Berdiri Sejak Abad ke-18, Masjid Tuha Ulee Kareng Jadi Ikon Wisata Religi Banda Aceh

KOALISI.co - Di balik hiruk pikuk perkembangan Kota Banda Aceh, Masjid Tuha Ulee Kareng masih berdiri teguh sebagai salah satu warisan bersejarah yang merekam perjalanan dakwah Islam di Aceh. Masjid tua yang berada di Kecamatan Ulee Kareng ini menjadi simbol kuat perpaduan nilai keagamaan, budaya, dan sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.
Dari tampilan luarnya, bangunan masjid terlihat sederhana dan menyatu dengan permukiman warga. Posisinya yang berada sangat dekat dengan badan jalan membuatnya mudah ditemukan. Meski demikian, di balik arsitekturnya yang sederhana tersimpan kisah panjang tentang perkembangan Islam yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Berdasarkan catatan sejarah, Masjid Tuha Ulee Kareng diperkirakan telah berdiri sejak penghujung abad ke-18 hingga awal abad ke-19 Masehi. Sejak masa Kesultanan Aceh, masjid ini menjadi pusat penyebaran syiar Islam sekaligus berperan penting dalam membentuk kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Ulee Kareng yang terus berlanjut hingga sekarang.
Baca Juga: Wisata Religi Masjid Giok Nagan Raya, Keindahan Batu Giok yang Memikat
Bangunan masjid berbentuk persegi empat dengan arsitektur khas masjid tua Nusantara. Atap limas bertingkat dua menjadi ciri khas yang membedakannya dari sejumlah masjid tua lainnya di Aceh, seperti Masjid Tuha Indrapuri maupun Masjid Tgk di Anjong yang memiliki tiga tingkat atap.
Keunikan lainnya terlihat pada bagian dinding yang tidak memiliki jendela. Sebagai pengganti ventilasi, bagian atas dinding dibuat menggunakan bilah-bilah kayu kecil sehingga sirkulasi udara tetap berjalan dengan baik di dalam ruangan.
Memasuki ruang utama, nuansa sejarah langsung terasa. Sebanyak 16 tiang kayu penyangga masih berdiri kokoh menopang bangunan. Tiang berbentuk bulat segi delapan tersebut merupakan struktur asli sejak masjid pertama kali dibangun.
Baca Juga: Masjid Agung Babussalam Sabang, Destinasi Wisata Religi yang Menenangkan di Gerbang Pulau Weh
Di bagian balok kayu yang melintang di atas tiang terdapat ukiran kaligrafi Arab yang masih terawat dengan baik. Tulisan tersebut memuat doa i'tikaf, doa qunut, hingga dua kalimat syahadat yang masih dapat dibaca hingga sekarang.
Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian besar struktur utama masjid tetap dipertahankan. Perubahan hanya dilakukan pada beberapa bagian untuk menyesuaikan kebutuhan, seperti pemasangan lantai keramik, pembangunan tempat wudu, penambahan ventilasi, serta penggantian atap dari anyaman rumbia menjadi seng.
"Tiang penyangga dan ukiran-ukirannya itu masih asli," kata Imam sekaligus pengurus Masjid Tuha Ulee Kareng, Teungku Saifuddin.
Baca Juga: Alquran Wangi 700 Tahun di Aceh Barat, Warisan Religi yang Sarat Sejarah dan Misteri
Di kawasan kompleks masjid juga terdapat sejumlah makam tokoh penting yang memiliki peran besar dalam sejarah Ulee Kareng. Salah satunya adalah makam Teuku Meurah Lamgapang, uleebalang III Mukim Ulee Kareng, beserta keluarga dan beberapa tokoh lainnya.
Berdasarkan catatan sejarah, pembangunan masjid berkaitan erat dengan kedatangan ulama asal Yaman, Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali atau yang lebih dikenal sebagai Habib Kuala Bak U pada tahun 1826.
Pada masa itu, Teuku Meurah Lamgapang mewakafkan sebagian tanahnya untuk membangun pusat ibadah sekaligus pusat pendidikan Islam bagi masyarakat. Kehadiran Habib Kuala Bak U kemudian semakin memperkuat syiar Islam di kawasan Ulee Kareng dan sekitarnya.

"Masjid ini berdiri setelah kedatangan ulama tersebut dan menjadi pusat pendidikan agama pada masa itu," ujar Saifuddin.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, fungsi Masjid Tuha Ulee Kareng sebagai lokasi utama pelaksanaan salat berjamaah mulai beralih setelah berdirinya Masjid Jami' Baitussalihin yang berada sekitar 100 meter dari lokasi.
Meski demikian, Masjid Tuha Ulee Kareng tetap aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Setiap sore hingga malam, masjid menjadi tempat belajar anak-anak melalui Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Selain itu, masjid juga rutin digunakan untuk pengajian ibu-ibu serta kajian keislaman mingguan maupun bulanan.
Baca Juga: Masjid Putih Lhoksukon Jadi Ikon Baru Wisata Religi Aceh Utara yang Megah dan Modern
Tidak sedikit warga maupun musafir yang singgah untuk menunaikan salat ketika melintas di kawasan tersebut. Pengelola juga menyediakan sajadah, mukena, dan Al-Qur'an yang dapat digunakan oleh para jamaah.
Komitmen masyarakat dalam menjaga keaslian bangunan menjadi salah satu alasan mengapa bentuk Masjid Tuha Ulee Kareng masih bertahan hingga sekarang. Beberapa tahun lalu sempat muncul rencana renovasi besar, namun warga sepakat mempertahankan bentuk aslinya sebagai warisan sejarah yang tidak ternilai. "Warga ingin masjid ini tetap seperti bentuk awalnya," kata Saifuddin.
Sementara itu, Duta Wisata Banda Aceh, Sagti Aprilian, mengatakan Masjid Tuha Ulee Kareng merupakan salah satu destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi karena memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan Islam di Aceh.
"Masjid yang telah berdiri sejak masa Kesultanan Aceh tersebut menjadi saksi perjalanan panjang dakwah Islam dan kehidupan sosial masyarakat setempat," kata Sagti, Jumat, (5/6/2026).
Menurut Sagti, keberadaan bangunan dengan arsitektur khas Aceh yang masih terpelihara hingga kini menjadi bukti kekayaan warisan budaya dan sejarah yang layak diperkenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan dari berbagai daerah. Dari sisi wisata religi, Masjid Tuha Ulee Kareng menawarkan suasana yang tenang dan penuh nilai spiritual.
"Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan langsung nuansa keislaman yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh selama berabad-abad," ujarnya.
Ia menambahkan, wisatawan yang datang tidak hanya dapat menikmati keindahan arsitektur dan nilai sejarah masjid, tetapi juga memperoleh pengalaman religi yang memperkaya pemahaman tentang identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah.




Komentar