Minyak dan Gas Langka di Aceh Utara

“100 neuk, kadang 50 neuk sagai sigoe itamong gas, pane sep,” ujar Pak Lek. Artinya, 100 tabung, kadang hanya 50 tabung sekali masuk, mana cukup.
Pak Lek menjelaskan, biasanya gas tersebut diantarkan ke pangkalannya 1–2 kali dalam seminggu.
Di pangkalan lain, Buk De (nama samaran) menyebutkan gas masuk hari ini, namun semua sudah ada pemiliknya.
Bahkan, katanya, ada pedagang kecil yang biasa berjualan di kantin sekolah harus libur karena tidak ada gas.
“Gas nanti masuk, tapi semua sudah ada namanya,” tutur Buk De.
Baca Juga: Warga Aceh Utara Keluhkan Kurangnya Pasokan Gas LPG 3 Kilo
Bukan hanya di pangkalan, KOALISI.co juga mencoba mencari keberadaan gas di pedagang eceran yang biasanya mendapatkan stok dari pangkalan dan menjual dengan harga sedikit lebih tinggi, yaitu Rp25.000–Rp35.000, namun stok di sana juga kosong.
“Kosong, Bang. Banyak yang cari gas dari tadi, sayang kita lihatnya,” pungkas seorang pedagang eceran tersebut.
Untuk diketahui, nama asli pemilik dan lokasi pangkalan tidak dituliskan secara rinci untuk menjaga keberlangsungan usaha warga. Berita ini disajikan hanya untuk menggambarkan kondisi kelangkaan BBM dan gas yang terjadi di lapangan.




Komentar