In-Depth

Menanam Rumah di Ladang Bencana

Salah satu tenda darurat yang ditempati salah satu warga di Desa Pantee Kera, Kecamatan Simpang Jernih. Jumat, (10/4/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

“Saat ini untuk memenuhi kebutuhan berharap dari bantuan. Selebihnya saya kerja apa saja yang penting cukup untuk sehari-hari,” ujarnya.

Lahan yang dulu menjadi sumber penghidupan belum dapat dimanfaatkan kembali. Tanpa alat, modal, dan kepastian bantuan, pemulihan berjalan lambat.

Berbagai program seperti peremajaan sawit rakyat, pengembangan kakao, padat karya, dan relaksasi pembiayaan memang disebut tersedia. Namun implementasinya belum merata dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Sekda Aceh Dorong Percepatan Pemanfaatan Kayu Hanyutan Pascabanjir

Relaksasi kredit hanya berlangsung tiga bulan, sementara pemulihan sektor perkebunan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Relokasi yang masih menggantung

Pemerintah menyatakan telah menyiapkan lahan relokasi, namun hingga kini prosesnya belum berjalan optimal.

Salah satu huntara tipe insitu yang sudah selesai, dibangun berdekatan dengan bangunan lama yang sudah diterjang banjir tepatnya di Desa Jambo Labu, Kecamatan Pantee Bidari. Minggu, (15/3/2026). Foto: Zulkifly/KOALISI.co.

Di Desa Pantee Kera, rencana relokasi ke wilayah yang lebih tinggi terhenti pada penetapan lokasi. Sementara itu, pembangunan huntara tetap dilakukan di lokasi lama yang rawan.

“Sempat ada pembahasan pindah ke tempat yang lebih tinggi, tetapi tidak ada kelanjutan dari pemerintah,” kata Kepala Desa Pantee Kera, Sabilah.

Kondisi ini menunjukkan kebijakan yang tidak sinkron, di mana relokasi belum jelas sementara pembangunan tetap berlangsung di wilayah berisiko.

Baca dihalaman selanjutnya >>>

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...