Dari Warisan Sejarah ke Inovasi Digital, DPKA Aceh Bangun Masa Depan Literasi

Ruang belajar modern di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

KOALISI.co – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat mengakses pengetahuan, memperoleh informasi, hingga menyimpan data. Perubahan tersebut menuntut perpustakaan dan lembaga kearsipan untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Menjawab tantangan itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) terus menghadirkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan literasi, teknologi, dan pengelolaan arsip modern sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Transformasi tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat budaya literasi sekaligus membangun tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan berbasis digital. Melalui pengembangan layanan perpustakaan modern, digitalisasi koleksi, hingga penguatan sistem kearsipan elektronik, DPKA terus memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan tanpa dibatasi ruang maupun waktu.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul, SH, mengatakan tantangan pembangunan saat ini bukan hanya menyediakan akses informasi, tetapi juga memastikan masyarakat mampu memanfaatkan informasi tersebut secara bijak, kritis, dan produktif.

Baca Juga: Pemerintah Aceh Catat Prestasi Nasional, Digitalisasi Arsip Raih Nilai 91,51

"Perpustakaan dan kearsipan memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan. Di era digital seperti sekarang, tugas kami bukan hanya menyediakan buku atau menyimpan arsip, tetapi juga menghadirkan layanan yang mudah diakses, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat," ujar Syahrul, Senin (15/6/2026)

Sejalan dengan perkembangan tersebut, DPKA terus melakukan pembenahan layanan agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern. Gedung perpustakaan yang berada di Banda Aceh kini berkembang menjadi pusat aktivitas literasi yang ramai dikunjungi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, guru, komunitas, hingga masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan berbagai gagasan kreatif.

Selain menyediakan ratusan ribu koleksi buku cetak, DPKA juga menghadirkan berbagai fasilitas modern seperti ruang baca yang nyaman, ruang teknologi informasi, co-working space, ruang multimedia, Aceh Corner, hingga Kid's Corner yang dirancang khusus untuk menumbuhkan minat baca anak sejak usia dini.

Baca Juga: DPKA Aceh Perkuat Literasi dan Digitalisasi Arsip, Wujudkan SDM Unggul di Era Transformasi Digital

Kini, perpustakaan tidak lagi identik dengan suasana yang kaku dan sunyi. Sebaliknya, perpustakaan telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mendorong lahirnya kreativitas, inovasi, serta pertukaran ide di berbagai bidang.

Menurut Syahrul, konsep perpustakaan modern harus mampu menjadi ruang belajar sepanjang hayat yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Kami ingin perpustakaan menjadi ruang yang hidup. Masyarakat datang bukan hanya untuk membaca buku, tetapi juga berdiskusi, belajar bersama, melakukan penelitian, hingga mengembangkan berbagai ide kreatif yang bermanfaat bagi pembangunan daerah," katanya.

Baca Juga: Transformasi Besar DPKA Aceh, Perpustakaan Kini Jadi Ruang Belajar, Kolaborasi, dan Inovasi

Sebagai bagian dari transformasi digital, DPKA juga menghadirkan layanan perpustakaan digital melalui aplikasi iPustakaAceh. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat mengakses ribuan koleksi buku elektronik hanya melalui telepon pintar tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.

Melalui iPustakaAceh, masyarakat dapat menikmati berbagai koleksi buku pengetahuan umum, pendidikan, agama, sejarah, budaya, sastra, teknologi, hingga pengembangan diri kapan saja dan dari mana saja. Layanan ini menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu maupun jarak untuk memperoleh referensi berkualitas.

DPKA juga secara rutin memperbarui koleksi digital agar bahan bacaan yang tersedia selalu relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan akademik, dan dinamika masyarakat.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul SH

Transformasi yang dilakukan DPKA tidak hanya menyentuh layanan perpustakaan. Di sektor kearsipan, modernisasi juga terus diperkuat melalui penerapan sistem pengelolaan arsip elektronik yang mendukung reformasi birokrasi dan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Menurut Syahrul, arsip memiliki nilai strategis sebagai memori institusi yang menjadi dasar dalam proses administrasi, pelayanan publik, hingga pengambilan kebijakan.

"Arsip merupakan memori institusi. Seluruh proses pembangunan, kebijakan, dan pelayanan publik harus didukung oleh sistem kearsipan yang tertata dengan baik agar informasi dapat ditemukan secara cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan," jelasnya.

Baca Juga: Trauma Healing DPKA Aceh, Cerita Penuh Harapan untuk Anak-anak Terdampak Bencana

Komitmen tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Berdasarkan hasil evaluasi reformasi birokrasi, tingkat digitalisasi arsip Pemerintah Aceh berhasil meraih nilai 91,51 dengan predikat A (Sangat Memuaskan). Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan arsip berbasis digital di Aceh terus berkembang dan mendukung terciptanya birokrasi yang profesional, efektif, serta akuntabel.

Selain memperkuat tata kelola pemerintahan, DPKA juga menjalankan misi pelestarian budaya melalui program digitalisasi manuskrip kuno Aceh. Berbagai naskah bersejarah yang memuat ilmu agama, hukum adat, sastra, sejarah, hingga catatan perdagangan internasional terus diidentifikasi, dikonservasi, dan dialihkan ke dalam format digital.

Digitalisasi manuskrip menjadi langkah strategis untuk menjaga kelestarian dokumen asli sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kekayaan intelektual Aceh tanpa mengurangi keaslian naskah fisiknya.

Baca Juga: Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Rak Buku, Librari Teater DPKA Jadi Magnet Baru Literasi

"Warisan budaya merupakan identitas bangsa. Melalui digitalisasi manuskrip dan arsip sejarah, kami ingin memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat mempelajari perjalanan panjang peradaban Aceh," kata Syahrul.

Tidak hanya fokus pada pengembangan layanan dan pelestarian arsip, DPKA juga aktif menyelenggarakan berbagai program literasi yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, hingga organisasi masyarakat. Beragam kegiatan seperti bedah buku, pelatihan kepenulisan, seminar, literasi digital, lomba membaca, diskusi publik, hingga kegiatan mendongeng bagi anak-anak rutin dilaksanakan untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Seluruh program tersebut merupakan implementasi konsep Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, yakni menjadikan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan akses terhadap informasi, pendidikan, keterampilan, dan pengembangan kapasitas diri.

DPKA meyakini bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, menyelesaikan persoalan, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat.

Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak terus diperkuat, mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, komunitas literasi, organisasi kepemudaan, hingga berbagai lembaga lainnya untuk menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Syahrul menegaskan bahwa membangun budaya literasi merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Aceh di masa depan.

"Daerah yang maju bukan hanya karena pembangunan infrastrukturnya, tetapi juga karena masyarakatnya memiliki budaya belajar yang kuat. Literasi adalah fondasi utama untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global," ujarnya.

Ke depan, DPKA Aceh akan terus memperluas inovasi layanan berbasis digital, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkaya koleksi perpustakaan dan arsip, serta memperkuat sistem pengelolaan informasi yang terintegrasi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen mendukung visi Pemerintah Aceh dalam membangun birokrasi yang modern sekaligus menciptakan masyarakat yang cerdas, produktif, adaptif, dan berdaya saing.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh membuktikan bahwa perpustakaan dan kearsipan tetap menjadi pilar penting pembangunan. Tidak hanya menjaga warisan sejarah dan pengetahuan, tetapi juga menjadi pusat inovasi, penguatan literasi, serta transformasi digital yang mendukung kemajuan Aceh.

Melalui berbagai inovasi yang terus dikembangkan, DPKA Aceh semakin menegaskan perannya sebagai motor penggerak literasi dan transformasi kearsipan di Tanah Rencong. Dengan layanan yang semakin modern, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, DPKA optimistis mampu melahirkan generasi Aceh yang cerdas, adaptif, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Komentar

Loading...