, para ibu anggota kelompok telah membuktikan bahwa usaha bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu sebuah stup, sekuntum bunga, dan kesabaran dalam proses budidaya tersebut bisa menjadi penghasillan tambahan bagi keluarga.




Komentar