In-Depth
Menanam Rumah di Ladang Bencana

KOALISI.co - Pukul 09.30 WIB, matahari baru naik sejengkal di langit Desa Pantee Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Namun udara di dalam tenda biru terasa seperti tungku yang memanggang.
Sani (28) menyeka keringat di dahinya dengan ujung pakaian yang mulai kusam. Debu menempel di kulitnya. Di sudut gubuk darurat berukuran sekitar 4x4 meter, anak laki-lakinya duduk di lantai kayu tanpa alas. Lalat berdengung di sekitar sisa makanan menjadi satu-satunya latar suara bagi kehidupan yang seakan berhenti sejak bencana terjadi.
Empat bulan telah berlalu sejak banjir bandang menghantam kawasan ini. Waktu yang cukup bagi sebagian orang untuk melupakan tragedi. Namun bagi Sani dan ratusan keluarga lain yang tinggal di bantaran Sungai Lokop dan Sungai Lesten, empat bulan terasa seperti jeda yang tak pernah benar-benar bergerak.
Baca Juga: Safrizal Tegaskan Pembersihan Lumpur Pascabanjir di Aceh Masih Berlanjut
Gubuk darurat yang menjadi tempat Sani dan puluhan kepala keluarga lainnya berteduh dibangun di atas lumpur yang sudah mengeras. Lokasinya hanya sekitar 70 meter dari sungai yang pernah meluap dan menyapu rumah mereka pada akhir November lalu.
“Kalau dulu hujan itu berkah bagi tanaman kami, sekarang jadi was-was bahkan ancaman, karena air bisa naik lagi kapan saja,” kata Sani, Jumat, 10 April 2026.
Angka besar di atas kertas
Pemerintah Kabupaten Aceh Timur mencatat total kerugian akibat bencana hidrometeorologi tahun 2025 mencapai Rp9,5 triliun di berbagai sektor. Di sektor pertanian saja, kerugian disebut mencapai Rp627 miliar.
Baca dihalaman selanjutnya >>>




Komentar